Teringat kembali dengan apa yang dikatakan oleh dosen saya dulu dalam mata kuliah tentang manajemen informasi. Di dunia ini, hanya satu yang tidak akan pernah berubah dan dia akan selalu seperti itu, hal itu adalah perubahan itu sendiri. Mengapa?
Kalau dicermati, sebagai makhluk hidup semua akan mengalami perubahan, entah apakah itu bertumbuh secara fisik atau berubah secara sifat. Bahkan, pada sesuatu yang bukan hidup pun berubah karena terpengaruh oleh perubahan yang hidup. Jadi, saya percaya bahwa perubahan itu sebuah keniscayaan.
Permasalahannya adalah, apakah kita - atau saya - sebagai manusia hidup bisa atau mampu untuk bergerak melanjutkan. Melanjutkan dari situasi, hal yang saat ini kita jalani? Seorang motivator mengatakan seseorang yang mulai menikmati kenyamanan yang dirasakannya sekarang itu pertanda bahaya dari berhentinya kehidupannya. Manusia itu harus bergerak, katanya, kepada yang baik.
Apa yang kita ketahui sekarang dengan apa yang akan kita ungkapkan kemudian bisa berbeda kenyataannya. Terlebih bila respon yang kita berikan berjeda waktu dari pertama kita menerima informasi tersebut atau melalui perantara. Jeda waktu atau perantara itu lah yang menyebabkan adanya perbedaan.
Pada satu titik, kita bisa saja merasa jenuh atas perjalanan yang dilalui. Seperti halnya jalan, terkadang memang perlu untuk berhenti sejenak di persimpangan. Keperluannya bisa macam-macam. Bisa untuk mempersilakan yang lain lewat dulu di depan kita. Atau untuk menentukan pilihan jalan yang akan dilalui berikutnya. Atau berhati-hati melintas bila persimpangan tersebut sepi, agar tidak terlanggar orang lain dari arah lain di persimpangan tersebut.
Menurut saya, manusia pasti berubah. Secara fisik, itu sebuah keniscayaan. Tapi secara mental, perubahan tersebut bisa terjadi baik secara sadar atau tidak sadar. Jikalau tidak berubah, ada 2 kemungkinan: bebal, atau diawetkan.
Wednesday, August 29, 2012
Tuesday, August 28, 2012
Taubat
Taubat
Kadang terpikir apakah dengan lagu-lagu yang disajikan oleh para musisi, lantas kita sudah merasa Islami? Benarkah? Ah, saya merasa kurang tepat kalau membahasnya, ada baiknya menyimak ulasan berikut dari Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) mengenai taubat yang disarikan dari kultwit beliau.
Maaf, dengan sedikit meringkas, Bismillah: bahasan tentang taubat akan saya sampaikan sekarang. Mohon check sendiri Arabnya.
“Andai kutahu, kapan tiba ajalku... Ijinkan aku mengucap kata taubat pada-Mu.” Sempat dengar lagu ini. Entah pas atau tidak ingatanku. Saya tidak tahu, kapan lagu ini beredar. Tetapi merasa heran, mengapa lagu ini diputar di sejumlah acara keislaman. Sebagaimana saya merasa bersalah tatkala sebagian orang menyatakan Islami syair lagu yang nyata bertentangan dg Al-Qur’an ini.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang." Dan tidak (diterima taubat) orang-orang yg mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” QS An-Nisa’, 4: 18.
Firman Allah Ta’ala dalam QS An-Nisa’, 4: 18 ini tegas menunjukkan kepada kita bahwa Allah Ta’ala tidak menerima taubat mereka yang menyatakan diri bertaubat, dan bahkan sungguh-sungguh taubat hanya ketika mereka tahu bahwa ajal telah datang menjemput.
Maka, bagaimana engkau akan bersenang-senang dengan keadaanmu dan merasa diri belum saatnya taubat karena berpegang pada syair lagu? Bagaimana mungkin engkau merasa aman dari murka-Nya karena menganggap taubat hanya tepat saat ajal telah amat dekat?
Mari kita ingat sejenak kisah Fir’aun. Manusia yang mempertuhankan dirinya ini tertolak pengakuannya terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman: "Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: 'Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kpd Allah)'".
Demikianlah Allah Ta’ala kabarkan tertolaknya taubat Fir’aun dalam QS. 10: 90. Kemudian di ayat berikutnya, Allah Ta’ala berfirman: “Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Sesungguhnya, di dalam Al-Qur’an amat banyak ayat yang menyeru kita untuk segera bertaubat dengan sebenar-benarnya.
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al-A’raaf, 7: 153
“Yang Mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” QS. Al-Mu’min, 40: 3
Hendak berpanjang-panjang, tapi saya dapati diri ini masih amat kurang bekal. @sahabatalaqsha telah bertutur pula tentang #taubat Silakan ikuti.
Demikian. Shodaqallahull'adzim. Semoga bermanfaat.
Kadang terpikir apakah dengan lagu-lagu yang disajikan oleh para musisi, lantas kita sudah merasa Islami? Benarkah? Ah, saya merasa kurang tepat kalau membahasnya, ada baiknya menyimak ulasan berikut dari Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) mengenai taubat yang disarikan dari kultwit beliau.
Maaf, dengan sedikit meringkas, Bismillah: bahasan tentang taubat akan saya sampaikan sekarang. Mohon check sendiri Arabnya.
“Andai kutahu, kapan tiba ajalku... Ijinkan aku mengucap kata taubat pada-Mu.” Sempat dengar lagu ini. Entah pas atau tidak ingatanku. Saya tidak tahu, kapan lagu ini beredar. Tetapi merasa heran, mengapa lagu ini diputar di sejumlah acara keislaman. Sebagaimana saya merasa bersalah tatkala sebagian orang menyatakan Islami syair lagu yang nyata bertentangan dg Al-Qur’an ini.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang." Dan tidak (diterima taubat) orang-orang yg mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” QS An-Nisa’, 4: 18.
Firman Allah Ta’ala dalam QS An-Nisa’, 4: 18 ini tegas menunjukkan kepada kita bahwa Allah Ta’ala tidak menerima taubat mereka yang menyatakan diri bertaubat, dan bahkan sungguh-sungguh taubat hanya ketika mereka tahu bahwa ajal telah datang menjemput.
Maka, bagaimana engkau akan bersenang-senang dengan keadaanmu dan merasa diri belum saatnya taubat karena berpegang pada syair lagu? Bagaimana mungkin engkau merasa aman dari murka-Nya karena menganggap taubat hanya tepat saat ajal telah amat dekat?
Mari kita ingat sejenak kisah Fir’aun. Manusia yang mempertuhankan dirinya ini tertolak pengakuannya terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman: "Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: 'Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kpd Allah)'".
Demikianlah Allah Ta’ala kabarkan tertolaknya taubat Fir’aun dalam QS. 10: 90. Kemudian di ayat berikutnya, Allah Ta’ala berfirman: “Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Sesungguhnya, di dalam Al-Qur’an amat banyak ayat yang menyeru kita untuk segera bertaubat dengan sebenar-benarnya.
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al-A’raaf, 7: 153
“Yang Mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” QS. Al-Mu’min, 40: 3
Hendak berpanjang-panjang, tapi saya dapati diri ini masih amat kurang bekal. @sahabatalaqsha telah bertutur pula tentang #taubat Silakan ikuti.
Demikian. Shodaqallahull'adzim. Semoga bermanfaat.
Monday, August 27, 2012
Mahar (2)
Mahar adalah pemberian yang wajib kepada wanita sebagai syarat nikah. Jika setelah nikah diberikan kepada suami, itu dibolehkan (Qs. An-Nisa’ : 4)
Mahar merupakan syarat sah pernikahan. Pernikahan tanpa mahar tidak sah, meski wanita ridha untuk tidak dapatkan mahar.
Jenis-jenis #mahar : Bisa berupa Harta, Jasa atau Manfaat yg bisa diambil oleh wanita yg akan dinikahi. Antara lain:
a. Harta (materi) dengan berbagai bentuknya. Bisa uang, perhiasan, kendaraan dll
b. Jasa: Nabi Syu’aib menikahkan anaknya dg mahar Musa bekerja pdnya 8 tahun (Qs. Al-Qashash: 27)
c. Manfaat yang bisa diambil wanita, seperti: Keislaman calon suami’ Contoh : Abu Thalhah dengan Ummu Sulaim (HR. An-Nasa’I). Atau hafalan Al-Qur’an. Nabi menikahkan seorang sahabat dengan mahar beberapa surat Al-Qur’an hafalannya (HR. Bukhari & Muslim)
Mahar adalah hak penuh mempelai wanita. Tidak boleh hak tersebut diambil kecuali bila wanita tersebut merelakannya.
Islam menganjurkan agar meringankan mahar. Nabi bersabda, Sebaik2 mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan). (HR. al-Hakim).
Hikmah meringankan mahar :Mempermudah proses pernikahan. Berapa banyak laki-laki yang mundur akibat mahar yang tinggi? Bahkan ada sebagian daerah yang mensyaratkan pemberian mahar yang tergolong tinggi mencapai ratusan juta rupiah.
Wanita mestinya bisa bersikap bijak. Tidak masalah jika laki-laki tersebut mampu dan kaya. Kalau tidak? Terutama jika yg datang adalah laki-laki yang baik agamanya dan bertanggungjawab tapi masih belum mampu.
Banyak wanita terlambat menikah karena maharnya terlalu tinggi sehingga laki-laki harus menabung bertahun-tahun untuk memenuhi maharnya. Padahal Nabi bersabda, Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah. (HR. Abu Dawud)
Tidak boleh suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan sebuah pengkhianatan. Nabi bersabda,Syarat yang paling berhak kamu penuhi adalah persyaratan yang dengannya kalian halalkan seorang wanita (HR. Bukhari)
Demikian sekilas bahasan tentang mahar. Semoga bermanfaat.
Mahar merupakan syarat sah pernikahan. Pernikahan tanpa mahar tidak sah, meski wanita ridha untuk tidak dapatkan mahar.
Jenis-jenis #mahar : Bisa berupa Harta, Jasa atau Manfaat yg bisa diambil oleh wanita yg akan dinikahi. Antara lain:
a. Harta (materi) dengan berbagai bentuknya. Bisa uang, perhiasan, kendaraan dll
b. Jasa: Nabi Syu’aib menikahkan anaknya dg mahar Musa bekerja pdnya 8 tahun (Qs. Al-Qashash: 27)
c. Manfaat yang bisa diambil wanita, seperti: Keislaman calon suami’ Contoh : Abu Thalhah dengan Ummu Sulaim (HR. An-Nasa’I). Atau hafalan Al-Qur’an. Nabi menikahkan seorang sahabat dengan mahar beberapa surat Al-Qur’an hafalannya (HR. Bukhari & Muslim)
Mahar adalah hak penuh mempelai wanita. Tidak boleh hak tersebut diambil kecuali bila wanita tersebut merelakannya.
Islam menganjurkan agar meringankan mahar. Nabi bersabda, Sebaik2 mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan). (HR. al-Hakim).
Hikmah meringankan mahar :Mempermudah proses pernikahan. Berapa banyak laki-laki yang mundur akibat mahar yang tinggi? Bahkan ada sebagian daerah yang mensyaratkan pemberian mahar yang tergolong tinggi mencapai ratusan juta rupiah.
Wanita mestinya bisa bersikap bijak. Tidak masalah jika laki-laki tersebut mampu dan kaya. Kalau tidak? Terutama jika yg datang adalah laki-laki yang baik agamanya dan bertanggungjawab tapi masih belum mampu.
Banyak wanita terlambat menikah karena maharnya terlalu tinggi sehingga laki-laki harus menabung bertahun-tahun untuk memenuhi maharnya. Padahal Nabi bersabda, Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah. (HR. Abu Dawud)
Tidak boleh suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan sebuah pengkhianatan. Nabi bersabda,Syarat yang paling berhak kamu penuhi adalah persyaratan yang dengannya kalian halalkan seorang wanita (HR. Bukhari)
Demikian sekilas bahasan tentang mahar. Semoga bermanfaat.
Sunday, August 26, 2012
berbincang tentang MENAWARKAN DIRI
Bahasan ini diulas pada 21 Agustus oleh Ust. Moh. Fauzil Adhim (@kupinang).
Sejenak ingin berbincang tentang menawarkan diri. Semoga bermanfaat bagi muslimah yang ingin menjaga agama dan menyempurnakannya.
Menikah merupakan sunnah yang diagungkan oleh Allah. Al Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yg sangat berat).
Mitsaqan ghalizha adalah perjanjian yang paling kuat di hadapan Allah. Hanya tiga kali Al-Qur’an menyebut mitsaqan ghalizha.
Hanya untuk tiga perjanjian Allah memberi nama mitsaqan ghalizha. Dua perjanjian berkenaan dengan tauhid, yaitu perjanjian Allah dengan Bani Israel yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina ketika mengambil sumpah. Sedang yang lain adalah perjanjian Allah dengan para Nabi Ulul Azmi, Nabi yang paling utama di antara para Nabi. Dan, pernikahan termasuk perjanjian yang oleh Allah digolongkan sebagai mitsaqan ghalizha.
Setiap jalan menuju mitsaqan ghalizha dimuliakan oleh Allah. Islam berikan penghormatan yang suci kepada niat dan ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis.
Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kekuatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah adalah teladan pertama bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri. Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlak dan kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah dan untuk mendapatkan pahala-Nya. Yakinlah, Allah pasti akan mencatatnya sebagai kemuliaan dan mujahadah (perjuangan) suci. Jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat.
Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap mujahadah saudaranya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki kehormatan kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. Seorang laki-laki akan sangat hormat, setia dan menaruh kasih sayang mendalam jika ia terima tawaran wanita shalihah untuk menikahi.
Semoga Allah menambahkan kemuliaan dalam keluarganya dan memberikan keturunan yang meninggikan derajat orangtua di hadapan Allah.
Kalau terhalang untuk menerima tawaran, maka pada diri laki-laki akan tumbuh rasa hormat, segan, dan respek terhadapnya.
Sungguh, saya sangat hormat kepada mereka yang berani bermujahadah. Kepada mereka, saya ingin menyampaikan salam hormat saya. Semoga Allah memberi pertolongan dan ridha-Nya kepada kita semua sampai kelak Allah mengumpulkan di akhirat. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka bersama Khadijah di Al Haudh. Allahumma amin.
Saya ingin membahas masalah ini lebih lanjut, mengingat pentingnya masalah ini. Sedang sikap seperti ini merupakan sikap yang dimuliakan. Saat ini cukuplah dengan melihat contoh yang tercatat dalam sejarah. Imam Bukhari menuturkan cerita dari Anas ra.. Ada seorang wanita datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW. dan berkata, “Ya, Rasulullah! Apakah engkau membutuhkan daku?” Putri Anas ra. yang hadir dan mendengar perkataan wanita itu mencela sebagai wanita yang tidak punya harga diri dan rasa malu, “Alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas berkata kepada putrinya, “Dia lebih baik darimu. Dia senang kepada Rasulullah SAW, lalu menawarkan dirinya untuk beliau!” HR. Bukhari
Betapa pun demikian, seseorang tidak boleh berlaku serampangan. Perhatikan adab, perhatikan ilmunya sebelum menawarkan diri. Dan tidak ada jalan hidup yang sempurna dan Allah Ta’ala ridhai selain Islam. Maka pelajarilah agama ini.
Sejenak ingin berbincang tentang menawarkan diri. Semoga bermanfaat bagi muslimah yang ingin menjaga agama dan menyempurnakannya.
Menikah merupakan sunnah yang diagungkan oleh Allah. Al Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yg sangat berat).
Mitsaqan ghalizha adalah perjanjian yang paling kuat di hadapan Allah. Hanya tiga kali Al-Qur’an menyebut mitsaqan ghalizha.
Hanya untuk tiga perjanjian Allah memberi nama mitsaqan ghalizha. Dua perjanjian berkenaan dengan tauhid, yaitu perjanjian Allah dengan Bani Israel yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina ketika mengambil sumpah. Sedang yang lain adalah perjanjian Allah dengan para Nabi Ulul Azmi, Nabi yang paling utama di antara para Nabi. Dan, pernikahan termasuk perjanjian yang oleh Allah digolongkan sebagai mitsaqan ghalizha.
Setiap jalan menuju mitsaqan ghalizha dimuliakan oleh Allah. Islam berikan penghormatan yang suci kepada niat dan ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis.
Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kekuatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah adalah teladan pertama bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri. Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlak dan kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah dan untuk mendapatkan pahala-Nya. Yakinlah, Allah pasti akan mencatatnya sebagai kemuliaan dan mujahadah (perjuangan) suci. Jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat.
Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap mujahadah saudaranya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki kehormatan kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. Seorang laki-laki akan sangat hormat, setia dan menaruh kasih sayang mendalam jika ia terima tawaran wanita shalihah untuk menikahi.
Semoga Allah menambahkan kemuliaan dalam keluarganya dan memberikan keturunan yang meninggikan derajat orangtua di hadapan Allah.
Kalau terhalang untuk menerima tawaran, maka pada diri laki-laki akan tumbuh rasa hormat, segan, dan respek terhadapnya.
Sungguh, saya sangat hormat kepada mereka yang berani bermujahadah. Kepada mereka, saya ingin menyampaikan salam hormat saya. Semoga Allah memberi pertolongan dan ridha-Nya kepada kita semua sampai kelak Allah mengumpulkan di akhirat. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka bersama Khadijah di Al Haudh. Allahumma amin.
Saya ingin membahas masalah ini lebih lanjut, mengingat pentingnya masalah ini. Sedang sikap seperti ini merupakan sikap yang dimuliakan. Saat ini cukuplah dengan melihat contoh yang tercatat dalam sejarah. Imam Bukhari menuturkan cerita dari Anas ra.. Ada seorang wanita datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW. dan berkata, “Ya, Rasulullah! Apakah engkau membutuhkan daku?” Putri Anas ra. yang hadir dan mendengar perkataan wanita itu mencela sebagai wanita yang tidak punya harga diri dan rasa malu, “Alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas berkata kepada putrinya, “Dia lebih baik darimu. Dia senang kepada Rasulullah SAW, lalu menawarkan dirinya untuk beliau!” HR. Bukhari
Betapa pun demikian, seseorang tidak boleh berlaku serampangan. Perhatikan adab, perhatikan ilmunya sebelum menawarkan diri. Dan tidak ada jalan hidup yang sempurna dan Allah Ta’ala ridhai selain Islam. Maka pelajarilah agama ini.
ZAFAF
Pembahasan mengenai malam awal pernikahan oleh Ust. Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) pada 21 Agustus. Semoga bermanfaat.
InsyaAllah saya akan berbincang tentang nikah, terutama saya peruntukkan bagi yang mau melangsungkan akad nikah besok atau lusa.
Semoga Allah Ta’ala karuniakan taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Kepada Allah Ta’ala saya memohon petunjuk. Sesungguhnya nikah itu termasuk sunnah Rasul. Maka, tempuhlah jalan pernikahan untuk mengikuti sunnah. Jalani pernikahan untuk memuliakan sunnah dan menetapi sunnah. Maka perhatikan sunnah yang mengiringi pernikahan.
Di antara sunnah pada malam zafaf --mudahnya kita sebut malam pertama-- adalah suami membaca do'a dengan mengecup ubun-ubun istri. Hal ini berpijak pada hadist riwayat Abu Dawud. Pun diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Maka ketika saatnya tiba, awalilah dengan bincang lembut. Sekiranya tersedia, segelas susu atau minuman lainnya untuk diminum berdua. Bersikaplah lembut agar salah tingkah itu reda.
Jika hatimu telah siap, letakkan tanganmu di atas kening isterimu yang baru saja engkau nikahi. Kecuplah dan ucapkan basmalah. Lalu bacalah do'a dengan sepenuh pinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Semoga pernikahanmu penuh barakah. Bacalah dan panjatkan do'a: "اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ" HR. Abu Dawud & Ibnu Majah, lafaz ini pada Abu Dawud. "Allahumma inni as aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha alaihi wa a’udzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaihi" yang artinya, "Ya Allah, aku memohon kebaikannya & kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya & kejelekan tabiat yang ia bawa."
Disunnahkan bagi kedua mempelai yang baru menikah untuk melaksanakan shalat sunnah 2 raka'at pada malam zafaf. Semoga Allah limpahi barakah.
'Abdullah bin Mas'ud brkata kpd seseorang yg baru menikah, "فَإِذَا أَتَتْكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَيْنِ"
“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat di belakangmu.” HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah.
Berdasarkan atsar para sahabat, dari riwayat Abu Said, maula Abu Usaid, para sahabat radhiyallahu 'anhum mengajarkan shalat sunnah. Para sahabat mengajarkan, "إِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمْ سَلِّ اللهَ مِنْ خَيْرِ مَا دَخَلَ عَلَيْكَ ، وَتَعَوُّذْ بِهِ مِنْ شَرِّهِ ، ثُمَّ شَأنُكَ وَشَأْنُ أَهْلِكَ"
Para sahabat radhiyallahu 'anhum mengajarkan, "Jika istrimu menghampirimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan apa yang datang kepadamu, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya. Kemudian terserah kepadamu dan istrimu.” HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah, sanadnya shahih sampai kepada Abu Sa’id.
Perlu kita pahami terkait ungkapan "jika isterimu datang...". Pada masa itu, seorang perempuan diantar ke rumah suami setelah akad. Hari ini di negeri kita, suami-isteri bahkan langsung bertemu beberapa menit sesudah akad nikah berlangsung. Tak menunggu lama.
Banyak ulama' yang menukil kitab khusus tentang Adabuz Zifaf. Jika pembahasan tentang hal tersebut menunjukkan waktu malam, lebih karena ketika itu suami-isteri baru bertemu pada malam hari. Tapi hari ini situasinya agak berbeda. Wallahu a'lam.
Maka jika engkau rasa waktu malam terlalu lama untuk dinanti, maka ketahuilah bahwa sunnah itu terkait dengan saat ketika engkau pertama berkesempatan dukhul, yakni masuknya engkau berdua di kamar dalam keadaan tertutup & tidak ada halangan untuk melakukan apa yang patut dilakukan oleh suami-isteri yang baru menikah. (Maaf, kalimatnya agak mbulet).
Setelah melaksanakan shalat sunnah 2 raka'at, berdo'alah dengan do'a: اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ" atau do'a lain.
Saya telah membahas tentang ini di buku Kado Pernikahan untuk Isteriku. Tetapi tentu saja terlalu tebal buat pengantin baru.
Bila engkau bermaksud melakukan hubungan suami-isteri, jangan lupa membaca do'a yang dituntunkan. "بِسْمِ اللهِ ، اَللَّهُمَّ جَنِبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِبِ الشَّيْطاَنَ مَا رَزَقْتَنَا" Muttafaq 'Alaih.
"Bismillah. Allahumma janibnasy syaithaan wa janibisy syaithan ma razaqtana."
“Bismillah, ya Allah, jauhkan syaithan dari kami, dan jauhkan syaithan dari apa yang engkau anugerahkan kepada kami.”
Maaf, saya merasa harus menampilkan do'a berhubungan badan ini karena ternyata banyak ikhwah yang belum tahu sehingga penerbit @proumedia merasa perlu memajang kaligrafi yang berisi do'a ini. Begitu.
Jika suami sudah dukhul (masuk sekamar dengan isteri dalam keadaan kamar tertutup), sunnah bagi mereka untuk menyelenggarakan walimah. Tiga hari setelah dukhul lebih afdhal. Tapi di Indonesia, walimah biasa diselenggarakan tepat sesudah akad. Itu dulu, ya.... Semoga catatan ini dapat menjadi pengingat bagi kita, terutama yang akan menikah.
InsyaAllah saya akan berbincang tentang nikah, terutama saya peruntukkan bagi yang mau melangsungkan akad nikah besok atau lusa.
Semoga Allah Ta’ala karuniakan taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Kepada Allah Ta’ala saya memohon petunjuk. Sesungguhnya nikah itu termasuk sunnah Rasul. Maka, tempuhlah jalan pernikahan untuk mengikuti sunnah. Jalani pernikahan untuk memuliakan sunnah dan menetapi sunnah. Maka perhatikan sunnah yang mengiringi pernikahan.
Di antara sunnah pada malam zafaf --mudahnya kita sebut malam pertama-- adalah suami membaca do'a dengan mengecup ubun-ubun istri. Hal ini berpijak pada hadist riwayat Abu Dawud. Pun diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Maka ketika saatnya tiba, awalilah dengan bincang lembut. Sekiranya tersedia, segelas susu atau minuman lainnya untuk diminum berdua. Bersikaplah lembut agar salah tingkah itu reda.
Jika hatimu telah siap, letakkan tanganmu di atas kening isterimu yang baru saja engkau nikahi. Kecuplah dan ucapkan basmalah. Lalu bacalah do'a dengan sepenuh pinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Semoga pernikahanmu penuh barakah. Bacalah dan panjatkan do'a: "اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ" HR. Abu Dawud & Ibnu Majah, lafaz ini pada Abu Dawud. "Allahumma inni as aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha alaihi wa a’udzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaihi" yang artinya, "Ya Allah, aku memohon kebaikannya & kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya & kejelekan tabiat yang ia bawa."
Disunnahkan bagi kedua mempelai yang baru menikah untuk melaksanakan shalat sunnah 2 raka'at pada malam zafaf. Semoga Allah limpahi barakah.
'Abdullah bin Mas'ud brkata kpd seseorang yg baru menikah, "فَإِذَا أَتَتْكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَيْنِ"
“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat di belakangmu.” HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah.
Berdasarkan atsar para sahabat, dari riwayat Abu Said, maula Abu Usaid, para sahabat radhiyallahu 'anhum mengajarkan shalat sunnah. Para sahabat mengajarkan, "إِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمْ سَلِّ اللهَ مِنْ خَيْرِ مَا دَخَلَ عَلَيْكَ ، وَتَعَوُّذْ بِهِ مِنْ شَرِّهِ ، ثُمَّ شَأنُكَ وَشَأْنُ أَهْلِكَ"
Para sahabat radhiyallahu 'anhum mengajarkan, "Jika istrimu menghampirimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan apa yang datang kepadamu, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya. Kemudian terserah kepadamu dan istrimu.” HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah, sanadnya shahih sampai kepada Abu Sa’id.
Perlu kita pahami terkait ungkapan "jika isterimu datang...". Pada masa itu, seorang perempuan diantar ke rumah suami setelah akad. Hari ini di negeri kita, suami-isteri bahkan langsung bertemu beberapa menit sesudah akad nikah berlangsung. Tak menunggu lama.
Banyak ulama' yang menukil kitab khusus tentang Adabuz Zifaf. Jika pembahasan tentang hal tersebut menunjukkan waktu malam, lebih karena ketika itu suami-isteri baru bertemu pada malam hari. Tapi hari ini situasinya agak berbeda. Wallahu a'lam.
Maka jika engkau rasa waktu malam terlalu lama untuk dinanti, maka ketahuilah bahwa sunnah itu terkait dengan saat ketika engkau pertama berkesempatan dukhul, yakni masuknya engkau berdua di kamar dalam keadaan tertutup & tidak ada halangan untuk melakukan apa yang patut dilakukan oleh suami-isteri yang baru menikah. (Maaf, kalimatnya agak mbulet).
Setelah melaksanakan shalat sunnah 2 raka'at, berdo'alah dengan do'a: اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ" atau do'a lain.
Saya telah membahas tentang ini di buku Kado Pernikahan untuk Isteriku. Tetapi tentu saja terlalu tebal buat pengantin baru.
Bila engkau bermaksud melakukan hubungan suami-isteri, jangan lupa membaca do'a yang dituntunkan. "بِسْمِ اللهِ ، اَللَّهُمَّ جَنِبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِبِ الشَّيْطاَنَ مَا رَزَقْتَنَا" Muttafaq 'Alaih.
"Bismillah. Allahumma janibnasy syaithaan wa janibisy syaithan ma razaqtana."
“Bismillah, ya Allah, jauhkan syaithan dari kami, dan jauhkan syaithan dari apa yang engkau anugerahkan kepada kami.”
Maaf, saya merasa harus menampilkan do'a berhubungan badan ini karena ternyata banyak ikhwah yang belum tahu sehingga penerbit @proumedia merasa perlu memajang kaligrafi yang berisi do'a ini. Begitu.
Jika suami sudah dukhul (masuk sekamar dengan isteri dalam keadaan kamar tertutup), sunnah bagi mereka untuk menyelenggarakan walimah. Tiga hari setelah dukhul lebih afdhal. Tapi di Indonesia, walimah biasa diselenggarakan tepat sesudah akad. Itu dulu, ya.... Semoga catatan ini dapat menjadi pengingat bagi kita, terutama yang akan menikah.
Zurtum (Kubur)
Bahasan dari ust. Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) di 23 Agustus mengenai kubur dimana kematian dunia hanya sementara. Kubur, hanya sebuah persinggahan. Semoga catatan ini bermanfaat untuk kita semua.
Apakah kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir? Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan bagi seorang mukmin pun, sama sekali tidak. Jika engkau mengimani agama ini sepenuh keyakinan, maka tidak patut menyebut, menganggap dan meyakini kubur sebagai peristirahatan terakhir. Sungguh, perkataan bahwa kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir hanya pantas diucapkan oleh orang yang tidak meyakini Hari Kemudian.
Tidakkah kita ingat firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an surat At-Takaatsur? Allah Ta'ala katakan "Hatta zurtumul-maqabir". Kata zurtum bermakna mengunjungi, mendatangi, tapi bukan menetap dan tinggal di dalamnya. Maka, masuk kubur bermakna transit. Ada tujuan berikutnya dan kubur merupakan ruang tunggu sebelum kita berangkat ke Padang Mahsyar untuk pengadilan massal.
Jika engkau merasakan kemacetan 13 atau 24 jam sebagai derita yang menyiksa, maka bayangkan sejenak betapa panjang antrian di Mahsyar. Tak ada tempat untuk istirahat kecuali bagi yang mendapat rahmat. Tak ada tempat untuk membeli minuman. Satu hari di akhirat, betapa lama. Inilah hari ketika matahari didekatkan sehingga panasnya melelehkan keringat hingga membanjir. Maka alangkah beratnya hari itu.
Mari kita renungi sejenak QS. At-Takaatsur yg di dalamnya Allah Ta'ala sebut kata zurtum. Semoga dapat menjadi pengingat bagi kita. "أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." QS. 102: 1.
Bermegah-megahan. Ia bukan bermakna membangun rumah yang megah. Tapi ia terkait dengan mereka yang berbangga-bangga menumpuk harta. Mereka bersibuk dengan kendaraan apa yang engkau punya. Dan sesudahnya, kendaraan apa lagi. Sesudahnya, apalagi yang di atasnya.
Mereka menakar kemuliaan diri dan manusia lain dari seberapa banyak aset yang ia punya. | Adakah itu kita?
Mereka menenggelamkan diri dalam kesibukan yang melenakan dan mereka berbangga-bangga dengannya. | Adakah itu kita?
Apa yg melenakan kita, lalu kita bermegah-megahan dengannya, bisa saja terkait hobby. | O ya, berapa banyak perkutut yang engkau punya?
Kita perlu berhati-hati, meski benda yang suka kita tumpuk-tumpuk adalah radio kuno, sebab kita dapat terkena ayat berikutnya. "حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ . Sampai kamu zurtum (berkunjung, masuk, datang) ke dalam kubur." QS. 102: 2.
Passion yang kita turuti, hobby yang kita tekuni dapat menjadikan kita lupa usia sehingga tak ada yang menghentikannya kecuali zurtum ke kubur.
Allah Ta'ala peringatkan, "كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ Jangan begitu! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)," QS. 102: 3.
Tidak cukupkah peringatan ini? Tidak cukup pulakah peringatan Nabi SAW. tentang keadaan akhir zaman ketika orang beramal akhirat untuk cari dunia?
Maka Allah peringatkan, " ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ Kemudian, jangan begitu! Kelak kamu akan mengetahui." QS. 102: 4.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan, "Ini adalah ancaman setelah ancaman!" Sebuah peringatan yang amat ditekankan.
Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar tak menjadikan dunia sebagai hasrat terbesarnya sehingga amal akhirat pun untuk dunia. Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar kecintaannya terhadap sesuatu tidak menjadikannya lalai.
"كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ Jangan begitu! Kalau saja kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." QS. 102: 5.
Maka betapa pentingnya mengilmui apa yang kita imani. Sudahkah itu ada pada kita?
"لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim." QS. 102: 6.
"ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ Kemudian, kamu pasti akan ditanya atas nikmat yang (kamu terima)." QS.102: 7.
Ingin berpanjang-panjang bahas tentang zurtum, tapi rasanya amat sedikit bekal. Semoga yang sekilas ini bermanfaat.
Apakah kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir? Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan bagi seorang mukmin pun, sama sekali tidak. Jika engkau mengimani agama ini sepenuh keyakinan, maka tidak patut menyebut, menganggap dan meyakini kubur sebagai peristirahatan terakhir. Sungguh, perkataan bahwa kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir hanya pantas diucapkan oleh orang yang tidak meyakini Hari Kemudian.
Tidakkah kita ingat firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an surat At-Takaatsur? Allah Ta'ala katakan "Hatta zurtumul-maqabir". Kata zurtum bermakna mengunjungi, mendatangi, tapi bukan menetap dan tinggal di dalamnya. Maka, masuk kubur bermakna transit. Ada tujuan berikutnya dan kubur merupakan ruang tunggu sebelum kita berangkat ke Padang Mahsyar untuk pengadilan massal.
Jika engkau merasakan kemacetan 13 atau 24 jam sebagai derita yang menyiksa, maka bayangkan sejenak betapa panjang antrian di Mahsyar. Tak ada tempat untuk istirahat kecuali bagi yang mendapat rahmat. Tak ada tempat untuk membeli minuman. Satu hari di akhirat, betapa lama. Inilah hari ketika matahari didekatkan sehingga panasnya melelehkan keringat hingga membanjir. Maka alangkah beratnya hari itu.
Mari kita renungi sejenak QS. At-Takaatsur yg di dalamnya Allah Ta'ala sebut kata zurtum. Semoga dapat menjadi pengingat bagi kita. "أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." QS. 102: 1.
Bermegah-megahan. Ia bukan bermakna membangun rumah yang megah. Tapi ia terkait dengan mereka yang berbangga-bangga menumpuk harta. Mereka bersibuk dengan kendaraan apa yang engkau punya. Dan sesudahnya, kendaraan apa lagi. Sesudahnya, apalagi yang di atasnya.
Mereka menakar kemuliaan diri dan manusia lain dari seberapa banyak aset yang ia punya. | Adakah itu kita?
Mereka menenggelamkan diri dalam kesibukan yang melenakan dan mereka berbangga-bangga dengannya. | Adakah itu kita?
Apa yg melenakan kita, lalu kita bermegah-megahan dengannya, bisa saja terkait hobby. | O ya, berapa banyak perkutut yang engkau punya?
Kita perlu berhati-hati, meski benda yang suka kita tumpuk-tumpuk adalah radio kuno, sebab kita dapat terkena ayat berikutnya. "حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ . Sampai kamu zurtum (berkunjung, masuk, datang) ke dalam kubur." QS. 102: 2.
Passion yang kita turuti, hobby yang kita tekuni dapat menjadikan kita lupa usia sehingga tak ada yang menghentikannya kecuali zurtum ke kubur.
Allah Ta'ala peringatkan, "كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ Jangan begitu! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)," QS. 102: 3.
Tidak cukupkah peringatan ini? Tidak cukup pulakah peringatan Nabi SAW. tentang keadaan akhir zaman ketika orang beramal akhirat untuk cari dunia?
Maka Allah peringatkan, " ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ Kemudian, jangan begitu! Kelak kamu akan mengetahui." QS. 102: 4.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan, "Ini adalah ancaman setelah ancaman!" Sebuah peringatan yang amat ditekankan.
Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar tak menjadikan dunia sebagai hasrat terbesarnya sehingga amal akhirat pun untuk dunia. Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar kecintaannya terhadap sesuatu tidak menjadikannya lalai.
"كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ Jangan begitu! Kalau saja kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." QS. 102: 5.
Maka betapa pentingnya mengilmui apa yang kita imani. Sudahkah itu ada pada kita?
"لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim." QS. 102: 6.
"ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ Kemudian, kamu pasti akan ditanya atas nikmat yang (kamu terima)." QS.102: 7.
Ingin berpanjang-panjang bahas tentang zurtum, tapi rasanya amat sedikit bekal. Semoga yang sekilas ini bermanfaat.
Wednesday, August 15, 2012
Fitnah
Sebagaimana Ramadhan ini menuju pada penghujung umurnya, demikian pula dengan bumi tempat kita berdiam sekarang akan menuju batas akhirnya. Sesungguhnya musibah terbesar umat ini adalah wafatnya Nabi SAW. Amat besar belas kasihnya kepada kita. Ia menunjuki kita jalan kepada-Nya.
Inilah masa ketika manusia mulai berselisih. Tetapi ketika itu, mereka --para shahabat radhiyallahu 'anhum-- masih dekat dengan petunjuk.
Hari ini kita hidup di masa yang amat jauh dari generasi terbaik. Banyak sunnah yang tak kita kenali, bercampur aduk dengan pendapat sendiri. Atas setiap perbedaan pendapat, kita enggan mencari jawab yang paling sesuai kehendak syari'at. Bahkan, tak lagi mampu bedakan antara perbedaan pendapat dengan penyimpangan pendapat. Padahal keduanya amat jauh beda. Yang pertama perlu kita hormati.
Inilah masa ketika kebodohan merajalela dan 'ilmu semakin memudar, kecuali hanya pada sedikit orang saja. Inilah masa ketika manusia amat mudah mengeluarkan fatwa, bahkan meski ia masih teramat jauh dari faqih. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika 'ulama berlomba mendekat kepada umara', berbangga apabila bermahkotakan kegemerlapan. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika fatwa mudah dikeluarkan demi mendukung hawa nafsu, ambisi dan syahwat. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika umat Islam terbagi-bagi dan mereka terpecah menjadi beberapa kelompok dan golongan. | Telah tibakah masa ini?
Ketika itu manusia mengambil pendapat bukan berdasar kuatnya hujjah dan terangnya dalil, tapi lebih menyandarkan kepada siapa yang berkata.
Dalam persoalan penentuan 'Id misalnya, kita tak bertanya apa pijakan nash-nya, tetapi lebih kepada "ikut siapa".
Inilah yang agama kita menyebutnya sebagai fitnah. Kapankah itu terjadi? Mari kita dengarkan penuturan Ibnu Mas'ud ra.: Rasulullah SAW. bersabda, "Bagaimana dengan kalian jika kalian tertimpa suatu fitnah yang di tengah-tengah fitnah tersebut orang dewasa menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia menjadikannya sebagai sunnah? Jika ada sedikit saja dari fitnah itu yang ditinggalkan orang, maka akan dikatakan, "Sunnah telah ditinggalkan?" Mereka (para shahabat ra. yang mendengar penuturan Ibnu Mas'ud ra.) bertanya, "Kapankah itu terjadi?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Ketika ulama' kalian telah pergi, para pembaca Al-Qur'an dari kalian BANYAK, tapi ulama kalian sedikit jumlahnya. Ketika pemimpin kalian cukup banyak, namun orang-orang yang jujur di antara kalian sedikit jumlahnya. Kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat dan ilmu dipelajari untuk selain kepentingan agama." HR. Ad-Darimi
Sekiranya kita hidup di masa itu --ataukah sekarang saatnya-- pembaca Al-Qur'an banyak, tetapi yang menjaga agama ini kurang. Maka ketika engkau mengingini anak-anakmu menjadi penghafal Al-Qur'an, sudahkah engkau siapkan landasannya agar tak salah arah?
Ramadhan segera berakhir. Sebagaimana hidup kita pun akan segera sampai kepada batas akhirnya. Telah amankah kita dari fitnah?
Sesungguhnya tidak ada musibah yang lebih besar melebihi wafatnya Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Sallam. Rasulullah SAW. bersabda, "Wahai manusia, barangsiapa di antara kalian --atau di antara orang-orang beriman-- ditimpa musibah, maka hendaklah ia menghibur diri dengan mengingat musibah wafatku dibandingkan dengan musibah lain yang menimpa dirinya. Karena sesungguhnya seseorang dari ummatku tidak akan ditimpa musibah yang lebih besar daripada musibah atas wafatnya diriku." HR. Ibnu Majah
Moh. Fauzil Adhim
Inilah masa ketika manusia mulai berselisih. Tetapi ketika itu, mereka --para shahabat radhiyallahu 'anhum-- masih dekat dengan petunjuk.
Hari ini kita hidup di masa yang amat jauh dari generasi terbaik. Banyak sunnah yang tak kita kenali, bercampur aduk dengan pendapat sendiri. Atas setiap perbedaan pendapat, kita enggan mencari jawab yang paling sesuai kehendak syari'at. Bahkan, tak lagi mampu bedakan antara perbedaan pendapat dengan penyimpangan pendapat. Padahal keduanya amat jauh beda. Yang pertama perlu kita hormati.
Inilah masa ketika kebodohan merajalela dan 'ilmu semakin memudar, kecuali hanya pada sedikit orang saja. Inilah masa ketika manusia amat mudah mengeluarkan fatwa, bahkan meski ia masih teramat jauh dari faqih. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika 'ulama berlomba mendekat kepada umara', berbangga apabila bermahkotakan kegemerlapan. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika fatwa mudah dikeluarkan demi mendukung hawa nafsu, ambisi dan syahwat. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika umat Islam terbagi-bagi dan mereka terpecah menjadi beberapa kelompok dan golongan. | Telah tibakah masa ini?
Ketika itu manusia mengambil pendapat bukan berdasar kuatnya hujjah dan terangnya dalil, tapi lebih menyandarkan kepada siapa yang berkata.
Dalam persoalan penentuan 'Id misalnya, kita tak bertanya apa pijakan nash-nya, tetapi lebih kepada "ikut siapa".
Inilah yang agama kita menyebutnya sebagai fitnah. Kapankah itu terjadi? Mari kita dengarkan penuturan Ibnu Mas'ud ra.: Rasulullah SAW. bersabda, "Bagaimana dengan kalian jika kalian tertimpa suatu fitnah yang di tengah-tengah fitnah tersebut orang dewasa menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia menjadikannya sebagai sunnah? Jika ada sedikit saja dari fitnah itu yang ditinggalkan orang, maka akan dikatakan, "Sunnah telah ditinggalkan?" Mereka (para shahabat ra. yang mendengar penuturan Ibnu Mas'ud ra.) bertanya, "Kapankah itu terjadi?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Ketika ulama' kalian telah pergi, para pembaca Al-Qur'an dari kalian BANYAK, tapi ulama kalian sedikit jumlahnya. Ketika pemimpin kalian cukup banyak, namun orang-orang yang jujur di antara kalian sedikit jumlahnya. Kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat dan ilmu dipelajari untuk selain kepentingan agama." HR. Ad-Darimi
Sekiranya kita hidup di masa itu --ataukah sekarang saatnya-- pembaca Al-Qur'an banyak, tetapi yang menjaga agama ini kurang. Maka ketika engkau mengingini anak-anakmu menjadi penghafal Al-Qur'an, sudahkah engkau siapkan landasannya agar tak salah arah?
Ramadhan segera berakhir. Sebagaimana hidup kita pun akan segera sampai kepada batas akhirnya. Telah amankah kita dari fitnah?
Sesungguhnya tidak ada musibah yang lebih besar melebihi wafatnya Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Sallam. Rasulullah SAW. bersabda, "Wahai manusia, barangsiapa di antara kalian --atau di antara orang-orang beriman-- ditimpa musibah, maka hendaklah ia menghibur diri dengan mengingat musibah wafatku dibandingkan dengan musibah lain yang menimpa dirinya. Karena sesungguhnya seseorang dari ummatku tidak akan ditimpa musibah yang lebih besar daripada musibah atas wafatnya diriku." HR. Ibnu Majah
Moh. Fauzil Adhim
Subscribe to:
Posts (Atom)