Monday, April 6, 2015

Doesnt' Really Matter What The Eyes is Seeing Cause I'm In Love With The Inner Being

Dear Diary,

Hai Di, udah lama Vella ngga nulisin kamu yah, banyak banget yang Vella mau ceritain ke kamu Di. Tadi pagi Vella sama temen-temen ngomongin cowok masing-masing. Di masih inget sama Evan kan? cowoknya Vella? Vella malu banget deh sama dia. Dia soalnya nggak kayak cowok-cowok temen Vella yang lain Di. Sebel deh sama Evan, bayangin deh Di semua minusnya Evan nih yah:

• Minus 10 karena dia nggak punya handphone, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain punya handphone.

• Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain biar sama-sama SMP udah boleh bawa sendiri!

• Minus 10 karena dia itu rambutnya cuma cepak biasa, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain itu rambutnya gaya abhies.

• Minus 10 buat dia karena dia itu nggak suka ketempat-tempat dugem Di, padahal Vella suka banget ke sana, malu banget nggak sih punya cowok kayak gitu.

• Minus 10 buat dia lagi Di, karena dia nggak punya satu pun jacket XSML, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain sering banget belanja disana, kalau dia sih paling pake bajunya bangsa bangsa jacket yang merek FILA (idih banget nggak sich Di!).

• Minus 10 banget (dan yang ini banget banget-banget) karena dia masih suka bawa makanan dari rumah buat makan siang ke sekolah! Gila yah Di, malu-maluin banget nggak sih!


Sumpah yah Di, Vella malu banget sama dia, kayaknya mau putus aja deh Di.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dear Diary,

Hari Ini valentine, pas Evan ke kelas Vella mau kasih kado, Vella cuma diem aja. Seharian itu Di, Vella ngindarin dia abis-abisan, dia bingung gitu kayaknya Di, kenapa Vella ngindar terus.

Sampe rumah dia nelepon Vella, Vella males tapi ngomong sama dia Di, Vella suruh pembantu bilang ke Evan kalau Vella belum pulang. Dia nelepon 4 kali hari itu tapi Vella males nerima.
Kira-kira 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Vella ngindarin Evan pake cara ke WC cewek lah atau ngumpet-ngumpet lah, dan di rumah Vella selalu nggak mau nerima telepon dari dia, kayaknya Vella bener-bener udah illfeel dan malu pacaran sama dia Di!

Akhirnya waktu itu hari Senin, seperti biasa pas di sekolah, Vella ngindarin dia. Pas pulang sekolah Vella ngumpul di kantin sama temen-temen Vella.
Mereka pada nanya kok Vella ngindarin Evan terus Vella diem aja, tapi setelah didesak akhirnya Vella ngaku juga Vella ngomong, "Ah bete banget gue sama tuh cowok, udah nggak ada modal mendingan gaul, dan mukanya setelah gue pikir-pikir biasa banget, ya ampun kok gue dulu mau yah jadi sama dia? dipelet kali yah gue!!"

Tiba tiba semua pada diem dan ngeliat ke arah punggung Vella, Vella bingung dan nengok Di, ya Tuhan Di, ternyata ada Evan di belakang Vella dan kayaknya dia denger yang Vella baru ucapin barusan. Vella cuma bisa diem tapi Vella sempet ngeliat Evan sebentar. Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus dia pelan-pelan pergi dari situ.

Vella diem aja, ada beberapa yang ngomong "Hayo loo Vel, dia denger lho!!"

Tapi ada juga yang ngomong, "Udahlah Vel, baguslah denger, nggak ada untungnya tetep sama dia, ntar elo juga bisa dapet yang lebih bagus."

Bener juga yah Di, ya udah Vella cuek aja, syukur deh kalau dia denger. Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Vella.

Dua hari pun berlalu Di, dan sejak saat Evan udah nggak berusaha nyamperin Vella di sekolah atau nelepon Vella. Tiap ketemu di sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Vella aja.

Seminggu berlalu, 2 minggu berlalu sejak hari itu, Vella mulai ngerasa ada sesuatu yang ilang Di, nggak tau kenapa Vella mulai ngerasa kehilangan sesuatu, kadang-kadang Vella suka bengong bingung sendiri, cuma Vella berusaha ilangin perasaan itu. Vella nggak tau kenapa jadi males kemana mana, pengennya sendiri aja, males ngapain. Semua orang jadi bingung kenapa Vella berubah jadi kayak gini. Vella sendiri juga nggak tau kenapa Di.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dear Diary,

Minggu malem nih Di, Ujan deres banget, Vella diem dan ngerenung di dalam kamar. Tiba-tiba di channel V ada lagunya Janet Jackson Di! Tau kan liriknya?

Doesn't really matter what the eyes is seeing,
Cause im in love with the Inner being.

Saat itu tiba-tiba Vella nangis Di, Vella baru sadar... Betapa baiknya Evan... Vella nangis senangisnya Di, karena Vella baru sadar betapa begonya Vella...

• Minus 10 karena Evan nggak punya HP Di, tapi plus 100 karena dia tiap malem rela jalan jauh ke wartel buat Nelpon Vella ngucapin selamat tidur setiap hari...

• Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17 Di, tapi plus 100 karena tiap malem minggu dia rela naik sepeda jauh dari kemang ke bona indah khusus ngapelin Vella biar ujan sekalipun...

• Minus 10 karena dia rambutnya cuma botak biasa dan nggak suka di spike, tapi plus 100 karena dalam keadaan rambut Vella apapun baik bagus maupun lagi jelek, mau salah potong atau salah blow atau salah model dia selalu bilang Vella cantik banget...

• Minus 10 karena dia nggak suka ke tempat dugem Di, tapi plus 100 karena dia rela nemenin Vella ke tempat-tempat kayak gitu, meski dia nggak suka dan rela dimarahin ortunya karena pulang pagi nemenin Vella... dengan naik taksi ke rumahnya...

• Minus 10 karena Evan nggak punya jacket XSML dan hanya punya jacket FILA biasa, tapi plus 100 karena kalau ujan di sekolah dia selalu minjemin Vella jacketnya meski dia sendiri kedinginan...

• Minus 10 karena dia bawa makan siang ke sekolah, tapi plus 100 karena ternyata nabung uang jajan makang siangnya buat beli kado valentine buat Vella...


Dari 60 minus yang Evan punya Di, dia punya 600 Plus di hati Vella... dari 1000 kekurangan Evan, dia punya semilyar kebaikan... Ya Tuhan Di, betapa begonya Vella yah... Vella yang beruntung sebenernya punya cowok Evan, dan Vella juga yang nyakitin Evan, padahal nggak pernah sekalipun dia nyakitin Vella. Malemnya Vella nangis lama banget Di.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dear Diary,

Vella ketemu sama Evan di sekolah. Vella kejar dia dan bilang Vella mau ngomong, Evan diem aja, tapi pulang sekolah dia nanya Vella mau ngomong apa. Vella kasih dia kartu buatan Vella, Vella cium pipi dia dan Vella bilang minta maaf karena Vella udah nyakitin dia. Dia cuma diem aja terus pulang... Vella cuma bisa diem karena sadar, Vella yang berbuat, Vella juga yang kehilangan... Sakit banget rasanya Di, Vella pulang sekolah nangis tapi juga sadar itu semua Vella yang bikin dan Vella pula yang nanggung resiko-nya...

Malem itu tiba tiba mama ngetok pintu kamar Vella, katanya ada telepon. Ternyata bener Di, itu Evan, dia udah maafin Vella, dia udah lupain semuanya... aduh Di, girang banget hati Vella, hi hi hi senengnya.

Nanti malem Evan mau kesini Di, dan Vella mau dandan secantik-cantiknya buat Evan, jadi Vella udahan dulu yah Di... thanx banget udah denger curhat-nya Vella, Vella belajar satu hal Di:

Hargailah apa yang kamu miliki sekarang,
Karena tanpa kamu sadari,
Kamu begitu beruntung telah memiliki-nya.

Selamat malem diaryku...

NB: Minus 10 Di, karena mukanya tidak tampan, tapi plus 100 karena hatinya luar biasa tampan...

"Doesnt' Really Matter what The eyes is seeing cause im in love with the Inner being."

*Anonymus

Friday, April 3, 2015

Ambience

Jika kelak kau mencariku
mungkin aku telah menjelma menjadi air mata sesalmu

Entah apa maksud Tuhan menciptakan kadar cemburu yang berlebihan
pada makhluk seperti perempuan

Aku menyesali perbuatanku
bukan tentang cemburu. bukan
tapi tentang harapan yang kuletakkan padamu, tuan
yang seharusnya kutujukan pada Tuhan

Aku iri pada puisi
dia mampu berbicara banyak hal dengan ribuan terkaan
tak seperti tangisan yang selalu disebabkan satu hal

*Hening Santoso
====

Mungkin pelitaku redup hingga jalanku pelan
takut tersangkut sesuatu yang melintang jalan
dan kamu terlalu lama menunggu, lantas menghilang

Mungkin pelitaku redup hingga sulit melihat ke depan
hanya sanggup melihat sejauh pelita kecil ini menyebarkan cahayanya
namun demikian, akan kujaga agar tak mengecil lantas mati

Mungkin pelitaku redup dan tak mampu menerangi jalan seterang bulan
hanya mampu seluas setapak kecil diantara pematang
namun itu cukup bagiku untuk berpegang

Cahaya diatas cahaya

Mudik Journey Episode Kesekian

Jakarta - Malang perjalanan epic.

Sekeluarga bareng termasuk adek. Kenapa epic? Karena perjalanan pergi dan pulang punya cerita sendiri yang sangat diingat.

Berangkat jam 3 sebelum subuh dari rumah. Ngeyel ga lewat tol Cipularang karena pengen ngerasain jalan subuh lewat Bogor - Puncak - Cianjur. Lhadalah malah kena macet di Parung karna kena pasar subuh. Lantas kena lagi di Ciawi, efek wiken. Akhirnya target jam 9 pagi sampe Bandung kelewat. Jadwal etape pun ikutan amburadul. Sampai Jogja seharusnya sesuai target jam 9 malam. Malah sampenya jam 12 malem, itu pun masih di pinggiran Jogja.
Ngiderin Jogja mulai dari Malioboro melipir ke daerah Keraton sampai nyaris hampir ga dapet penginapan. Beruntung masih ada yang buka. Hampir saja memutuskan untuk tidur di mobil aja. Lupa ada di daerah mana, tapi penginapannya agak "singup". Sepi. Kayaknya dulu penginapannya rame, ketauan dari besar dan banyaknya kamar. Saat itu lagi direnovasi. Wes masa bodo yang penting cepet rebahan. Masuk penginapan jam 2 pagi langsung turuuu....

Pagine jam 8 jemput di Stasiun Jogja, adek dan kakak yang nyusul naik kereta lantas lanjut ke Malang. Petualangan lebih seru dimulai.

Lepas Jogja ke timur lewat Purwantoro tembus Trenggalek. Cari jalan yg ga mainstream. Coba rute baru.
Berangkat dari Jogja lewat Solo kemudian belok ke arah Sukoharjo lantas terus ke arah Wonogiri. Awalnya mobil agak ngap karna bawa banyak orang dan barang. Tambah lagi jalanan mulai menanjak... Jalan mulai asik mendekati Purwantoro. Jalannya agak kecil tapi yang lewat bus besar. Naik turun kayak oscilator gelombang. Dan kejadian tak terlupakan.
Hampir masuk jurang gegara kaget diujung tanjakan setelah turun dikit jalan tiba2 "hilang" ga kliatan karna tiba2 belok. Sampe di pasar Purwantoro nyokap mutusin beli semangka, "buat bekal di jalan", katanya. Well, maklumin aja berhubung ac mobil juga cuma single blower dan ngga dingin2 amat. Biar seger.

Masuk kota Ponorogo berhenti sejenak. Makan. Baru kemudian lanjut. Sempet mikir buat mampir ke Pondok Pesantren Modern Gontor, tapi ngga jadi. Lanjut ke Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Wlingi lantas bendungan Karangkates. Poto2 lantas lanjut ke arah Malang. Pas melintas Ponorogo - Tulungagung jadi inget waktu dulu turing solo tahun baruan keliling Jawa. Temen bilang sinting, dan pas mampir di warung makan dibilang gila turing naik motor kecil sendirian, hehehehe....
Blitar - Malang kondisi jalan hampir mirip dengan lintas Bandung - Banjar, naik turun bukit jadi jalan meliuk-liuk.

Setelah urusan di Malang selesai, lanjut ke Surabaya mampir ke rumah paman. Baru kemudian pulang ke Jakarta. Lewat selatan lagi. Nah, kali ini rute yang diambil sedikit beda dari rute berangkat. Ngga lewat Malang lagi tapi lewat Mojokerto, Jombang lalu Madiun terus ke Solo. Pas sampe di Madiun sempet dicegat polisi karna nyalip di tanjakan. Salahnya karena melanggar marka jalan katanya. Beruntung dimaafin. Kejadiannya deket Lanud Iswahjudi. Di daerah berbukit situ. Berhubung adek dan lainnya pada pulang naik kereta, jadi cuma bertiga sama nyokap dan 1 orang kakak. Mogok pas tanjakan, jadilah 2 perempuan dorong mobil. Beruntung ada anak muda yg langsung bantuin dorong sampe mobil bisa hidup.

Sampe Magetan jalan agak tersendat karena lagi ada perayaan. Ntah apaan. Dan udara udah mulai terasa dingin khas pegunungan. Pas sampe Sarangan melipir sebentar di Telaga Sarangan. Poto2, nyokap sama kakak kayak nostalgia  gitu deh.

Kejadian lucu pas berhenti di Cemoro Sewu/Kandang. Ini gerbang masuk dan pos pertama untuk pendakian ke Gunung Lawu wilayah Jawa Tengah/Timur. Mampir karena kebelet. Pas beberes I just feel not right. Tiba-tiba tangan dan pantat berasa hilang. Karana saking dingin airnya sampe ga bisa ngerasa apa2. Mati rasa. Ngakak deh semua karena ngerasain hal yang sama juga.

Melintasi Gunung Lawu yang kedua kalinya bener2 seru. Ya naiknya, ya turunnya krn pas turun barengan dgn turunnya kabut. Jadi deg2 serrr....
Pertama kali lewat sini pas turing solo pake motor kecil itu. Sampe Solo ga ke arah Jogja. Karena dah terlalu mainstream. Ambil jalan kearah Boyolali - Magelang. Beberapa kali hampir nyasar karena keterangan di peta kurang jelas, jadi harus tanya sama penduduk lokal....heuheu....

Selepas Boyolali ambil jalur yang ada diantara Merapi - Merbabu yang ke arah Mungkid dan rasanya deg2an juga. Selain ga ada temen kendaraan lain juga bensin udah mulai tiris, sementara jarak masuh jauh dan ngga tau apakah akan ketemu SPBU atau warung yang jual bensin eceran. Dan godaan pas sampe simpang Ketep. Antara mau naik ke Ketep tapi ga bisa turun karena bensin habis atau dilewati aja utk tujuan lain kali. Akhirnya pilihan terakhir diambil.

Sampe di jalan lintas Jogja - Magelang merasa beruntung. 30 menit sebelumnya banjir lahar dingin yang besar lewat. Jadi cuma kebagian sisa-sisa dan kotornya. Banjir lahar bikin makin mantap ga lewat Jogja, toh juga jalur jalan terputus. Akhirnya ambil jalur ke arah Borobudur. Mampir sholat maghrib di masjid sebelum simpang Borobudur. Sekalian juga isi bensin.

Berhubung jaman itu google maps belum ngehits kayak sekarang, modal jalan ya nekat sama peta mudik keluaran Kementrian Perhubungan :D
Pas di mesjid selesai sholat ngobrol sama pasangan nekat. Udah cuma berdua, modal nekat dan pede, tapi ga berani tanya orang dan ga punya peta. Ngakunya dari Bekasi. Berangkat dari rumah orangtua di Solo dan mau ke Demak. Question: kok bisa nyasar sampe mo ke arah Borobudur itu piye??!
Beruntung punya peta mudik tahun sebelumnya yang udah ga dipake, jadi dihibahkan ke pasangan itu. Semoga selamat sampe rumah di Bekasi!
Selepas maghrib dan makan, lanjut perjalanan. Tapi kemudian terpaksa berhenti nginep di Purworejo karna dah kemalaman. Ngga sanggup nerus...
Besoknya, baru nerusi perjalanan pulang via Bandung. Alhamdulillah ga ada masalah lagi.

Nah, setiap kali perjalanan mudik, jalur selatan selalu menarik. Mungkin karna variasi jalan. Beda dengan pantura yang lurus2 aja. Apalagi tahun ini target tol Cikampek - Palimanan katanya kudu kelar sebelum lebaran mengantisipasi mudik... Tapi berhubung ga punya tradisi mudik pas lebaran, jadi kayaknya ga ngaruh juga sih. Dan tetep, mudik lewat selatan itu asyik. Selain bisa melipir pantai ketika menyusur jalur Gombong - Jogja, juga variasi kontur jalannya lumayan ngga bikin ngantuk. Untuk mudik berikutnya ke Malang, berharap bisa lewat selatan lagi. Kali ini pengen rute yg berbeda. Penasaran dgn Pacitan dan pantai selatan Trenggalek. Juga Pare, Batu dan alternatif jalur selatan lainnya.

Saturday, February 7, 2015

Paket data bermasalah: Indosat

Oke, setelah beberapa waktu lalu paket data bermasalah dengan Telkomsel, kali ini paket data yang bermasalah adalah dengan Indosat. Sudah cukup lama saya menggunakan nomor Indosat ini, telah lebih dari 10 tahun penggunaan.
Langsung saja ke pokok permasalahan.
Pada hari Rabu lalu (4 Februari) saya melakukan isi ulang sejumlah 50rb rupiah melalui ATM dan mendapatkan konfirmasi seperti gambar dibawah ini.


Menjadi aneh karena saya mendapat SMS yang bisa dilihat pada bagian bawah, yang saya terima pada hari Sabtu kemarin. Sebabnya, karena saya masih menggunakan paket internet, lantas pertanyaannya kenapa ada potongan pulsa diluar paket?
Paket internet apa yang saya gunakan? Bisa dilihat pada gambar dibawah.


Saya masih terdaftar di Paket Internet yang akan berakhir pada 21 Februari mendatang. Pada bagian bawah juga masih ada kuota dan masih bisa dipakai. Menjadi semakin aneh karena saya juga menerima pemberitahuan bahwa pulsa saya terpotong karena pemakaian internet. Bagaimana bisa?
Iseng saya coba cek pulsa hari ini dan mendapati benar bahwa pulsa saya terpotong.


Sementara penggunaan telepon saya terakhir adalah pada tanggal 4 Februari, itupun hanya untuk misscall.


Bagaimana caranya, punya paket internet yang masih aktif dengan kuota masih cukup sementara pulsa juga terpotong untuk penggunaan internet???
Ada apa dengan INDOSAT?

===================
update 10-02-2015
masih tetap pulsa terpotong dan paket internet masih aktif.



===================
Update 03 - 04 - 2015
Mohon maaf apabila baru diperbarui saat ini. Untuk permasalahan pulsa terpotong, buat saya sebenarnya masih menggantung karena tidak mendapat jawaban yang mencukupi. Hanya pengembalian pulsa. Ah, jika demikian, anggap saja sudah selesai walau pertanyaan masih belum terjawab.


Setelah pengembalian pulsa, layanan menjadi menurun. Tidak lagi secepat sebelumnya walaupun dengan setelan yang sama. Dan karena kecewa, saya memutuskan untuk saat ini tidak melanjutkan paket internet dari Indosat.

Monday, January 26, 2015

Me and People I’ve Met Today


My watch show it already 21.29 WIB, I decide to grab a taxi from office to Sudirman Station. Due to all day long Jakarta has been heavy rain I thought I can take a shortcut considering train schedule is only on 22.03 and 23.00.

I take on TransCab on 21.32. The driver quite friendly, his name is Suyanto. I think his age is 40 something, coming from small village in Bondowoso. He has been in Jakarta around 15 years, driving from one to another vehicle. “I can only driving, miss, I have no other skill,” he said. He starts driving starting from around 12.00 until dawn around 04.00.

“If I may know, where is the pool?” I ask.

“In Cibinong, miss, I lived there too.”

I nodded.

Conversation then moved about his family. After two years in Jakarta, he married a woman then decided to stay.

“You can speak Javanese?” I ask politely.

“Oh, I speak Maduranese, miss. At home I also speak Maduranese with my wife and children.”

“Oh, so your wife Eastern Javanese also? Can coming back together then I suppose.”

He laughs….

“My wife is native, Betawi,” he said with still a bit laugh.

I wonder….

“So she can speak Maduranese?”

“I teach her. I want her also can teach our child speak Maduranese.”

Why?

Then he speaks about his anxiety on the urbanization in the big city.

“It’s like they forget their roots. Too long live in Jakarta then forgot due to high cost to return, their kids lose their roots. I want my kids know where they come from, though I can’t bring them back to the village, their origins. Therefore I make them used with Madura culture, where I was born.”

22.05, and yet the train not coming.

This remind me with my students was. Much of them coming from Javanese but only few can speak barely with Javanese language even with the simplest word. Jakarta’s relation, study in the international school. And at home? Their parents were too busy to teach them their mother language. Or even, these kids rose by maid or nurse, to make it worst, raised by television. It could be television series (sinetron) with slang language raised them every day.

Sad, isn’t it?

When I open the door, Mr. Suyanto said, “Be careful miss, hope you have a nice day.”

Hopefully, Mr. And I will careful to raise my children so they not cut loose their root culture. So they understand where they come from.
Thank you, Sir. I learn something new tonight. Thank you God.

Shalihah S Prabarani, 23 Januari 2015

Monday, October 13, 2014

Wednesday, April 30, 2014

tertahan

pada sepenggal rasa ia tercekat
pada sepenggal asa ia tersedak

berbaris kata berkejaran dalam angan
menunggu antrian untuk diucapkan

mengumpulkan keberanian yang terserak
menawarkan harapan pada sang rindu

ah, ia belum datang
penghuni hati