Tuesday, June 23, 2009

2263 km

perjalanan yang melelahkan tapi sepadan dengan yang dialami.

solo touring "tour d'java"

diawali berangkat dari rumah di Depok tanggal 28 Desember 2008 pukul 06.05 dan berakhir tanggal 5 Januari 2009 pukul 03.45 di Bekasi.

perjalanan dimulai dengan menelusuri rute Parung-Bogor-Puncak lalu berlanjut ke Cianjur lantas ke Bandung menuju Tasikmalaya hingga bermalam di Purwokerto, di rumah seorang teman seperjalanan.



jalan yang dilalui cukup sulit tapi pemandangan yang segar diselingi debar adrenalin karena harus berhadapan dengan bus AKAP si raksasa raja jalanan. beberapa kali harus menyalip dan beberapa harus berhadapan dan nyaris serempetan. bahkan di salah satu tikungan hampir saja disambut oleh bemper depan Dedi Jaya jurusan Jogja-Bandung. tenaaang anak baguus...tenaaang...minggir dulu ambil napas baru lanjuut....



Turun naik bukit disuguhi pemandangan kebun dengan lanskap terasering. Juga jajaran pohon dalam kawasan hutan jati. Udara yang menyegarkan, pemandangan yang bagus, tapi sekaligus serem, abis, lewat hutan sih. terlebih pada rute selepas Banjar (Pangandaran) menuju Purwokerto yang harus melintasi hutan berbukit dengan kondisi jalan yang berantakan. bukan kondisi jalan yang berantakan yang menyebabkan adrenalin berpacu, tapi kondisi jalan yang ada di tengah hutan belantara tanpa penerangan dan hanya 3 cahaya motor yang terlihat yang menyebabkan itu. ngeri sama "bajing loncat" coy..!

Dari Purwokerto ke Jogja disuguhi pemandangan hamparan sawah yang hijau. Jadi inget sama kampung nenek dulu waktu kecil....
sepanjang pinggir jalan sawah menghijau terhampar luaaaaaaaas.......

di Jogja, yaah, ke Parangtritis liat matahari tenggelam. tapi sayang, cuman dapet pas mataharinya hilang. tapi cukup lah. Liat semburat merah matahari. Ke Prambanan n Borobudur, yah, gitu deh. Enggak lupa ke Malioboro belanja... n ngga lengkap ke jogja tanpa beli Dagadu.... end of jogja.



to Soerabaja via solo-magetan nyasar ke ponorogo-trenggalek-tulungagung hanya karena 1 kesalahan: "iseng ah belok kanan"ketika keluar kota magetan. TOLOL. setelah itu terus ke jombang-mojokerto baru Soerabaja. gara-gara iseng itulah jadinya telat sampai Surabaya selama 6 jam! padahal jika saja iseng itu tak dilaksanakan, maka Magetan-Jombang mestinya hanya 1 jam.

Solo-Magetan... what a view.... Puncak Bogor lewaaaat dah.... Jalan yang lebar, ladang kubis, brokoli.....wuih....kabut dan awan....seperti sinetron, berasa mengendarai motor diatas awan.....jarak pandang hanya 50 meter tuh! Telaga Sarangan..... dengan ketinggian lebih dari 1200 meter dpl.



Tulungagung: Gunung Wilis creek...real thing! bahkan sinyal hape pun ga dapet! beruntung ga ketemu macan gunung. because only me who pass the creek.....

Soerabaja? don't ask.

Tuban, lovely beaches, the cave.....awesome!

hehehehe.....full adrenaline: get stuck with night king of the Pantura: Safari Dharma Raya as leader bus, me n herd, Kramatdjati and Lorena in 90 km/h Brebes - Cirebon. turun speed dikit sudah "disundul" dengan di dim.

and more awesome: nonstop riding Surabaya-Bekasi for 22 hours (stoping only for meals and gas)

Thursday, May 14, 2009

2

Manage your dream! itu yang keluar ketika ada pernyataan “aku ingin menjadi….” karena seringkali ternyata eh, ternyata….kok ya banyak yang kelewat. dan kalo udah kelewat jadinya ada lagi yang jadi penghalang: malas. yap, malas

kalau sudah 2 hal itu yang terjadi pilihannya: kalau di wujudkan ya hadapi malas, tegaskan! kerjakan! kalo enggak ya udah, biarin aja kelewat untuk seterusnya dan jangan bermimpi lagi tentang hal itu kecuali mau menghadapi dua hal itu dan kehilangan waktu.

kesabaran ada batasnya. hmm… itu kata banyak orang. tapi sebenernya, kesabaran itu enggak ada batasnya. ego manusianya yang ada batasnya. mentok sampe seberapa. karena Tuhan tiada berhenti bersabar atas kebodohan manusia yang Dia ciptakan dan Dia sayangi. Pikir coba, kalo Tuhan sabarnya terbatas, udah dari kapan tau kita enggak ada di dunia ini. normalnya sih, gitu. sabar kliatan ada batasnya. kalo yang hampir enggak berbatas orang jadi ngeliatnya: kalo enggak bodo, ya cinta. pilih mana?

pesan yang selalu teringat dalam Al Qur’an oleh Lukman kepada anaknya: Wahai anakku, takutlah pada Tuhan, ikuti perintahNya, jauhi yang tidak disukaiNya. maka kau akan selamat dunia dan akhirat.

Osh..!!

Tuesday, October 14, 2008

versus minded

adu..duh
kata mulut setiap kali badan terluka...

begitu kah kata hati?

kekerasan hati seperti es batu
keras, tapi, entah meleleh atau hancur ketika terbentur kenyataan
tapi tetap keras

kemauan seperti angin
bisa lembut, keras, menahan atau bahkan tak menolong sekalipun

leraikan diri
teduhkan hati
maka damai lah...

Friday, September 5, 2008

quote fr minded

apakah kau pernah berpikir,
apa yang jadi pikiran seringkali jadi kenyataan?
itu bikin ngeri.
tapi sering juga apa yang dipikirkan enggak jadi kenyataan. itu yang bikin sakit hati.

jadi,
jangan terlalu berharap atas apa yang jadi pikiranmu atau kau akan sakit sendiri.

jangan menyiksa orang lain dengan cara menyiksa diri sendiri.
itu tidak baik.

kau akan menemukan jalanmu sendiri.

ketika kau sampai pada tahap yang seharusnya kau dewasa,
berhentilah mencari.
karena kau akan temukan sendiri dirimu.

Thursday, July 24, 2008

I merely....

In this ordinary body,
were built-in shy, but still make ego embarassed

death....
last whish to overcome, brave to face and sometimes seek the way

life....
cowardly runaway, fear to deal with
yet, enjoy the fruit


alter ego,
what do you want?

a death or the life it self?
conquer your fear

Friday, February 8, 2008

Waktu

[yang] Bahkan Dia pun bersumpah

"Demi waktu..."

maka sampai kapan akan tersia?

Takkan mampu aku menokoh Kalam...

Karena Ia lebih dekat dari nadi

Sunday, July 15, 2007

Persimpangan

Mendengar tentang dia dan cerita tentangnya dulu membuatku sempat terkejut. Sampai dengan saat ini, aku belum mendengar seseorang dengan cerita hidup yang begitu ... membingungkan. Dari sudut pandangku tentunya.

Aku hanya mendengar cerita-cerita tentangnya dari teman-temanku yang banyak bergaul dengannya. Hmm..., ada yang menceritakan hal negatif tentangnya, ada pula yang positif. Yah, pastinya kehidupan punya dua sisi. Seperti keping mata uang.

Seorang sahabat berkata, “berhati-hatilah, ia akan bagai keajaiban di matamu”. Sebuah nasehat yang sangat penting. Bukan hanya apa yang dinasehatkan, tapi ia keluar dari seorang sahabat. Dan nasehat dari seorang sahabat adalah sebentuk kasih sayang terhadap sahabatnya.

Saatnya bertemu langsung dengan dirinya. Tak sengaja. Karena ketika itu aku datang ke tempat teman-teman biasa berkumpul. Dan ia pun hadir. Kesan pertama: ia menarik. Wajarlah, karena aku dan dia berbeda jenis kelamin. Tapi kelamin bukan isu utama. Ia...,hmm, bagaimana menggambarkannya..., eksentrik. Tepat, eksentrik.

Waktu pun berjalan. Dan kami pun berteman sampai akhirnya, dekat. Tidak kupungkiri mulai timbul ketertarikan padanya. Dari awal aku diceritakan perihal dia aku sudah tertarik padahal saat itu belum melihat sosoknya.

Ketertarikanku padanya semakin besar seiring juga dengan kebingunganku terhadap sikap dan pribadinya. Semakin aku mengenalnya, semakin bingung aku dibuatnya. Tampak luar ia eksentrik, seperti kesan pertama yang kudapat. Tapi ketika beberapa waktu kemudian kulihat ia kesepian. Bukan tanpa teman, karena temannya berserakan dimana-mana. Gaul, maksudnya.

Dalam sikapnya yang eksentrik, ternyata menyimpan banyak hal yang tak kusangka sebelumnya. Masalah yang ada terlihat mudah di depannya, tapi ternyata dalam pikiran dan perasaannya ia membawa masalah yang lebih besar lagi. Keinginannya untuk diperhatikan ternyata tak terlepas dari latar belakang keluarganya yang broken home. Nyatanya ia tak mengizinkan seorang pun mendekat dan “memeluknya”. Ibarat mengajak orang masuk ke dalam rumah tetapi pintu rumah itu dikunci dari dalam. Ia juga tak bisa melepaskan pikiran dan perasaannya terhadap orang yang dicintai sekaligus dibencinya. Ia bilang, karena ia hidup bersama mereka.

“Mendingan lu buang deh, perasaan itu. Gue bukan sirik sama lu, tapi karena lu tanya gue.”

“Tapi gue....”

“Denger, ya. Jadi pahlawan itu baik, bagus malah. Tapi sok jadi pahlawan itu nyebelin. Dan itu bukan lu. Dan gue juga nggak suka lu kayak gitu. Perasaan boleh di denger, tapi juga harus rasional. Jangan sampai kejadian lu sama Tri terulang. Nanti, jangan bilang gue nggak ngasih peringatan ke lu soal ini.”