Thursday, January 28, 2010

Lalu lah

Untuk apa cinta
Jika menimbulkan derita

Ketika ragu merasuki jiwa
Membuat hati tersiksa

Lebih baik nikmati saja
Apa yang ada diantara kita

Meski terdapat jurang perbedaan
Keteguhan hati kan memberi kekuatan

Kau mencintaiku
dan aku pun begitu

Selama hatimu masih untukku
Maka kau pun akan selalu kurindu



*Jombang 18 Jan '10

Friday, January 22, 2010

Ah, kau...

Ah

kau



cita
cerita
benci
gundah
sedih
ceria
sakit


kenapa karena kau?



Ah

kau

Thursday, October 22, 2009

Jakarta's Effect : Permissive

Persaingan, tekanan dan kepenatan hidup, tuntutan untuk selamat dan menikmati hidup membuat orang berbeda dalam menyikapi hal dan mencapai tujuan. Sebagian memilih untuk melakukan semuanya dan semaunya, sementara sebagian yang lain melakukannya sesuai norma.


Perkembangan wilayah yang semakin ramai dan perpindahan penduduk, memberikan alternatif pilihan hidup. Tidak adanya kontrol dan semakin menguatnya konsep self control semu membuat orang semakin tidak peduli. Maka ungkapan "Yang penting saya tidak melakukannya" atau "Kembali pada diri masing-masing" semakin mempertegas keegoisan pelarian diri dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar. Juga sebagai pembenaran atas sikap "tidak ingin diganggu, maka jangan pula mengganggu". Mind your own business.


Dengan lingkungan yang seperti ini, maka diperolehlah kebebasan dengan mengandalkan jargon [yang terlihat] modernisme. Padahal, apa yang terlihat sebenarnya justru menunjukkan kekampungan sikap. Menjadi sok kota karena telah hidup di kota metropolis dan secara tidak sadar menjadi korban. Yang sebenarnya ini mencerminkan efek konsep "jahat" : Kapitalisme, dimana semua bisa dibeli, diatur dan dijual tanpa peduli norma.


Kehidupan kota yang begitu bebas, menjadikan mereka yang "tak berprinsip" menjadi korban. dan justru yang "berprinsip" yang menjadi terlihat aneh. Sebagai contoh, kebebasan tanpa kontrol dalam penasaran atas kebutuhan biologis berpasangan menjadikan sebagian malah menganut paham bebas: dengan siapa saja, dimana saja, apa saja, bahkan, kapan saja. Maka tak heran muncul istilah bi-sex, homosex dan heterosex, juga istilah lainnya. Tingkah yang sedemikian makin lama mendekatkan manusia pada hewan, karena memuja nafsunya dan melupakan akal norma (yang menjadikannya manusia). Memuja keegoisan dalam tingkat tinggi juga sama saja karena hewan hanya mementingkan dirinya.


Kalau begitu ingin menunjukkan keindahan lekuk tubuh, maka kenapa tidak sekalian saja tak sehelai benang menempel? Tanpa perlu mengenakan kain yang hemat dipotong.


Mencari penghidupan di kota besar juga tak terlepas dari paham bebas ini karna semakin besarnya tekanan hidup. Apapun akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar: mengisi perut. Lantas, berlanjut ke tingkatan berikutnya dan berikutnya. Hingga, sesuatu yang hampir tak masuk akal terjadi: Hilangnya sebuah kapal pesiar dari daftar aset perusahaan. Maka tak heran bila seorang teman berkata, "wuih, gede bener perutnya, sampai kapal pesiar aja masuk."


Efek dari kebebasan tak berkira ini secara langsung dan tidak perlahan menghancurkan perikehidupan yang baik. Padahal, inilah yang sebenarnya dicari sejak awal dan dijadikan tujuan. Menjadi lebih baik, secara materi, sosial, dan jiwa. Tetapi utamanya, menjadi lebih baik secara jiwa, akan memberikan diri imbalan tak terkira.

Jakarta's Effect : Deceptive

kehidupan kota jakarta yang demikian kompleks seringkali mendatangkan kepenatan yang sangat atau tingkat stres yang tinggi. hal ini bila tidak disiasati dengan baik maka akan menjadikan seseorang melakukan hal-hal yang negatif. sebuah film dulu pernah mengungkapkan bahwa kondisi di jakarta lebih kejam dari pada ibu tiri.

kompleksitas jakarta inilah yang menjadikan gegar budaya pada pendatang utamanya yang dari pelosok. kepadatan penduduk yang demikian sesak, menjadikan orang cenderung bermuka dua untuk menghidari gesekan-gesekan. kenapa bermuka dua? pertama karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya. kedua, karena adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan yang menjadikan manusia itu mau tak mau menjadi egois dan mengorbankan apa yang dimiliki demi mencapai
tujuan.

pada akhirnya apa yang terlihat menjadi ilusi yang kemudian dijadikan pembenaran atas kenyataan. dan kemudian terjadi pelarian-pelarian atas kenyataan dan kepenatan hidup. bagi yang mampu bertahan, maka mereka kemudian ditahbiskan sebagai pemenang dan simbol keberhasilan. sementara yang lain jatuh dan mendapat label kumuh dan dituding menjadi beban.

rumah sakit jiwa, obat-obatan dan balapan liar merupakan salah satu dari pelarian-pelarian itu termasuk juga bunuh diri. ketika pribadi utama tak lagi mampu menangani penatnya hidup, maka alter ego mengambil alih dan menghilangkan salah satu dari sisi kemanusiaan. manusia, kehilangan kemanusiaannya.

Monday, October 19, 2009

Menjadi Matahari




memberikan terang, namun
dalam terang ia sendirian


memberikan hangat, namun
dalam kehangatan itu ia sendirian


memberikan arah jalan, namun
di persimpangan jalan itu ia sendirian


bila dua matahari bertemu
takkan salah satu lebih terang dari lainnya


sang planet mengitari, namun
tak satupun sanggup mendekat


bahkan komet paling terang pun

menjauh dan tak sanggup melihat matahari

dan ketika sang komet melesat
sang planet pun mengikuti debris-nya
walau terpapar debris


planet pun bersembunyi dalam indahnya terang
nyamannya kehangatan dan jelasnya pandangan
dibalik bayangan gerhana sang bulan


menjadi matahari


sendiri dalam terang
sendiri dalam hangat
sendiri di persimpangan

Wednesday, September 23, 2009

Teacher's Day Event



An event held at Bandar Djakarta Restaurant for Teacher's Day. An enjoyable place to have fun.

Wednesday, September 16, 2009

I'm a Fool

I was a fool. I was a fool.
My regrets were too late too. I know that it can't be turned back.
I know that I can't see you too.
I was so wrong, I'm so sorry.
I didn't get to say then, instead I was just being rotten.
So I'm here now pleading for forgiveness with worry
I'm a fool
Because of my pride I'm ruining myself with alcohol
And the bitter taste of cigarette smoke.
I cry my eyes out all day because I still love you
You and I, we both are like fools.
Don't be like that, think about it.
Think about what it took us to get here
Think about it again, you're going to regret it.
I was so wrong, I'm really sorry
I didn't get a chance to say then, instead I was just being rotten.
So I'm here now pleading for forgiveness with worry
I'm a fool
Because of my pride I'm ruining myeslf with alcohol
And the bitter taste of cigarette smoke.
I cry my eyes out all day because I still love you
You and I, we both are like fools.
I can't live a moment without you.
I still cry even no matter how I drink or if I cut my hair.
I'm a fool
Because of my pride I'm ruining myself with alcohol
And the bitter taste of cigarette smoke.
I cry my eyes out all day because I still love you
You and I, we both are like fools.
Don't ruin yourself anymore...

*OST Goong 2