Monday, January 26, 2015

Me and People I’ve Met Today


My watch show it already 21.29 WIB, I decide to grab a taxi from office to Sudirman Station. Due to all day long Jakarta has been heavy rain I thought I can take a shortcut considering train schedule is only on 22.03 and 23.00.

I take on TransCab on 21.32. The driver quite friendly, his name is Suyanto. I think his age is 40 something, coming from small village in Bondowoso. He has been in Jakarta around 15 years, driving from one to another vehicle. “I can only driving, miss, I have no other skill,” he said. He starts driving starting from around 12.00 until dawn around 04.00.

“If I may know, where is the pool?” I ask.

“In Cibinong, miss, I lived there too.”

I nodded.

Conversation then moved about his family. After two years in Jakarta, he married a woman then decided to stay.

“You can speak Javanese?” I ask politely.

“Oh, I speak Maduranese, miss. At home I also speak Maduranese with my wife and children.”

“Oh, so your wife Eastern Javanese also? Can coming back together then I suppose.”

He laughs….

“My wife is native, Betawi,” he said with still a bit laugh.

I wonder….

“So she can speak Maduranese?”

“I teach her. I want her also can teach our child speak Maduranese.”

Why?

Then he speaks about his anxiety on the urbanization in the big city.

“It’s like they forget their roots. Too long live in Jakarta then forgot due to high cost to return, their kids lose their roots. I want my kids know where they come from, though I can’t bring them back to the village, their origins. Therefore I make them used with Madura culture, where I was born.”

22.05, and yet the train not coming.

This remind me with my students was. Much of them coming from Javanese but only few can speak barely with Javanese language even with the simplest word. Jakarta’s relation, study in the international school. And at home? Their parents were too busy to teach them their mother language. Or even, these kids rose by maid or nurse, to make it worst, raised by television. It could be television series (sinetron) with slang language raised them every day.

Sad, isn’t it?

When I open the door, Mr. Suyanto said, “Be careful miss, hope you have a nice day.”

Hopefully, Mr. And I will careful to raise my children so they not cut loose their root culture. So they understand where they come from.
Thank you, Sir. I learn something new tonight. Thank you God.

Shalihah S Prabarani, 23 Januari 2015

Monday, October 13, 2014

Wednesday, April 30, 2014

tertahan

pada sepenggal rasa ia tercekat
pada sepenggal asa ia tersedak

berbaris kata berkejaran dalam angan
menunggu antrian untuk diucapkan

mengumpulkan keberanian yang terserak
menawarkan harapan pada sang rindu

ah, ia belum datang
penghuni hati

Friday, April 18, 2014

Menerjang Hujan

Kukira engkau tak datang
Ternyata tidak, walau dalam mimpi
Peredam amarah, pengikat hati

Berdiamlah di dalam sini agar aku tak berpaling
Tanpamu, yang tinggal hanya gema yang perlahan menghilang tanpa bekas
Beradalah disisiku




Jika aku terlalu keras, kelembutanmulah yang bisa meredam
Jika aku terlalu jauh melangkah, cintamu kepadaNya lah yang bisa ingatkanku

Hadirmu yang seperti itu lah yang selalu kurindukan
Dan hampir lelah aku mencari
Dimana engkau kekasih surgaku, Baity jannaty?

Tuesday, March 25, 2014

translator engine

Oke, translator engine is helping, but, in most case, it will ruin our mood.
In fact, as my experience, lost potential people to become friend(s) with us. They feel awkward with the word we "spoke"

as for the translator, the human side is the one get attention. well, its obvious, because we -human- who make and use it.

how many times do we get feel weird of even feel jinxed whenever read some text due to miss-translated or miss-interpreted? as for me, countless.

Monday, January 13, 2014

Paket data Telkomsel yang bermasalah

Dua hari lalu pada saat perpanjangan paket data berlangganan seharusnya dilakukan terjadi kegagalan yang dari informasi sistem bahwa tidak memungkinkan karena pulsa tidak mencukupi. Ini aneh, sebab saya tidak melakukan aktivitas internet (tidur) dan hp dalam kondisi siaga.
Hari ini (13012014) saya mengunjungi Grapari depok untuk menanyakan hal ini. Kejadian ini sudah dua kali saya alami dimana pada waktu perpanjangan paket data seharusnya dilakukan, tidak terjadi. Yang terjadi malah sisa kuota yang ada dan pulsa yang tersedia -yang seharusnya untuk perpanjangan paket data- malah tersedot untuk aktivitas internet yang tidak saya lakukan.
Dari informasi yang saya dapat dari petugas layanan pelanggan ditampakkan bahwa ada aktivitas internet sesaat sebelum perpanjangan dimana aktivitas tersebut menyedot seluruh sisa kuota dan pulsa yang ada.
Kejadian ini juga pernah terjadi pada adik saya dengan sisa kuota dan nilai pulsa yang lebih besar.
Ini aneh, jika terjadi kesalahan pada sistem, mengapa telkomsel tidak memperbaikinya? Jika ini bisa terjadi pada saya hingga dua kali dan juga tejadi pada adik saya, tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang lain. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang dialami oleh pelanggan telkomsel yang mengaku mempunyai lebih dari 11 juta.
Dari petugas grapari tesebut saya diperlihatkan aktivitas internet yang tidak saya lakukan. Dan keluhan yang saya ajukan juga bukan pertama kali dia terima. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa terjadi pada setiap periode ketiga perpanjangan otomatis? Bisakah nilai pulsa dikembalikan? Dan yang lebih penting, mengapa telkomsel tidak memperbaikinya ketika tahu ada masalah seperti ini?

=======

Baiklah, setelah beberapa kali pertanyaan dan menunggu, akhirnya pulsa yang tersedot kemarin telah dikembalikan tanggal 15 Januari 2014 lalu. Cukup cepat dari waktu yang dijanjikan (3x24jam). Terima kasih.
Setelah keluhan yang saya ajukan di bagian atas tulisan ini saya sampaikan melalui twitter kepada akun @Telkomsel. Juga setelah melalui serangkaian pertanyaan yang -diantaranya, jawabannya sebenarnya ada di tulisan ini- diajukan oleh beberapa admin.
Sebagai masukan saja, mungkin petugas layanan perlu untuk lebih sering membaca info produk dan solusinya jika terjadi masalah agar tidak terjadi hal seperti perulangan mengajukan pertanyaan yang sama oleh petugas yang berbeda.
Justru adalah nilai lebih jika pelanggan mau bersusah payah menuliskan kronologi masalah yang dihadapi ketimbang mengajukan pertanyaan yang berpotensi menimbulkan kekesalan pelanggan. Karena tidak semua pelanggan punya ingatan yang kuat atau kesabaran berlebih.

Friday, October 25, 2013

Tentang rasa #2

Bicara tentang hubungan dengan pasangan, terutama pasangan resmi, ada sebuah pertanyaan yang sedikit mengganggu. Tentang rasa.

Pada orang tua dahulu, yang mengalami perjodohan, mereka tidak (sempat) memikirkan soal rasa suka, apalagi cinta. Banyak diantara mereka bilang, rasa itu datang kemudian. Setelah saling terbiasa. Dan umumnya pernikahan mereka berlangsung cukup lama, kalo ga bisa dibilang awet, atau bahkan selamanya. Beda halnya dengan orang masa kini yang banyak diantara mereka bilang menikah (harus) dengan orang yang dicintai. Namun, nggak sedikit yang kemudian pisah dengan alasan sudah tidak cinta lagi.

Dari sekian banyak perjanjian antara manusia yang dipersaksikan oleh Tuhan, perjanjian pernikahan adalah salah satu yang utama. Karenanya perpisahan adalah sesuatu yang dibenci. Namun saat ini begitu mudahnya suami istri berpisah karena masalah "ringan".

Apa yang dicari
Pertanyaan mudah tapi sulit untuk dengan mudah menjawab. Untuk menjawabnya seseorang harus melihat ke dalam dirinya dulu dan kemudian bertanya pada dirinya sendiri.

Hidup dengan orang lain dan menjadikannya bagian dari diri, keluarga dan masa depan adalah bukan hal yang mudah. Ketidaktahuan akan masa depan adalah satu dari sekian masalah. Tidak satupun yang tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan bahkan peramal sekalipun.

Ketika memutuskan untuk menikah, baik itu diawali dengan masa pacaran atau "hanya sekedar" perkenalan biasa, rasa suka memiliki peran yang cukup penting. Namun, tidak sedikit pula yang melanjutkan ke jenjang pernikahan tanpa memiliki rasa suka sedikitpun. Dan terjadilah pernikahan tanpa adanya rasa suka terhadap pasangan. Tidak perlu bertanya kemana rasa cinta, karena bahkan rasa suka pun tiada. Justru yang menjadi pertanyaan adalah, sanggupkah untuk tetap melanjutkan pernikahan tanpa adanya rasa dan bertahan hingga ajal tiba?

Banyak kisah hebat yang dilatarbelakangi oleh cinta. Bukan sekedar suka. Lantas, bisakah menjadi sebuah kisah hebat sebuah keluarga jika bahkan diantara pasangan tidak tumbuh rasa cinta?