Sunday, July 21, 2013

Tentang Rasa

"...bukankah dengan dialog, kita bisa saling memahami?" - Marina Ismail
"...jika tidak mengatakannya, bagaimana aku bisa tahu apa yang dia rasakan?" - Ensign Andreij Smirnov

Penggalan kalimat diatas dalam serial animasi Gundam 00 bisa dijadikan pertanyaan pada diri kita sendiri, sudahkah kita jujur - setidaknya - pada diri kita sendiri tentang apa yang kita rasakan, pikirkan, tentang orang lain - teman, keluarga, kekasih.

I'm walking with my head lowered in the shame for my place
I'm walking with my head lowered for my race
yes its easy to blame everything from the West
when in fact all focus should be on our self
 

(Maher Zain - Awaken)

Mudah menyalahkan sesuatu diluar diri sendiri, adakah ini salah satu tanda kita takut untuk jujur pada diri sendiri? Bukankah kita sudah secara jujur berani berkata bahwa manusia adalah makhluk berpikir dan menyatakan bahwa tidaklah ada kesempurnaan pada diri kita? Lantas, kenapakah kita masih takut untuk meraba, melihat kedalam diri kita sendiri dan menerima bahwa benar kita bukan/tidaklah sesempurna itu?

Takut, rindu, cinta, suka, katakan saja. Setidaknya mereka mengetahui apa yang kita rasakan. Mungkin bukan ditujukan kepada mereka rasa itu, namun, membebaskan diri kita sendiri dari beban rasa sepertinya lebih baik ketimbang menyimpannya hingga kemudian keterlaluan matang dan sudah terlambat untuk bisa disampaikan.

Saturday, December 8, 2012

Hujan

hujan, ambillah amarahku. sembunyikan tangisnya. dan suburkan asa diantaranya.

hujan, basuhmu bersihkan debu. buka cakrawala baru. dinginmu menggigilkan, namun tak mampu mematikan bara dalam dada.

hujan, legakan dada yang tersesak. heningkan semesta walau sementara. pun cukup bagi peziarah tuk temukan diri.

hujan, jernihkanlah pikiran agar jak jadi permata yang menghancurkan diri karna silaunya kaca.

hujan, deraikan tangismu jangan ragu. agar segera reda sedihmu.

Tuesday, December 4, 2012

I guess it is

I guess it is.

Too much love will kill eventually.
At moment, it is killing me softly.

In a year there is a time for autumn and winter
At this moment I'm travelling in a blister

Dearest, I'm leaving to find a way
And the memories of us will be stay

Try to convince that I'm not a dreamer
And life sometimes become bitter, not always sweet as creamer

I'm trying to not giving a word of lullaby
Because life is not in dream but in reality

Too much love will kill eventually

I guess it is

Thursday, November 22, 2012

cerita malam


Bismillah.

Perjalanan hidup memang tidak bisa ditebak. Walau sudah berencana, toh Allah pula yang menentukan apa yang bakal terjadi.

Apa-apa yang diharapkan seringkali nggak sesuai dengan apa yang diinginkan. Atau bahkan terhindarkan dari pilihan-pilihan yang tadinya dikira ada.

Seperti halnya cerita kali ini, seorang teman berkomentar atas apa yang terjadi bahwa cerita ini seperti sinetron saja; "Men, sinetron banget sik..?" hehehe...entahlah, mungkin benar.

Ah, mari kita mulai ceritanya.

Awalnya hanya rasa senang karna sudah bisa membantu satu junior kampus untuk bekerja dalam satu naungan. Lantas semakin dekat karena ternyata kami ditugaskan ke pelosok. Berangkat bersama. Jujur aja, sebagai cowok ngga mungkin ngga bakal suka dengan perempuan - yah, terkecuali yang masuk dalam golongan itu, sih. Terlebih dengan perempuan yang mempunyai sikap baik terhadap kita, kepada orang yang lebih tua dan orang tua dan punya tutur kata yang lembut. Ditambah lagi dengan pengetahuan agama yang cukup, well, pasti membuat banyak cowok kepincut.

Sebenarnya, dua minggu sebelum si junior ini masuk, aku sudah dikenalkan dengan seorang perempuan lain. Di awal perkenalan sudah kukatakan bahwa akan ditugaskan ke luar kota selama setidaknya satu tahun. Dengan dia yang berniat serius untuk menikah dalam waktu dekat, kondisi ini pasti akan sulit. Dengan kondisi ini kubilang padanya bahwa maksimal paling cepat akan ada persiapan pernikahan dalam satu tahun kedepan. Alasannya bukan hanya karena pekerjaan, tapi juga karena ada kakak perempuan yang belum menikah. Karenanya kubilang, jika dia punya pilihan yang lebih rasional, maka dia bebas untuk memilih.

Setelahnya, dengan si junior ini, dari rasa senang berubah menjadi perhatian karna sikapnya yang manja dan selalu mengingatkanku pada adik perempuan yang di Jakarta. Bukan lantas melupakan perempuan di Jakarta itu. Untuk mencegah supaya tidak berpindah hati, sengaja mengenalkannya kepada junior ini. 

Well, hal tak terduga terjadi yang menjungkirbalikkan keadaan dan perasaan. Si junior sakit malaria dan dirawat di rumah sakit selama 3 hari 2 malam. Panik karena belum pernah menghadapi malaria. Karena khawatir terhadapnya, jadilah menunggui di RS selama 2 malam dia dirawat. Disinilah logika hati tertutup dan terjungkir balik. Seluruh perasaan berubah. Dari sekedar perhatian, menjadi sayang dan ingin lebih dari itu. Malah, terucap kalimat yang seharusnya belum keluar.

Lantas, bagaimana dengan yang di Jakarta?
Sebagai seorang laki-laki yang berusaha baik, ketika hubungan diawali dengan pertemuan, maka untuk mengakhirinya pun sebaiknya dengan pertemuan. Ini agar masalah terjelaskan, dan agar tidak ada yang semakin dirugikan. Kenapa dirugikan? Pada salah satu sesi telepon dengannya, dia mengatakan bahwa dia merasa "digantung". Tidak ada kejelasan mengenai hubungan ini kedepannya. Ada pula informasi yang disampaikannya bahwa ayahnya ingin menjodohkan dia dengan anak temannya. 

Situasi ini membingungkannya. Disatu sisi ingin mempertahankan hubungan tapi disisi lain ada orang tua yang tak bisa dibantah. Kukatakan padanya sekali lagi, "Jika kamu punya pilihan yang lebih realistis, maka ambillah. Dan jangan melawan orang tua."

Selepas keluar dari RS, perasaan dengan si junior menjadi semakin nggak terkendali. Sempat aku memintanya untuk "diam" agar aku bisa menata hati dan menata diri juga agar bisa menentukan langkah yang bisa kuambil untuk keduanya. Tapi dia menolak karena dengan begitu dia merasa dipermainkan. Tidak ada maksud untuk mempermainkan. Kuminta "diam" agar dirinya juga tak terus semakin tergantung padaku. Juga agar dia tak menjadi sebab terang kenapa tak melanjutkan yang di Jakarta. Adakah ini salah? Sebab kukatakan pada si junior bahwa keputusan melanjutkan atau tidak pada salah satunya, ditentukan oleh penerimaan oleh saudara dan orang tua. Dan itu pun tak berhenti disitu, bahwa harus ada restu dari orang tua perempuan tak bisa dihindari. Prasyarat ini pun disadari oleh keduanya secara terpisah.

Situasi menjadi tak terkendali hingga mempengaruhi kinerja. Semakin sadar bahwa ini tidak bisa dibiarkan terus, bersebab teguran dari bos karena melakukan kesalahan beberapa kali dan juga teguran dari teman di Jakarta. Hingga akhirnya, terdorong untuk mengambil langkah drastis: menghentikan semuanya. Bersyukur bahwa bos mengambil inisiatif memisahkan kami, baik secara tempat tinggal maupun posisi kerja. Terkatakan pada si junior, "Mulai hari ini, aku menarik semua yang sudah kuucapkan. Berhenti. Dan berusaha untuk fokus pada hal yang seharusnya. Bukan melupakan kamu, tapi hanya melakukan yang seharusnya. Terima kasih sudah masuk dalam hidupku. Soal jodoh, aku tak punya kuasa menentukan. Allah Maha Perencana Yang Baik."

Monday, September 3, 2012

Imam Syafi'i: benarkah kita sudah mengenal beliau?

Dalam ber-Islam saat ini kita mengenal beberapa Mazhab. Salah satunya yang dianut di Indonesia adalah Mazhab Syafi'i. Tetapi, sudahkah kita mengenal beliau dan terlebih Hadist Rasulullah SAW melalui beliau? Sudahkah kita belajar Islam dengan baik? Saya sendiri jujur saja tidak mengenal karya-karya beliau, karenanya saya juga belajar. Mungkin ada baiknya kita menyimak sedikit penyampaian Ustad Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) mengenai Imam Syafi'i berikut ini:

Membaca manaqib (biografi) Imam Syafi'i yang ditulis oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, semakin terasa betapa jauhnya sosok itu. Bertanya-tanya, masih adakah orang yang benar-benar bercermin kepadanya? Kelurusan 'aqidahnya, kehati-hatiannya dan kecintaannya kepada syari'at.

Semakin mempelajari manaqib (biografi) Imam Syafi'i, terasa semakin asing sikap, pendapat, teladan dan kezuhudannya di negeri ini. Andaikata pendapat-pendapatnya diungkapkan, adakah muslimin di negeri ini mnghormatinya? Padahal negeri ini mayoritas mengaku Syafi'iyah. Teringat saat pulang kampung dan bertanyalah saya kepada seorang sahabat yang menyatakan dirinya 100% Syafi'iyah tulen, "Kapan terakhir nama Imam Syaf'i disebut saat berpendapat?" Sahabat ini kaget. "Apakah Ente akrab dengan pendapat & manhajnya?" Termangu lagi.

Bagaimana mungkin seseorang menganggap dirinya Syafi'iyah sedangkan terhadap yang berjilbab besar, ia merasa risih dan mencurigainya? Bagaimana mungkin seorang yang merasa dirinya Syafi'iyah dapat membiarkan istrinya tidak menutup aurat dengan sempurna? Sangat bertentangan. Bagaimana mungkin seseorang merasa dirinya mengikuti pendapat Imam Syafi'i sementara kuburan ditembok tinggi dan menjadi bangunan? Kubur Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy'ari adalah contoh yang sesuai. Tidak ditembok, tidak dibangun. Nyaris rata dengan tanah. Saya tidak tahu sekarang.

Bagaimana mungkin seseorang merasa dirinya Syafi'iyah jika ia meninggalkan jama'ah ketika imam Subuh tidak qunut? Padahal, tatkala Imam Syafi'i mengimami shalat di masjid yang tak jauh dari makam Imam Abu Hanifah, beliau meninggalkan qunut untuk hormati Imam Abu Hanifah. Uff! Maafkan saya, pembicaraan melebar dari manaqib (biografi) kepada pendapat Imam Syafi'i. Semoga kita dapat bercermin darinya.

Sikap Imam Syafi'i sangat menarik, mengingat Imam Abu Hanifah wafat bertepatan dengan saat kelahiran Imam Syafi'i. Jadi, keduanya tak pernah bertemu. Perbincangan ini bukanlah soal pemihakan terhadap madzhab, tetapi terutama terkait dengan konsistensi bersikap dan berkeyakinan.

Bahwa tidak pantas seseorang mengaku pengikut Imam Syafi'i, sementara sikap dan perilakunya justru sangat bertentangan dan bahkan bersikap sinis terhadap mereka yang melaksanakan qaul (pendapat) Imam Syafi'i sebagai usaha untuk berislam dengan lebih baik.

Sama anehnya dengan seorang muslim yang dengan mantap berkata bahwa ia berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, tapi ia tak mengenal keduanya. Bagaimana kita akan hidup dengan Al-Qur'an jika bacaannya saja tidak kita kenali? Bagaimana kita akan berpegangan pada Al-Qur'an jika hati ini jauh darinya? Omong-omong, sudah baca Al-Qur'an hari ini?

Allah Ta'ala berfirman, "قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم"  "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." QS. 3 : 31.

Jalan cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah tunduk mengikuti tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Maka, sudahkah kita mengenalnya? Bagaimana mungkin kita akan mengikuti Nabi SAW. jika tak mengenal sunnahnya, tak mengenal tutur katanya. Maka, marilah sejenak kita bertanya, sudahkah kita membaca hadis Nabi SAW. hari ini? Dan apakah kita merenunginya?

Imam Syafi'i mengingatkan, “Setiap masalah yang di sana ada khabar shahih (hadist) dari Rasulullah (SAW), menurut para ahli (hadist), dan ia bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.”

Ketika seseorang datang menemui Imam Syafi'i dan menanyakan tentang hadist Nabi SAW. serta pendapatnya tentang hadist tersebut, Imam Syafi'i berkata: “Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkn hadis Rasulullah SAW kemudian aku berpendapat lain…!?

Semoga bermanfaat.

Istikharah; niat, syariat dan tujuan

Mengutip dari kultwit Felixsiauw (@felixsiauw) mengenai istikharah. Semoga bermanfaat untuk yang membaca.


Rasulullah saw mengajari sahabatnya ber-istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Al-Qur'an. Sabda Nabi, “Jika kalian ingin lakukan suatu urusan, shalatlah 2 rakaat selain shalat fardhu, lalu hendaklah berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku maka palingkanlah ia (kejelekan) dariku, dan palingkanlah aku darinya (kejelekan), dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya"-lalu dia menyebut keinginanya- hadits tersebut diriwayatkan Bukhari, Ahmad, Ibnu Hibban, Baihaqi dari Jabir bin Abdullah ra (pic doa) http://t.co/6BBK6Ob0

Dalil shalat istikharah adalah diatas, dan disyariatkan doa ini dilakukan setelah salam dalam shalat yang bukan wajib. Tidak ada ayat khusus yang harus dibaca ketika istikharah, ayat apapun boleh dibaca.

Niat istikharah boleh pula digabung dengan semua shalat sunnah; rawatib, dhuha, tahajjud, tahiyat masjid dll. Misal, setelah shalat sunnah dhuha, maka kita boleh berdoa istikharah sesudah salam.

"Teks hadits menunjukkan bahwa istikharah boleh setelah shalat rawatib, tahiyat masjid, atau shalat sunnah lain" - Imam An-Nawawi.

Jadi jelaslah bahwa istikharah adalah shalat ketika kita sudah memutuskan satu urusan, lalu menguatkan diri dengannya atau satu urusan yang sudah kita putuskan, lalu kita menginginkan agar memantapkan diri dengannya, dengan berdoa pada Allah

"Jika seseorang melakukan istikharah, maka lanjutkanlah apa yang menjadi keinginan dirinya" - Imam An-Nawawi.

Nah, salah kaprahnya kebanyakan kita, menganggap bahwa istikharah ibarat contekan sakti ketika ada soal pilihan berganda. Akhirnya, saat ada pilihan apapun di-istikharahkan, bahkan pilihan-pilihan yang sudah jelas-jelas salah juga di-istikharahkan :)

"Aku mau pacaran sama siapa ya? dia yang rambutnya cepak atau yang keriwil? istikharah dulu ah" | ngawur.

"Aku bingung nih, mau terima lamaran di bank A atau bank B ya? istikharah dulu ah" | sama2 ngawur.

"Aku lagi bimbang nih, besok mau shalat jumat atau nggak ya?" | paling ngawur nih

"Aku galau nih, mau putusin pacar nggak ya? kan udah lama pacaran? istikharah dulu deh? | no comment -_-;a

Lebih parah lagi | "aku udah istikharah, dan aku mimpiin dia, berarti Allah ridha dia jadi pacarku!" | #hening -_-a

Parah juga | "setelah aku istikharah, ternyata aku terbayang-bayang wajahnya, berarti itulah yang Allah tunjukkan!" | #hening -_-a

Dear all, istikharah bukan shalat magic, yang seolah jadi shortcut untuk jawaban, apalagi istikharah dalam perkara maksiat, hehe..

Istikharah memang boleh ketika kita sedang dalam keadaan yang tak cenderung kemanapun, namun harus dipastikan itu hal yang bukan maksiat. Idealnya, istikharah itu untuk mantapkan hati, meminta keridhaan Allah dalam bentuk kemantapan hati, artinya dia sudah memilih. Maka pertanyaannya, bila istikharah bukan untuk memilih pilihan berganda, lalu bagaimana cara memilih seorang Muslim yang bingung?

Islam telah gariskan 5 hukum dalam amal:
1) wajib
2) sunnah
3) mubah
4) makruh
5) haram | semakin keatas semakin baik

Jadi bila diantara 2 pilihan wajib dan sunnah, ya pilih wajib. Ada pilihan antara sunnah dan makruh, ya pilih sunnah. Bagaimana jika ada 2 pilihan yang sama wajibnya? Ya pilih yang lebih urgen. Shalat wajib sama penuhi panggilan orang tua? Ya shalat dulu.

Bagaimana jika ada 2 pilihan yang sama bolehnya? Ya tinggal hitung-hitung manfaatnya yang mana yang lebih gede :)

Ada 2 calon, sama kayanya, sama bangsawannya, sama salihnya, tapi satunya ganteng, ya pilih yang ganteng, hehe..

Bagaimana 2 pilihan sama-sama haramnya? Ya jangan milih, selama belum darurat (kalau nggak milih mati), cari pilihan halal yang lain :)

Nah, jelas ya, jadi pilih dulu, yang mana yang paling cenderung, lalu ber-istikharahlah, minta kemantapan hati. 

Ok, konkritnya, yang sering ditanyakan dalam istikharah kan dalam hal memilih pasangan, ya? Paling penting, nggak perlu istikharah bila belum siap nikah, karena itu berarti niatnya belum serius, pantaskan niat dahulu.

Bila sudah siap nikah, lalu niat ta'aruf, maka lihatlah apa yang calon pasangan Anda miliki, imannya, sikapnya, dan sebagainya. Pilihlah yang menjadi kriteria Anda dalam memilih pasangan. Rasul titik-beratkan agamanya, yaitu keimanan dan pengetahuan Islamnya. Karena yang paham agama pastilah tanggung jawab, dewasa, pengertian, tahu tempatkan diri, sabar, dan setumpuk kebaikan lainnya. Bila penuhi kriteria, ya terima lalu istikharah, bila tidak ya tinggal tolak aja, nggak perlu istikharah lagi. Pemabuk, ajak maksiat pacaran, nggak bisa urus diri, gaya hidup bak anak konglomerat, childish, tolak aja, nggak usah istikharah.

Jadi sekali lagi, istikharah itu untuk mantapkan diri, minta Allah bimbing dalam pilihan kita yang sudah berdasar syariat-Nya. Minta Allah hilangkan kejelekan dari pilihan kita, minta Allah sabarkan kita bila ada hambatan dalam pilihan kita.

Makanya Rasul ajarkan doa "takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya (pilihan kita)".

Dan istikharah nggak selalu dijawab dengan mimpi, karena nggak ada hubungannya istikharah dengan mimpi. Belum tentu pula setelah istikharah lantas ada hambatan, itu berarti Allah nggak ridha. Selama kita tahu pilihan kita berdasar syariat Allah, maka hambatan bisa jadi penambah pahala dan pengurang dosa. Karena itulah kita minta kemantapan diri dengan istikharah setelah kita memutuskan berdasar syariat Allah, agar Allah kuatkan.

Jadi, apapun urusan kebaikan yang ingin kita lakukan, ber-istikharahlah, hadirkan Allah untuk mantapkan hati.

Lantas, bagaimana mau ketahui yang ini baik atau buruk? Nah, ini nggak bisa kalo nggak ikut kajian Islam! hehe.. :)

Wednesday, August 29, 2012

Melanjutkan (Hidup) ?

Teringat kembali dengan apa yang dikatakan oleh dosen saya dulu dalam mata kuliah tentang manajemen informasi. Di dunia ini, hanya satu yang tidak akan pernah berubah dan dia akan selalu seperti itu, hal itu adalah perubahan itu sendiri. Mengapa?

Kalau dicermati, sebagai makhluk hidup semua akan mengalami perubahan, entah apakah itu bertumbuh secara fisik atau berubah secara sifat. Bahkan, pada sesuatu yang bukan hidup pun berubah karena terpengaruh oleh perubahan yang hidup. Jadi, saya percaya bahwa perubahan itu sebuah keniscayaan.

Permasalahannya adalah, apakah kita - atau saya - sebagai manusia hidup bisa atau mampu untuk bergerak melanjutkan. Melanjutkan dari situasi, hal yang saat ini kita jalani? Seorang motivator mengatakan seseorang yang mulai menikmati kenyamanan yang dirasakannya sekarang itu pertanda bahaya dari berhentinya kehidupannya. Manusia itu harus bergerak, katanya, kepada yang baik.


Apa yang kita ketahui sekarang dengan apa yang akan kita ungkapkan kemudian bisa berbeda kenyataannya. Terlebih bila respon yang kita berikan berjeda waktu dari pertama kita menerima informasi tersebut atau melalui perantara. Jeda waktu atau perantara itu lah yang menyebabkan adanya perbedaan.

Pada satu titik, kita bisa saja merasa jenuh atas perjalanan yang dilalui. Seperti halnya jalan, terkadang memang perlu untuk berhenti sejenak di persimpangan. Keperluannya bisa macam-macam. Bisa untuk mempersilakan yang lain lewat dulu di depan kita. Atau untuk menentukan pilihan jalan yang akan dilalui berikutnya. Atau berhati-hati melintas bila persimpangan tersebut sepi, agar tidak terlanggar orang lain dari arah lain di persimpangan tersebut.

Menurut saya, manusia pasti berubah. Secara fisik, itu sebuah keniscayaan. Tapi secara mental, perubahan tersebut bisa terjadi baik secara sadar atau tidak sadar. Jikalau tidak berubah, ada 2 kemungkinan: bebal, atau diawetkan.