Saturday, January 27, 2007

Siapa yang Tahu

Fiuh..., hari ini panas sekali. Mungkin sebaiknya aku pergi ke taman untuk berteduh. Bisa sekalian istirahat. Tapi sebentar, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di koridor. Ada apa ya? Ah, sebaiknya kulihat dulu.

“Ada apa, sih? Kok rame banget?”

“Biasa. Itu, si Biang Kerok bikin ulah lagi.”

“Sekarang apa dia yang buat?”

Berantem sama Riki. Gara-gara Vega nggak mau jadi pacarnya.”

“Vega?”

“Iya, Vega.”

“Terus?”

“Nah, Vega ‘kan minta tolong Riki untuk njelasin ke anak itu. Eh, nggak tahunya dia nggak terima. Katanya Riki merebut pacarnya. Nah, Riki jelas nggak terima. Kecuali dia, hampir semua orang tahu kalau si Riki itu sepupu Vega. Konyol banget nggak sih tuh anak. Sebel deh. Mentang-mentang jagoan kampus, apa yang dia mau harus dapat.”

Hehe....lagi-lagi rebutan perempuan. Dan, lagi-lagi Vega yang jadi rebutan. Aku heran, apa sih yang diperebutkan? Aku lihat Vega gadis yang biasa saja. Parasnya tidak terlalu cantik bila dibandingkan dengan artis Dian Sastro atau bahkan Ida Iasha (masih ingat?). Sudah mahasiswa, kok masih saja seperti anak kecil.

Hmm, Vega. Yang kuingat dari gadis itu adalah sejak SMA dulu Riki sering berkelahi dengan para cowok-cowok yang rebutan untuk jadi pacarnya Vega. Vega-nya sendiri emoh dengan mereka. Sejak Vega tinggal dengan Riki, sahabatku, ketika itu Vega kelas satu SMP, jadi sering berkelahi karena membela Vega yang merasa diteror. Vega yang bersepupu dengan Riki dari pihak ibu itu dua tahun lebih muda dengannya. Karena itu Riki sangat melindunginya karena sudah dianggap seperti adik sendiri.

Kami memang satu SMP, satu SMA dan satu universitas. Hanya berbeda fakultas dan jurusan. Aku di Geografi dan Riki di Fisika, kami di Fakultas MIPA sedangkan Vega di Fakultas Sastra jurusan Bahasa Perancis. Hehe, tadinya Vega ingin bersama Riki, tapi karena dia gagal jadi dia memilih jurusan itu. Dan sejak itu dia mulai sering berganti pacar. Cepat bosan katanya. Entahlah.

“Remi, tunggu!”

“Ada apa Rik? Buru-buru banget. Eh, lo nggak apa-apa ‘kan habis berkelahi tadi?”

“Nggak, nggak apa-apa kok. Eh, Vega tadi nyariin lo.

“Ada apa? Kok tumben nyariin?. ‘Kan sudah ada kau, buat apa dia cari aku lagi?”

“Mana aku tahu. Yang jelas dia sedari tadi mencarimu. Entah, ada perlu apa. Cepat cari sana. Aku takut dia marah lagi. Dia kangen tuh sama kamu.”

“Apa sih? Baiklah, dia ada dimana?”

“Di kantin. Cepat sana pergi.”

Segera aku pergi ke kantin untuk mencarinya. Tapi, dimana dia? Ah, itu dia yang sedang melambaikan tangannya. “Ada apa mencariku?”

“Nggak, nggak ada apa-apa kok. Cuma ingin ketemu kamu aja. Emang nggak boleh? Eh, Remi, bisa nggak aku minta tolong?”

Ngapain?” tanyaku.

“Bisa nggak kamu kalau datang ke rumah pakai baju yang agak rapi sedikit?”

“Kenapa? Aku ‘kan sudah biasa seperti ini, toh kalau ke rumah Riki juga seperti ini. Selama ini nggak ada yang protes. Kok baru sekarang protesnya?”

“Iya, Tante perhatiin kamu. Dia bilang, kok kamu sekarang kelihatan tambah belel. Cakepnya ilang.

“Kok Riki nggak bilang, ya? Kapan Tante ngomongnya?”

“Nggak tahu tuh. Ya, sekitar semingguan ini lah.”

“Ah, nggak percaya. Jangan-jangan kamu bohong?” tanyaku menyelidik.

Enggak! Suer deh. Lagian, ngapain juga aku bohong ke kamu. Apa untungnya coba? Ya sudahlah kalau kamu nggak percaya. Yang penting aku sudah bilang, tugasku selesai.”

“Hehe... marah. Hey, jangan ngambek gitu dong.

“Siapa yang ngambek! Dibilangin malah nuduh orang. U-uh.”

“Lho kok jadi marah?”

“Siapa yang marah. Huh, dasar!” katanya sambil membuang muka dan meninggalkanku yang ‘terpesona’ dengan kemarahannya.

Lah, sudah jelas kau yang marah, pakai mengelak segala. Hehehe..., ada-ada saja kau Vega.

Malamnya ketika aku datang ke rumah Riki untuk mengambil salah satu catatan kuliahku yang dipinjamnya kulihat Vega sedang bersama dengan teman-temannya seperti biasa. Tertawa cekikikan dan bercanda yang sampai membuatku geleng kepala karena suara mereka terdengar hingga di kamar Riki yang berada di lantai dua.

“Kenapa? Berisik ya? Biarin aja. Mereka memang seperti itu kalau sudah akhir pekan. Kerjaannya memang cuma ngerumpi. Aku sendiri juga heran, apa mereka tidak punya pekerjaan yang lain.”

“Eh, Rik, Vega sudah punya pacar belum?”

“Heh? Tumben nanyain. Memangnya kenapa? Setahuku sih dia belum punya pacar lagi. Naksir?” tanyanya dengan semangat.

“Memangnya boleh?” tanyaku penasaran.

“Boleh-boleh saja. Itu menurutku, tapi bukan aku yang memutuskan lho, Vega sendiri. Tapi menurutku sebaiknya jangan. Karena kupikir dia belum bisa pacaran lagi. Kau tahu kasusnya dengan Baron kemarin ‘kan? Selain itu juga karena dua minggu kemarin dia putus dengan Sai. Tiga hari dia menangis. Kamu juga lihat. Pokoknya, jangan dulu lah.” Katanya menggodaku.

“Iya, hampir lupa. Tadi siang Vega minta aku supaya kalau datang kemari lagi pakai baju yang rapi karena ibumu tidak suka aku pakai pakaian seenaknya. Benar?”

“Hah? Kok aku nggak tahu kalau mama bilang begitu? Hmm? Pantas, tumben kau kelihatan rapi. Sebentar ya.”

“Mau kemana?”

“Turun. Ambil minum sama makanan.”

“Yang banyak ya.”

“Dasar kemaruk.

Ah, aku jadi teringat kalau nanti akan pulang sedikit larut, jadi aku harus segera menelepon orang rumah agar tidak khawatir. “Rik, aku pinjam teleponnya sebentar ya?”

“Jangan lama-lama.”

Ketika kuangkat gagang telepon kudengar suara Vega sedang bicara dengan seseorang di telepon. Tidak sengaja kudengar. Aku lupa, telepon rumah Riki ‘kan di paralel. Satu di ruang tengah di bawah dan satu lagi di lantai dua depan kamar Riki.

Beneran kok. Dia ada disini.”

“Terus, gimana doinya?”

“Wuih, rapi banget. Rani aja sampai nggak percaya, tumben, katanya. Padahal gue cuma iseng aja bilang gitu sama dia. Kalo lo nggak percaya, kemari aja.”

“Gue denger katanya lo marah sama doi?”

“Nggak, lagi. Itu cuma bohongan, namanya juga akting, eh, ternyata dia nanggepinnya beneran. Beruntung deh gue.

“Aduh, yang lagi naksir berat. Emang sejak kapan sih lo naksir doi? Kok sampai segitunya.

“Sebenarnya sih gue naksir doi udah dari SMA. Cuma dia-nya aja yang nggak merasa. Heran deh, cuek banget gitu. Makanya itu gue bingung, sudah lebih dari selusin cowok yang gue bawa kemari, eh dia-nya cuma melengos aja. Cool. Sebel nggak sih. Apa gue tembak aja kali ya?”

Idih! Emang nggak ada cowok lain apa?”

“Habisnya....”

Lo udah minta tolong Riki belum?”

”Riki lagi. Dia ngetawain gue tahu. Dia bilang, anak itu nggak doyan pacaran.”

“Makanan kali, doyan. Terus?”

Ceweknya yang dulu aja, nangis nggak mau diputusin, eh, dia-nya cuek aja. Diam bagaikan karang. Lagian, masa’ gue dibilang masih kecil, nggak boleh, katanya.”

Duh, kacian deh lo.

“Ups.”

“Kenapa?”

“Eh, udah ya, Riki ngeliatin gue terus nih. Dagh.”

Cklek.

No comments:

Post a Comment