Mahar adalah pemberian yang wajib kepada wanita sebagai syarat nikah. Jika setelah nikah diberikan kepada suami, itu dibolehkan (Qs. An-Nisa’ : 4)
Mahar merupakan syarat sah pernikahan. Pernikahan tanpa mahar tidak sah, meski wanita ridha untuk tidak dapatkan mahar.
Jenis-jenis #mahar : Bisa berupa Harta, Jasa atau Manfaat yg bisa diambil oleh wanita yg akan dinikahi. Antara lain:
a. Harta (materi) dengan berbagai bentuknya. Bisa uang, perhiasan, kendaraan dll
b. Jasa: Nabi Syu’aib menikahkan anaknya dg mahar Musa bekerja pdnya 8 tahun (Qs. Al-Qashash: 27)
c. Manfaat yang bisa diambil wanita, seperti: Keislaman calon suami’ Contoh : Abu Thalhah dengan Ummu Sulaim (HR. An-Nasa’I). Atau hafalan Al-Qur’an. Nabi menikahkan seorang sahabat dengan mahar beberapa surat Al-Qur’an hafalannya (HR. Bukhari & Muslim)
Mahar adalah hak penuh mempelai wanita. Tidak boleh hak tersebut diambil kecuali bila wanita tersebut merelakannya.
Islam menganjurkan agar meringankan mahar. Nabi bersabda, Sebaik2 mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan). (HR. al-Hakim).
Hikmah meringankan mahar :Mempermudah proses pernikahan. Berapa banyak laki-laki yang mundur akibat mahar yang tinggi? Bahkan ada sebagian daerah yang mensyaratkan pemberian mahar yang tergolong tinggi mencapai ratusan juta rupiah.
Wanita mestinya bisa bersikap bijak. Tidak masalah jika laki-laki tersebut mampu dan kaya. Kalau tidak? Terutama jika yg datang adalah laki-laki yang baik agamanya dan bertanggungjawab tapi masih belum mampu.
Banyak wanita terlambat menikah karena maharnya terlalu tinggi sehingga laki-laki harus menabung bertahun-tahun untuk memenuhi maharnya. Padahal Nabi bersabda, Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah. (HR. Abu Dawud)
Tidak boleh suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan sebuah pengkhianatan. Nabi bersabda,Syarat yang paling berhak kamu penuhi adalah persyaratan yang dengannya kalian halalkan seorang wanita (HR. Bukhari)
Demikian sekilas bahasan tentang mahar. Semoga bermanfaat.
Monday, August 27, 2012
Sunday, August 26, 2012
berbincang tentang MENAWARKAN DIRI
Bahasan ini diulas pada 21 Agustus oleh Ust. Moh. Fauzil Adhim (@kupinang).
Sejenak ingin berbincang tentang menawarkan diri. Semoga bermanfaat bagi muslimah yang ingin menjaga agama dan menyempurnakannya.
Menikah merupakan sunnah yang diagungkan oleh Allah. Al Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yg sangat berat).
Mitsaqan ghalizha adalah perjanjian yang paling kuat di hadapan Allah. Hanya tiga kali Al-Qur’an menyebut mitsaqan ghalizha.
Hanya untuk tiga perjanjian Allah memberi nama mitsaqan ghalizha. Dua perjanjian berkenaan dengan tauhid, yaitu perjanjian Allah dengan Bani Israel yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina ketika mengambil sumpah. Sedang yang lain adalah perjanjian Allah dengan para Nabi Ulul Azmi, Nabi yang paling utama di antara para Nabi. Dan, pernikahan termasuk perjanjian yang oleh Allah digolongkan sebagai mitsaqan ghalizha.
Setiap jalan menuju mitsaqan ghalizha dimuliakan oleh Allah. Islam berikan penghormatan yang suci kepada niat dan ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis.
Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kekuatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah adalah teladan pertama bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri. Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlak dan kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah dan untuk mendapatkan pahala-Nya. Yakinlah, Allah pasti akan mencatatnya sebagai kemuliaan dan mujahadah (perjuangan) suci. Jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat.
Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap mujahadah saudaranya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki kehormatan kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. Seorang laki-laki akan sangat hormat, setia dan menaruh kasih sayang mendalam jika ia terima tawaran wanita shalihah untuk menikahi.
Semoga Allah menambahkan kemuliaan dalam keluarganya dan memberikan keturunan yang meninggikan derajat orangtua di hadapan Allah.
Kalau terhalang untuk menerima tawaran, maka pada diri laki-laki akan tumbuh rasa hormat, segan, dan respek terhadapnya.
Sungguh, saya sangat hormat kepada mereka yang berani bermujahadah. Kepada mereka, saya ingin menyampaikan salam hormat saya. Semoga Allah memberi pertolongan dan ridha-Nya kepada kita semua sampai kelak Allah mengumpulkan di akhirat. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka bersama Khadijah di Al Haudh. Allahumma amin.
Saya ingin membahas masalah ini lebih lanjut, mengingat pentingnya masalah ini. Sedang sikap seperti ini merupakan sikap yang dimuliakan. Saat ini cukuplah dengan melihat contoh yang tercatat dalam sejarah. Imam Bukhari menuturkan cerita dari Anas ra.. Ada seorang wanita datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW. dan berkata, “Ya, Rasulullah! Apakah engkau membutuhkan daku?” Putri Anas ra. yang hadir dan mendengar perkataan wanita itu mencela sebagai wanita yang tidak punya harga diri dan rasa malu, “Alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas berkata kepada putrinya, “Dia lebih baik darimu. Dia senang kepada Rasulullah SAW, lalu menawarkan dirinya untuk beliau!” HR. Bukhari
Betapa pun demikian, seseorang tidak boleh berlaku serampangan. Perhatikan adab, perhatikan ilmunya sebelum menawarkan diri. Dan tidak ada jalan hidup yang sempurna dan Allah Ta’ala ridhai selain Islam. Maka pelajarilah agama ini.
Sejenak ingin berbincang tentang menawarkan diri. Semoga bermanfaat bagi muslimah yang ingin menjaga agama dan menyempurnakannya.
Menikah merupakan sunnah yang diagungkan oleh Allah. Al Qur’an menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yg sangat berat).
Mitsaqan ghalizha adalah perjanjian yang paling kuat di hadapan Allah. Hanya tiga kali Al-Qur’an menyebut mitsaqan ghalizha.
Hanya untuk tiga perjanjian Allah memberi nama mitsaqan ghalizha. Dua perjanjian berkenaan dengan tauhid, yaitu perjanjian Allah dengan Bani Israel yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina ketika mengambil sumpah. Sedang yang lain adalah perjanjian Allah dengan para Nabi Ulul Azmi, Nabi yang paling utama di antara para Nabi. Dan, pernikahan termasuk perjanjian yang oleh Allah digolongkan sebagai mitsaqan ghalizha.
Setiap jalan menuju mitsaqan ghalizha dimuliakan oleh Allah. Islam berikan penghormatan yang suci kepada niat dan ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis.
Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kekuatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah adalah teladan pertama bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri. Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlak dan kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah dan untuk mendapatkan pahala-Nya. Yakinlah, Allah pasti akan mencatatnya sebagai kemuliaan dan mujahadah (perjuangan) suci. Jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat.
Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap mujahadah saudaranya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki kehormatan kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. Seorang laki-laki akan sangat hormat, setia dan menaruh kasih sayang mendalam jika ia terima tawaran wanita shalihah untuk menikahi.
Semoga Allah menambahkan kemuliaan dalam keluarganya dan memberikan keturunan yang meninggikan derajat orangtua di hadapan Allah.
Kalau terhalang untuk menerima tawaran, maka pada diri laki-laki akan tumbuh rasa hormat, segan, dan respek terhadapnya.
Sungguh, saya sangat hormat kepada mereka yang berani bermujahadah. Kepada mereka, saya ingin menyampaikan salam hormat saya. Semoga Allah memberi pertolongan dan ridha-Nya kepada kita semua sampai kelak Allah mengumpulkan di akhirat. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka bersama Khadijah di Al Haudh. Allahumma amin.
Saya ingin membahas masalah ini lebih lanjut, mengingat pentingnya masalah ini. Sedang sikap seperti ini merupakan sikap yang dimuliakan. Saat ini cukuplah dengan melihat contoh yang tercatat dalam sejarah. Imam Bukhari menuturkan cerita dari Anas ra.. Ada seorang wanita datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW. dan berkata, “Ya, Rasulullah! Apakah engkau membutuhkan daku?” Putri Anas ra. yang hadir dan mendengar perkataan wanita itu mencela sebagai wanita yang tidak punya harga diri dan rasa malu, “Alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas berkata kepada putrinya, “Dia lebih baik darimu. Dia senang kepada Rasulullah SAW, lalu menawarkan dirinya untuk beliau!” HR. Bukhari
Betapa pun demikian, seseorang tidak boleh berlaku serampangan. Perhatikan adab, perhatikan ilmunya sebelum menawarkan diri. Dan tidak ada jalan hidup yang sempurna dan Allah Ta’ala ridhai selain Islam. Maka pelajarilah agama ini.
ZAFAF
Pembahasan mengenai malam awal pernikahan oleh Ust. Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) pada 21 Agustus. Semoga bermanfaat.
InsyaAllah saya akan berbincang tentang nikah, terutama saya peruntukkan bagi yang mau melangsungkan akad nikah besok atau lusa.
Semoga Allah Ta’ala karuniakan taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Kepada Allah Ta’ala saya memohon petunjuk. Sesungguhnya nikah itu termasuk sunnah Rasul. Maka, tempuhlah jalan pernikahan untuk mengikuti sunnah. Jalani pernikahan untuk memuliakan sunnah dan menetapi sunnah. Maka perhatikan sunnah yang mengiringi pernikahan.
Di antara sunnah pada malam zafaf --mudahnya kita sebut malam pertama-- adalah suami membaca do'a dengan mengecup ubun-ubun istri. Hal ini berpijak pada hadist riwayat Abu Dawud. Pun diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Maka ketika saatnya tiba, awalilah dengan bincang lembut. Sekiranya tersedia, segelas susu atau minuman lainnya untuk diminum berdua. Bersikaplah lembut agar salah tingkah itu reda.
Jika hatimu telah siap, letakkan tanganmu di atas kening isterimu yang baru saja engkau nikahi. Kecuplah dan ucapkan basmalah. Lalu bacalah do'a dengan sepenuh pinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Semoga pernikahanmu penuh barakah. Bacalah dan panjatkan do'a: "اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ" HR. Abu Dawud & Ibnu Majah, lafaz ini pada Abu Dawud. "Allahumma inni as aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha alaihi wa a’udzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaihi" yang artinya, "Ya Allah, aku memohon kebaikannya & kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya & kejelekan tabiat yang ia bawa."
Disunnahkan bagi kedua mempelai yang baru menikah untuk melaksanakan shalat sunnah 2 raka'at pada malam zafaf. Semoga Allah limpahi barakah.
'Abdullah bin Mas'ud brkata kpd seseorang yg baru menikah, "فَإِذَا أَتَتْكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَيْنِ"
“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat di belakangmu.” HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah.
Berdasarkan atsar para sahabat, dari riwayat Abu Said, maula Abu Usaid, para sahabat radhiyallahu 'anhum mengajarkan shalat sunnah. Para sahabat mengajarkan, "إِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمْ سَلِّ اللهَ مِنْ خَيْرِ مَا دَخَلَ عَلَيْكَ ، وَتَعَوُّذْ بِهِ مِنْ شَرِّهِ ، ثُمَّ شَأنُكَ وَشَأْنُ أَهْلِكَ"
Para sahabat radhiyallahu 'anhum mengajarkan, "Jika istrimu menghampirimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan apa yang datang kepadamu, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya. Kemudian terserah kepadamu dan istrimu.” HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah, sanadnya shahih sampai kepada Abu Sa’id.
Perlu kita pahami terkait ungkapan "jika isterimu datang...". Pada masa itu, seorang perempuan diantar ke rumah suami setelah akad. Hari ini di negeri kita, suami-isteri bahkan langsung bertemu beberapa menit sesudah akad nikah berlangsung. Tak menunggu lama.
Banyak ulama' yang menukil kitab khusus tentang Adabuz Zifaf. Jika pembahasan tentang hal tersebut menunjukkan waktu malam, lebih karena ketika itu suami-isteri baru bertemu pada malam hari. Tapi hari ini situasinya agak berbeda. Wallahu a'lam.
Maka jika engkau rasa waktu malam terlalu lama untuk dinanti, maka ketahuilah bahwa sunnah itu terkait dengan saat ketika engkau pertama berkesempatan dukhul, yakni masuknya engkau berdua di kamar dalam keadaan tertutup & tidak ada halangan untuk melakukan apa yang patut dilakukan oleh suami-isteri yang baru menikah. (Maaf, kalimatnya agak mbulet).
Setelah melaksanakan shalat sunnah 2 raka'at, berdo'alah dengan do'a: اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ" atau do'a lain.
Saya telah membahas tentang ini di buku Kado Pernikahan untuk Isteriku. Tetapi tentu saja terlalu tebal buat pengantin baru.
Bila engkau bermaksud melakukan hubungan suami-isteri, jangan lupa membaca do'a yang dituntunkan. "بِسْمِ اللهِ ، اَللَّهُمَّ جَنِبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِبِ الشَّيْطاَنَ مَا رَزَقْتَنَا" Muttafaq 'Alaih.
"Bismillah. Allahumma janibnasy syaithaan wa janibisy syaithan ma razaqtana."
“Bismillah, ya Allah, jauhkan syaithan dari kami, dan jauhkan syaithan dari apa yang engkau anugerahkan kepada kami.”
Maaf, saya merasa harus menampilkan do'a berhubungan badan ini karena ternyata banyak ikhwah yang belum tahu sehingga penerbit @proumedia merasa perlu memajang kaligrafi yang berisi do'a ini. Begitu.
Jika suami sudah dukhul (masuk sekamar dengan isteri dalam keadaan kamar tertutup), sunnah bagi mereka untuk menyelenggarakan walimah. Tiga hari setelah dukhul lebih afdhal. Tapi di Indonesia, walimah biasa diselenggarakan tepat sesudah akad. Itu dulu, ya.... Semoga catatan ini dapat menjadi pengingat bagi kita, terutama yang akan menikah.
InsyaAllah saya akan berbincang tentang nikah, terutama saya peruntukkan bagi yang mau melangsungkan akad nikah besok atau lusa.
Semoga Allah Ta’ala karuniakan taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Kepada Allah Ta’ala saya memohon petunjuk. Sesungguhnya nikah itu termasuk sunnah Rasul. Maka, tempuhlah jalan pernikahan untuk mengikuti sunnah. Jalani pernikahan untuk memuliakan sunnah dan menetapi sunnah. Maka perhatikan sunnah yang mengiringi pernikahan.
Di antara sunnah pada malam zafaf --mudahnya kita sebut malam pertama-- adalah suami membaca do'a dengan mengecup ubun-ubun istri. Hal ini berpijak pada hadist riwayat Abu Dawud. Pun diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Maka ketika saatnya tiba, awalilah dengan bincang lembut. Sekiranya tersedia, segelas susu atau minuman lainnya untuk diminum berdua. Bersikaplah lembut agar salah tingkah itu reda.
Jika hatimu telah siap, letakkan tanganmu di atas kening isterimu yang baru saja engkau nikahi. Kecuplah dan ucapkan basmalah. Lalu bacalah do'a dengan sepenuh pinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Semoga pernikahanmu penuh barakah. Bacalah dan panjatkan do'a: "اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ" HR. Abu Dawud & Ibnu Majah, lafaz ini pada Abu Dawud. "Allahumma inni as aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha alaihi wa a’udzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaihi" yang artinya, "Ya Allah, aku memohon kebaikannya & kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya & kejelekan tabiat yang ia bawa."
Disunnahkan bagi kedua mempelai yang baru menikah untuk melaksanakan shalat sunnah 2 raka'at pada malam zafaf. Semoga Allah limpahi barakah.
'Abdullah bin Mas'ud brkata kpd seseorang yg baru menikah, "فَإِذَا أَتَتْكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَيْنِ"
“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat di belakangmu.” HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah.
Berdasarkan atsar para sahabat, dari riwayat Abu Said, maula Abu Usaid, para sahabat radhiyallahu 'anhum mengajarkan shalat sunnah. Para sahabat mengajarkan, "إِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمْ سَلِّ اللهَ مِنْ خَيْرِ مَا دَخَلَ عَلَيْكَ ، وَتَعَوُّذْ بِهِ مِنْ شَرِّهِ ، ثُمَّ شَأنُكَ وَشَأْنُ أَهْلِكَ"
Para sahabat radhiyallahu 'anhum mengajarkan, "Jika istrimu menghampirimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah kepada Allah kebaikan apa yang datang kepadamu, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya. Kemudian terserah kepadamu dan istrimu.” HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah, sanadnya shahih sampai kepada Abu Sa’id.
Perlu kita pahami terkait ungkapan "jika isterimu datang...". Pada masa itu, seorang perempuan diantar ke rumah suami setelah akad. Hari ini di negeri kita, suami-isteri bahkan langsung bertemu beberapa menit sesudah akad nikah berlangsung. Tak menunggu lama.
Banyak ulama' yang menukil kitab khusus tentang Adabuz Zifaf. Jika pembahasan tentang hal tersebut menunjukkan waktu malam, lebih karena ketika itu suami-isteri baru bertemu pada malam hari. Tapi hari ini situasinya agak berbeda. Wallahu a'lam.
Maka jika engkau rasa waktu malam terlalu lama untuk dinanti, maka ketahuilah bahwa sunnah itu terkait dengan saat ketika engkau pertama berkesempatan dukhul, yakni masuknya engkau berdua di kamar dalam keadaan tertutup & tidak ada halangan untuk melakukan apa yang patut dilakukan oleh suami-isteri yang baru menikah. (Maaf, kalimatnya agak mbulet).
Setelah melaksanakan shalat sunnah 2 raka'at, berdo'alah dengan do'a: اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ" atau do'a lain.
Saya telah membahas tentang ini di buku Kado Pernikahan untuk Isteriku. Tetapi tentu saja terlalu tebal buat pengantin baru.
Bila engkau bermaksud melakukan hubungan suami-isteri, jangan lupa membaca do'a yang dituntunkan. "بِسْمِ اللهِ ، اَللَّهُمَّ جَنِبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِبِ الشَّيْطاَنَ مَا رَزَقْتَنَا" Muttafaq 'Alaih.
"Bismillah. Allahumma janibnasy syaithaan wa janibisy syaithan ma razaqtana."
“Bismillah, ya Allah, jauhkan syaithan dari kami, dan jauhkan syaithan dari apa yang engkau anugerahkan kepada kami.”
Maaf, saya merasa harus menampilkan do'a berhubungan badan ini karena ternyata banyak ikhwah yang belum tahu sehingga penerbit @proumedia merasa perlu memajang kaligrafi yang berisi do'a ini. Begitu.
Jika suami sudah dukhul (masuk sekamar dengan isteri dalam keadaan kamar tertutup), sunnah bagi mereka untuk menyelenggarakan walimah. Tiga hari setelah dukhul lebih afdhal. Tapi di Indonesia, walimah biasa diselenggarakan tepat sesudah akad. Itu dulu, ya.... Semoga catatan ini dapat menjadi pengingat bagi kita, terutama yang akan menikah.
Zurtum (Kubur)
Bahasan dari ust. Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) di 23 Agustus mengenai kubur dimana kematian dunia hanya sementara. Kubur, hanya sebuah persinggahan. Semoga catatan ini bermanfaat untuk kita semua.
Apakah kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir? Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan bagi seorang mukmin pun, sama sekali tidak. Jika engkau mengimani agama ini sepenuh keyakinan, maka tidak patut menyebut, menganggap dan meyakini kubur sebagai peristirahatan terakhir. Sungguh, perkataan bahwa kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir hanya pantas diucapkan oleh orang yang tidak meyakini Hari Kemudian.
Tidakkah kita ingat firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an surat At-Takaatsur? Allah Ta'ala katakan "Hatta zurtumul-maqabir". Kata zurtum bermakna mengunjungi, mendatangi, tapi bukan menetap dan tinggal di dalamnya. Maka, masuk kubur bermakna transit. Ada tujuan berikutnya dan kubur merupakan ruang tunggu sebelum kita berangkat ke Padang Mahsyar untuk pengadilan massal.
Jika engkau merasakan kemacetan 13 atau 24 jam sebagai derita yang menyiksa, maka bayangkan sejenak betapa panjang antrian di Mahsyar. Tak ada tempat untuk istirahat kecuali bagi yang mendapat rahmat. Tak ada tempat untuk membeli minuman. Satu hari di akhirat, betapa lama. Inilah hari ketika matahari didekatkan sehingga panasnya melelehkan keringat hingga membanjir. Maka alangkah beratnya hari itu.
Mari kita renungi sejenak QS. At-Takaatsur yg di dalamnya Allah Ta'ala sebut kata zurtum. Semoga dapat menjadi pengingat bagi kita. "أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." QS. 102: 1.
Bermegah-megahan. Ia bukan bermakna membangun rumah yang megah. Tapi ia terkait dengan mereka yang berbangga-bangga menumpuk harta. Mereka bersibuk dengan kendaraan apa yang engkau punya. Dan sesudahnya, kendaraan apa lagi. Sesudahnya, apalagi yang di atasnya.
Mereka menakar kemuliaan diri dan manusia lain dari seberapa banyak aset yang ia punya. | Adakah itu kita?
Mereka menenggelamkan diri dalam kesibukan yang melenakan dan mereka berbangga-bangga dengannya. | Adakah itu kita?
Apa yg melenakan kita, lalu kita bermegah-megahan dengannya, bisa saja terkait hobby. | O ya, berapa banyak perkutut yang engkau punya?
Kita perlu berhati-hati, meski benda yang suka kita tumpuk-tumpuk adalah radio kuno, sebab kita dapat terkena ayat berikutnya. "حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ . Sampai kamu zurtum (berkunjung, masuk, datang) ke dalam kubur." QS. 102: 2.
Passion yang kita turuti, hobby yang kita tekuni dapat menjadikan kita lupa usia sehingga tak ada yang menghentikannya kecuali zurtum ke kubur.
Allah Ta'ala peringatkan, "كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ Jangan begitu! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)," QS. 102: 3.
Tidak cukupkah peringatan ini? Tidak cukup pulakah peringatan Nabi SAW. tentang keadaan akhir zaman ketika orang beramal akhirat untuk cari dunia?
Maka Allah peringatkan, " ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ Kemudian, jangan begitu! Kelak kamu akan mengetahui." QS. 102: 4.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan, "Ini adalah ancaman setelah ancaman!" Sebuah peringatan yang amat ditekankan.
Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar tak menjadikan dunia sebagai hasrat terbesarnya sehingga amal akhirat pun untuk dunia. Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar kecintaannya terhadap sesuatu tidak menjadikannya lalai.
"كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ Jangan begitu! Kalau saja kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." QS. 102: 5.
Maka betapa pentingnya mengilmui apa yang kita imani. Sudahkah itu ada pada kita?
"لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim." QS. 102: 6.
"ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ Kemudian, kamu pasti akan ditanya atas nikmat yang (kamu terima)." QS.102: 7.
Ingin berpanjang-panjang bahas tentang zurtum, tapi rasanya amat sedikit bekal. Semoga yang sekilas ini bermanfaat.
Apakah kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir? Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan bagi seorang mukmin pun, sama sekali tidak. Jika engkau mengimani agama ini sepenuh keyakinan, maka tidak patut menyebut, menganggap dan meyakini kubur sebagai peristirahatan terakhir. Sungguh, perkataan bahwa kubur merupakan tempat peristirahatan terakhir hanya pantas diucapkan oleh orang yang tidak meyakini Hari Kemudian.
Tidakkah kita ingat firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an surat At-Takaatsur? Allah Ta'ala katakan "Hatta zurtumul-maqabir". Kata zurtum bermakna mengunjungi, mendatangi, tapi bukan menetap dan tinggal di dalamnya. Maka, masuk kubur bermakna transit. Ada tujuan berikutnya dan kubur merupakan ruang tunggu sebelum kita berangkat ke Padang Mahsyar untuk pengadilan massal.
Jika engkau merasakan kemacetan 13 atau 24 jam sebagai derita yang menyiksa, maka bayangkan sejenak betapa panjang antrian di Mahsyar. Tak ada tempat untuk istirahat kecuali bagi yang mendapat rahmat. Tak ada tempat untuk membeli minuman. Satu hari di akhirat, betapa lama. Inilah hari ketika matahari didekatkan sehingga panasnya melelehkan keringat hingga membanjir. Maka alangkah beratnya hari itu.
Mari kita renungi sejenak QS. At-Takaatsur yg di dalamnya Allah Ta'ala sebut kata zurtum. Semoga dapat menjadi pengingat bagi kita. "أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." QS. 102: 1.
Bermegah-megahan. Ia bukan bermakna membangun rumah yang megah. Tapi ia terkait dengan mereka yang berbangga-bangga menumpuk harta. Mereka bersibuk dengan kendaraan apa yang engkau punya. Dan sesudahnya, kendaraan apa lagi. Sesudahnya, apalagi yang di atasnya.
Mereka menakar kemuliaan diri dan manusia lain dari seberapa banyak aset yang ia punya. | Adakah itu kita?
Mereka menenggelamkan diri dalam kesibukan yang melenakan dan mereka berbangga-bangga dengannya. | Adakah itu kita?
Apa yg melenakan kita, lalu kita bermegah-megahan dengannya, bisa saja terkait hobby. | O ya, berapa banyak perkutut yang engkau punya?
Kita perlu berhati-hati, meski benda yang suka kita tumpuk-tumpuk adalah radio kuno, sebab kita dapat terkena ayat berikutnya. "حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ . Sampai kamu zurtum (berkunjung, masuk, datang) ke dalam kubur." QS. 102: 2.
Passion yang kita turuti, hobby yang kita tekuni dapat menjadikan kita lupa usia sehingga tak ada yang menghentikannya kecuali zurtum ke kubur.
Allah Ta'ala peringatkan, "كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ Jangan begitu! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)," QS. 102: 3.
Tidak cukupkah peringatan ini? Tidak cukup pulakah peringatan Nabi SAW. tentang keadaan akhir zaman ketika orang beramal akhirat untuk cari dunia?
Maka Allah peringatkan, " ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ Kemudian, jangan begitu! Kelak kamu akan mengetahui." QS. 102: 4.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan, "Ini adalah ancaman setelah ancaman!" Sebuah peringatan yang amat ditekankan.
Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar tak menjadikan dunia sebagai hasrat terbesarnya sehingga amal akhirat pun untuk dunia. Inilah peringatan bagi orang-orang beriman agar kecintaannya terhadap sesuatu tidak menjadikannya lalai.
"كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ Jangan begitu! Kalau saja kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin." QS. 102: 5.
Maka betapa pentingnya mengilmui apa yang kita imani. Sudahkah itu ada pada kita?
"لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim." QS. 102: 6.
"ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ Kemudian, kamu pasti akan ditanya atas nikmat yang (kamu terima)." QS.102: 7.
Ingin berpanjang-panjang bahas tentang zurtum, tapi rasanya amat sedikit bekal. Semoga yang sekilas ini bermanfaat.
Wednesday, August 15, 2012
Fitnah
Sebagaimana Ramadhan ini menuju pada penghujung umurnya, demikian pula dengan bumi tempat kita berdiam sekarang akan menuju batas akhirnya. Sesungguhnya musibah terbesar umat ini adalah wafatnya Nabi SAW. Amat besar belas kasihnya kepada kita. Ia menunjuki kita jalan kepada-Nya.
Inilah masa ketika manusia mulai berselisih. Tetapi ketika itu, mereka --para shahabat radhiyallahu 'anhum-- masih dekat dengan petunjuk.
Hari ini kita hidup di masa yang amat jauh dari generasi terbaik. Banyak sunnah yang tak kita kenali, bercampur aduk dengan pendapat sendiri. Atas setiap perbedaan pendapat, kita enggan mencari jawab yang paling sesuai kehendak syari'at. Bahkan, tak lagi mampu bedakan antara perbedaan pendapat dengan penyimpangan pendapat. Padahal keduanya amat jauh beda. Yang pertama perlu kita hormati.
Inilah masa ketika kebodohan merajalela dan 'ilmu semakin memudar, kecuali hanya pada sedikit orang saja. Inilah masa ketika manusia amat mudah mengeluarkan fatwa, bahkan meski ia masih teramat jauh dari faqih. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika 'ulama berlomba mendekat kepada umara', berbangga apabila bermahkotakan kegemerlapan. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika fatwa mudah dikeluarkan demi mendukung hawa nafsu, ambisi dan syahwat. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika umat Islam terbagi-bagi dan mereka terpecah menjadi beberapa kelompok dan golongan. | Telah tibakah masa ini?
Ketika itu manusia mengambil pendapat bukan berdasar kuatnya hujjah dan terangnya dalil, tapi lebih menyandarkan kepada siapa yang berkata.
Dalam persoalan penentuan 'Id misalnya, kita tak bertanya apa pijakan nash-nya, tetapi lebih kepada "ikut siapa".
Inilah yang agama kita menyebutnya sebagai fitnah. Kapankah itu terjadi? Mari kita dengarkan penuturan Ibnu Mas'ud ra.: Rasulullah SAW. bersabda, "Bagaimana dengan kalian jika kalian tertimpa suatu fitnah yang di tengah-tengah fitnah tersebut orang dewasa menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia menjadikannya sebagai sunnah? Jika ada sedikit saja dari fitnah itu yang ditinggalkan orang, maka akan dikatakan, "Sunnah telah ditinggalkan?" Mereka (para shahabat ra. yang mendengar penuturan Ibnu Mas'ud ra.) bertanya, "Kapankah itu terjadi?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Ketika ulama' kalian telah pergi, para pembaca Al-Qur'an dari kalian BANYAK, tapi ulama kalian sedikit jumlahnya. Ketika pemimpin kalian cukup banyak, namun orang-orang yang jujur di antara kalian sedikit jumlahnya. Kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat dan ilmu dipelajari untuk selain kepentingan agama." HR. Ad-Darimi
Sekiranya kita hidup di masa itu --ataukah sekarang saatnya-- pembaca Al-Qur'an banyak, tetapi yang menjaga agama ini kurang. Maka ketika engkau mengingini anak-anakmu menjadi penghafal Al-Qur'an, sudahkah engkau siapkan landasannya agar tak salah arah?
Ramadhan segera berakhir. Sebagaimana hidup kita pun akan segera sampai kepada batas akhirnya. Telah amankah kita dari fitnah?
Sesungguhnya tidak ada musibah yang lebih besar melebihi wafatnya Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Sallam. Rasulullah SAW. bersabda, "Wahai manusia, barangsiapa di antara kalian --atau di antara orang-orang beriman-- ditimpa musibah, maka hendaklah ia menghibur diri dengan mengingat musibah wafatku dibandingkan dengan musibah lain yang menimpa dirinya. Karena sesungguhnya seseorang dari ummatku tidak akan ditimpa musibah yang lebih besar daripada musibah atas wafatnya diriku." HR. Ibnu Majah
Moh. Fauzil Adhim
Inilah masa ketika manusia mulai berselisih. Tetapi ketika itu, mereka --para shahabat radhiyallahu 'anhum-- masih dekat dengan petunjuk.
Hari ini kita hidup di masa yang amat jauh dari generasi terbaik. Banyak sunnah yang tak kita kenali, bercampur aduk dengan pendapat sendiri. Atas setiap perbedaan pendapat, kita enggan mencari jawab yang paling sesuai kehendak syari'at. Bahkan, tak lagi mampu bedakan antara perbedaan pendapat dengan penyimpangan pendapat. Padahal keduanya amat jauh beda. Yang pertama perlu kita hormati.
Inilah masa ketika kebodohan merajalela dan 'ilmu semakin memudar, kecuali hanya pada sedikit orang saja. Inilah masa ketika manusia amat mudah mengeluarkan fatwa, bahkan meski ia masih teramat jauh dari faqih. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika 'ulama berlomba mendekat kepada umara', berbangga apabila bermahkotakan kegemerlapan. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika fatwa mudah dikeluarkan demi mendukung hawa nafsu, ambisi dan syahwat. | Telah tibakah masa ini?
Inilah masa ketika umat Islam terbagi-bagi dan mereka terpecah menjadi beberapa kelompok dan golongan. | Telah tibakah masa ini?
Ketika itu manusia mengambil pendapat bukan berdasar kuatnya hujjah dan terangnya dalil, tapi lebih menyandarkan kepada siapa yang berkata.
Dalam persoalan penentuan 'Id misalnya, kita tak bertanya apa pijakan nash-nya, tetapi lebih kepada "ikut siapa".
Inilah yang agama kita menyebutnya sebagai fitnah. Kapankah itu terjadi? Mari kita dengarkan penuturan Ibnu Mas'ud ra.: Rasulullah SAW. bersabda, "Bagaimana dengan kalian jika kalian tertimpa suatu fitnah yang di tengah-tengah fitnah tersebut orang dewasa menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia menjadikannya sebagai sunnah? Jika ada sedikit saja dari fitnah itu yang ditinggalkan orang, maka akan dikatakan, "Sunnah telah ditinggalkan?" Mereka (para shahabat ra. yang mendengar penuturan Ibnu Mas'ud ra.) bertanya, "Kapankah itu terjadi?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Ketika ulama' kalian telah pergi, para pembaca Al-Qur'an dari kalian BANYAK, tapi ulama kalian sedikit jumlahnya. Ketika pemimpin kalian cukup banyak, namun orang-orang yang jujur di antara kalian sedikit jumlahnya. Kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat dan ilmu dipelajari untuk selain kepentingan agama." HR. Ad-Darimi
Sekiranya kita hidup di masa itu --ataukah sekarang saatnya-- pembaca Al-Qur'an banyak, tetapi yang menjaga agama ini kurang. Maka ketika engkau mengingini anak-anakmu menjadi penghafal Al-Qur'an, sudahkah engkau siapkan landasannya agar tak salah arah?
Ramadhan segera berakhir. Sebagaimana hidup kita pun akan segera sampai kepada batas akhirnya. Telah amankah kita dari fitnah?
Sesungguhnya tidak ada musibah yang lebih besar melebihi wafatnya Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Sallam. Rasulullah SAW. bersabda, "Wahai manusia, barangsiapa di antara kalian --atau di antara orang-orang beriman-- ditimpa musibah, maka hendaklah ia menghibur diri dengan mengingat musibah wafatku dibandingkan dengan musibah lain yang menimpa dirinya. Karena sesungguhnya seseorang dari ummatku tidak akan ditimpa musibah yang lebih besar daripada musibah atas wafatnya diriku." HR. Ibnu Majah
Moh. Fauzil Adhim
Sunday, August 12, 2012
Membangun Karakter bagi Anak-anak Kita
Mengutip kultwit kajian dari Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) mengenai membangun karakter anak, berikut kutipannya, semoga bermanfaat bagi Anda, saya, dan semua pembaca.
Jika karakter berbeda dengan perilaku, berbeda pula dengan kebiasaan dan bahkan tata-krama maupun temperamen, lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membangun karakter anak-anak kita? Langkah apa yang dapat kita tempuh? Apa yang perlu kita jalani untuk melakukan pndidikan karakter jika pmbiasaan tidak mempengaruhi karakter anak kita, di rumah maupun sekolah?
Apa perbedaan antara karakter dan kebiasaan? Karakter itu serangkaian kualitas pribadi yang membedakannya dengan orang lain. Ia menuntut adanya penghayatan nilai, proses mengindentifikasikan diri dengan nilai-nilai yang diyakini sehingga ia senantiasa berusaha agar bersesuaian dengan nilai yang diyakini dan pada akhirnya terjadi karakterisasi diri. Artinya, karakter merupakan proses berkelanjutn. Karakter cenderung menetap & sulit diubah, tapi bukan berarti sekali terbentuk tak mungkin berubah. Dari karakter itulah -baik atau buruk- lahir berbagai perilaku. Tapi perilaku itu sendiri tidak dapat serta merta kita katakan sebagai karakter. Nah, perilaku yang berulang setiap hari dapat membentuk kebiasaan, meskipun sebagian hanya menjadi perilaku berulang (repeated behavior), yakni manakala perulangan perilaku tersebut terjadi semata karena takut terhadap ancaman. Tidak muncul perilaku tersebut jika ancamannya hilang.
Ini perlu kita perhatikan agar kita tidak cepat-cepat merasa puas tatkala melihat perilaku anak-anak kita. Jangan sampai kita mengira anak-anak telah memiliki kebiasaan yang baik, padahal cuma perilaku berulang semata. Tidak lebih. Ada pelajaran di sini. Karakter itu tidak terlepas dari keyakinan dan penghayatan seseorang terhadap nilai-nilai yang dipeganginya. Adapun perilaku itu cerminannya, tapi perilaku sendiri bukan gambaran yang memastikan karakter, kecuali jika ada serangkaian perilaku lain yang searah. Sederhananya begini. Orang baik akan mudah tersenyum, tetapi murah senyum belum tentu orang baik. Apalagi jika sekedar tersenyum. Bukankah para penipu berhasil mengelabuhi orang lain justru karena senyumnya yang memukau? Bukan karena raut muka yang menakutkan. Lalu darimana kita memulainya?
Izinkan saya menengok apa yang ditulis oleh para ulama’ kita. Mengapa? Karena dalam perbincangan tentang karakter per se, saya sangat kesulitan menemukan sosok yang dapat menjadi model panutan. Padahal ketika kita berbincang tentang budaya karakter, role model (sosok panutan) merupakan salah satu pilar penting. Apakah kita akan menjadikan Lawrence Kohlberg sebagai sosok panutan? Padahal kita tahu, Bapak Pendidikan Karakter ini justru matinya mengenaskan. Ia mati bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri karena krisis karakter. Ini mirip dengan kematian Sigmund Freud. Meski “bukan” bunuh diri, tapi Bapak Kesehatan Mental ini mati dengan euthanasia (suntik mati) atas permintaan sendiri akibat depresi yg ia alami.
Lalu istilah apa yang bersesuaian dengan karakter? Sepanjang saya pahami, istilah terdekat dengan karakter adalah akhlaq ( أخلاق ), jamak dari khuluq (خلق ). Khuluq adalah bentuk, sifat dan nilai-nilai yang berada pada wilayah batin. Ini menarik untuk kita cermati, sebab ketika kita memaksudkannya sebagai aspek lahiriyah, ia adalah khalq. Begitu Ibnu Manzhur menuturkan. Ia menunjukkan bahwa khuluq -terpuji maupun tercela- akan tercermin dalam khalq yang berupa perilaku dan sifat-sifat lahiriyah. Ini berarti pula bahwa yang harus kita perhatikan bukan hanya perilaku yang tampak, tapi apa-apa yang darinya tercermin dalam bentuk perilaku. Menurut Imam Qurthubi, akhlak adalah adab atau tata krama yang dipegang teguh oleh seseorang sehingga adab atau tata krama itu seakan menjadi bagian dari penciptaan dirinya.
Dalam peristilahan sekarang, adab meliputi manner & etiquettes. Ia bukan skdar serangkaian perilaku. Di dalamnya juga terkandung sikap. Ini berarti proses pembentukan adab (ta’dib) memerlukan beberapa unsur, yakni menumbuhkan sikap batin yang baik, melakukan serangkaian pembiasaan terkait, menanamkan ilmu sehingga perilaku yang muncul sebagai kebiasaan bukan hanya bersifat fisik dan mekanik, menumbuhkan motivasi serta menunjukkan fadhilah dari adab tersebut.
Dalam Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Burhanuddin Az-Zurjani, adab merupakan pilar utama menuntut ilmu. Agar seseorang dapat menuntut ilmu dengan baik, hal pertama yang harus dimiliki oleh murid sekaligus ditumbuhkan oleh guru adalah adab. Proses pembentukan adab (ta’dib) merupakan tahap penting menyiapkan murid menuntut ilmu sekaligus menumbuhkan akhlak mulia dalam diri mereka.
Adab merupakan pilarnya & keyakinan pada dien merupakan fondasi yang sangat penting. Keyakinan itu bersifat afektif. Bukan kognitif. Jika keyakinan telah tumbuh, maka pemahaman secara kognitif akan menguatkannya. Sebaliknya tanpa menyadari dan meyakini, pemahaman yang mendalam pun tidak mempengaruhi sikap, apalagi sampai ke perilaku. Nah, yang terjadi sekarang, begitu masuk sekolah anak-anak langsung belajar. Tak ada penyiapan mental. Tak ada proses membentuk adab pada diri mereka sehingga tak ada kesiapan belajar, pun tak ada bekal awal untuk membentuk akhlak dalam diri mereka. Begitu masuk sekolah, serta merta mereka harus belajar untuk tujuan akademik sebelum sikap dan motivasi belajar mereka dibangun. Padahal sekolah seharusnya menyiapkan mereka terlebih dulu untuk memiliki sikap dan motivasi belajar yang baik. Ada proses perubahan terencana; secara mental mereka punya motivasi akademik yang baik, sedangkan dari tata krama & etiket mereka punya kesiapan belajar.
Menarik untuk kita renungkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tetapi apakah yang dilakukan di masa awal risalah dakwahnya? Bukan akhlak yang lebih dulu dibangun, tapi aqidah! Apa artinya? Akhlak merupakan cerminan keyakinan yang telah melekat kuat dalam jiwa. Bukan karena bagusnya pemahaman, tapi karena kuatnya penghayatan. Ia menyandarkan diri pada nilai-nilai tersebut & berusaha secara sengaja bertindak & menjalani kehidupan sehari-hari sesuai apa yang ia imani. Boleh jadi seseorang adakalanya bertindak yang tidak sesuai dengan keyakinannya, tapi ia melakukannya bukan dengan ringan hati.
Ada yang perlu kita renungkan tentang pendidikan anak-anak kita. Ada yang harus kita kaji kembali apakah sekolah-sekolah kita sudah melaksanakan proses ta’dib secara sadar, sengaja dan terencana. Jika ta’dib pun tidak, nyaris tak ada yang bisa kita harapkan. Dan ini merupakan tanggung-jawab seluruh unsur sekolah, terlebih guru yang setiap hari bertemu anak-anak. Jika adab hanya menjadi tanggung-jawab guru yang mengampu pelajaran agama & budi pekerti, maka ketahuilah bahwa di sekolah tersebut tak ada pendidikan. Ia hanya lembaga kursus yang bernama sekolah. Dan ini bukan pendidikan yang sebenarnya (the real education). Semoga catatan sederhana ini ada manfaatnya. Mohon nasehat & do'anya. Mohon koreksi atas yang salah.
Jika karakter berbeda dengan perilaku, berbeda pula dengan kebiasaan dan bahkan tata-krama maupun temperamen, lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membangun karakter anak-anak kita? Langkah apa yang dapat kita tempuh? Apa yang perlu kita jalani untuk melakukan pndidikan karakter jika pmbiasaan tidak mempengaruhi karakter anak kita, di rumah maupun sekolah?
Apa perbedaan antara karakter dan kebiasaan? Karakter itu serangkaian kualitas pribadi yang membedakannya dengan orang lain. Ia menuntut adanya penghayatan nilai, proses mengindentifikasikan diri dengan nilai-nilai yang diyakini sehingga ia senantiasa berusaha agar bersesuaian dengan nilai yang diyakini dan pada akhirnya terjadi karakterisasi diri. Artinya, karakter merupakan proses berkelanjutn. Karakter cenderung menetap & sulit diubah, tapi bukan berarti sekali terbentuk tak mungkin berubah. Dari karakter itulah -baik atau buruk- lahir berbagai perilaku. Tapi perilaku itu sendiri tidak dapat serta merta kita katakan sebagai karakter. Nah, perilaku yang berulang setiap hari dapat membentuk kebiasaan, meskipun sebagian hanya menjadi perilaku berulang (repeated behavior), yakni manakala perulangan perilaku tersebut terjadi semata karena takut terhadap ancaman. Tidak muncul perilaku tersebut jika ancamannya hilang.
Ini perlu kita perhatikan agar kita tidak cepat-cepat merasa puas tatkala melihat perilaku anak-anak kita. Jangan sampai kita mengira anak-anak telah memiliki kebiasaan yang baik, padahal cuma perilaku berulang semata. Tidak lebih. Ada pelajaran di sini. Karakter itu tidak terlepas dari keyakinan dan penghayatan seseorang terhadap nilai-nilai yang dipeganginya. Adapun perilaku itu cerminannya, tapi perilaku sendiri bukan gambaran yang memastikan karakter, kecuali jika ada serangkaian perilaku lain yang searah. Sederhananya begini. Orang baik akan mudah tersenyum, tetapi murah senyum belum tentu orang baik. Apalagi jika sekedar tersenyum. Bukankah para penipu berhasil mengelabuhi orang lain justru karena senyumnya yang memukau? Bukan karena raut muka yang menakutkan. Lalu darimana kita memulainya?
Izinkan saya menengok apa yang ditulis oleh para ulama’ kita. Mengapa? Karena dalam perbincangan tentang karakter per se, saya sangat kesulitan menemukan sosok yang dapat menjadi model panutan. Padahal ketika kita berbincang tentang budaya karakter, role model (sosok panutan) merupakan salah satu pilar penting. Apakah kita akan menjadikan Lawrence Kohlberg sebagai sosok panutan? Padahal kita tahu, Bapak Pendidikan Karakter ini justru matinya mengenaskan. Ia mati bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri karena krisis karakter. Ini mirip dengan kematian Sigmund Freud. Meski “bukan” bunuh diri, tapi Bapak Kesehatan Mental ini mati dengan euthanasia (suntik mati) atas permintaan sendiri akibat depresi yg ia alami.
Lalu istilah apa yang bersesuaian dengan karakter? Sepanjang saya pahami, istilah terdekat dengan karakter adalah akhlaq ( أخلاق ), jamak dari khuluq (خلق ). Khuluq adalah bentuk, sifat dan nilai-nilai yang berada pada wilayah batin. Ini menarik untuk kita cermati, sebab ketika kita memaksudkannya sebagai aspek lahiriyah, ia adalah khalq. Begitu Ibnu Manzhur menuturkan. Ia menunjukkan bahwa khuluq -terpuji maupun tercela- akan tercermin dalam khalq yang berupa perilaku dan sifat-sifat lahiriyah. Ini berarti pula bahwa yang harus kita perhatikan bukan hanya perilaku yang tampak, tapi apa-apa yang darinya tercermin dalam bentuk perilaku. Menurut Imam Qurthubi, akhlak adalah adab atau tata krama yang dipegang teguh oleh seseorang sehingga adab atau tata krama itu seakan menjadi bagian dari penciptaan dirinya.
Dalam peristilahan sekarang, adab meliputi manner & etiquettes. Ia bukan skdar serangkaian perilaku. Di dalamnya juga terkandung sikap. Ini berarti proses pembentukan adab (ta’dib) memerlukan beberapa unsur, yakni menumbuhkan sikap batin yang baik, melakukan serangkaian pembiasaan terkait, menanamkan ilmu sehingga perilaku yang muncul sebagai kebiasaan bukan hanya bersifat fisik dan mekanik, menumbuhkan motivasi serta menunjukkan fadhilah dari adab tersebut.
Dalam Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Burhanuddin Az-Zurjani, adab merupakan pilar utama menuntut ilmu. Agar seseorang dapat menuntut ilmu dengan baik, hal pertama yang harus dimiliki oleh murid sekaligus ditumbuhkan oleh guru adalah adab. Proses pembentukan adab (ta’dib) merupakan tahap penting menyiapkan murid menuntut ilmu sekaligus menumbuhkan akhlak mulia dalam diri mereka.
Adab merupakan pilarnya & keyakinan pada dien merupakan fondasi yang sangat penting. Keyakinan itu bersifat afektif. Bukan kognitif. Jika keyakinan telah tumbuh, maka pemahaman secara kognitif akan menguatkannya. Sebaliknya tanpa menyadari dan meyakini, pemahaman yang mendalam pun tidak mempengaruhi sikap, apalagi sampai ke perilaku. Nah, yang terjadi sekarang, begitu masuk sekolah anak-anak langsung belajar. Tak ada penyiapan mental. Tak ada proses membentuk adab pada diri mereka sehingga tak ada kesiapan belajar, pun tak ada bekal awal untuk membentuk akhlak dalam diri mereka. Begitu masuk sekolah, serta merta mereka harus belajar untuk tujuan akademik sebelum sikap dan motivasi belajar mereka dibangun. Padahal sekolah seharusnya menyiapkan mereka terlebih dulu untuk memiliki sikap dan motivasi belajar yang baik. Ada proses perubahan terencana; secara mental mereka punya motivasi akademik yang baik, sedangkan dari tata krama & etiket mereka punya kesiapan belajar.
Menarik untuk kita renungkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tetapi apakah yang dilakukan di masa awal risalah dakwahnya? Bukan akhlak yang lebih dulu dibangun, tapi aqidah! Apa artinya? Akhlak merupakan cerminan keyakinan yang telah melekat kuat dalam jiwa. Bukan karena bagusnya pemahaman, tapi karena kuatnya penghayatan. Ia menyandarkan diri pada nilai-nilai tersebut & berusaha secara sengaja bertindak & menjalani kehidupan sehari-hari sesuai apa yang ia imani. Boleh jadi seseorang adakalanya bertindak yang tidak sesuai dengan keyakinannya, tapi ia melakukannya bukan dengan ringan hati.
Ada yang perlu kita renungkan tentang pendidikan anak-anak kita. Ada yang harus kita kaji kembali apakah sekolah-sekolah kita sudah melaksanakan proses ta’dib secara sadar, sengaja dan terencana. Jika ta’dib pun tidak, nyaris tak ada yang bisa kita harapkan. Dan ini merupakan tanggung-jawab seluruh unsur sekolah, terlebih guru yang setiap hari bertemu anak-anak. Jika adab hanya menjadi tanggung-jawab guru yang mengampu pelajaran agama & budi pekerti, maka ketahuilah bahwa di sekolah tersebut tak ada pendidikan. Ia hanya lembaga kursus yang bernama sekolah. Dan ini bukan pendidikan yang sebenarnya (the real education). Semoga catatan sederhana ini ada manfaatnya. Mohon nasehat & do'anya. Mohon koreksi atas yang salah.
ZAMZAM
Mengutip kultwit kajian dari Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) mengenai keutamaan air zamzam, berikut kutipannya, semoga bermanfaat bagi Anda, saya, dan semua pembaca.
Inilah sebaik-baik air di muka bumi. Penghilang dahaga bagi tenggorokan yang kering & makanan bagi yang lapar. Telah bersabda Nabi SAW., “خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْدِ اْلأَرْضِى مَاءُ زَمْزَمَ” yang artinya “Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah air zamzam.” HR. Ath-Thabrani.
Teringat aku pada Abu Dzar ra. Ia mndatangi Masjidil Haram & tinggal di sana selama 30 hari, siang & malam, karena ingin masuk Islam. Bertanyalah Nabi SAW kepadanya, “Siapakah yang telah memberimu makan?” Begitu Imam Muslim meriwayatkan dalam hadis shahihnya. Maka Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku tidak mempunyai makanan kecuali air zamzam, lalu aku menjadi gemuk hingga berlemak, perutku berlipat-lipat, aku tidak mendapatkan tanda-tanda kelaparan di atas dadaku. Maka berkatalah Nabi SAW, “Sesungguhnya ia (air zamzam) dibarakahi, (pun) ia merupakan makanan berselera.
Berlama-lama di dua masjid yang penuh barakah, seraya berpuas-puas mereguk zamzam dengan penuh keyakinan, betapa bugar badan ini terasa. Kepayahan karena sa'i yang terlupa niatnya di putaran kelima, pulihnya lebih cepat terasa dengan berbanyak minum zamzam tanpa ragu.
Sama-sama meminum zamzam, amat berbeda antara yg meniatinya untuk memuliakan sunnah sehingga bernilai ibadah dengan sekedar mengobati haus. Sama-sama air, sangat berbeda antara mereka yang meminumnya karena desakan iman dengan yang mereguknya karena kehausan semata. Berkata Nabi saw., "زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ" yang artinya, "Zamzam menurut apa yang dimaksudkan peminumnya" HR. Ibnu Majah. Maka tiap kali engkau meminumnya, perhatikanlah adakah doanya telah engkau panjatkan sepenuh pinta? Bukan sekedar engkau baca.
Tiap berkesempatan ziarah ke Baitullah, berbanyaklah minum zamzam karena mencintai sunnah. Sesudah thawaf maupun di tengah berbagai kesibukan. Tidak mengapa jika engkau harus minum dengan berdiri, misalnya di tengah sa'i, bersebab sulitnya duduk dengan baik dan tenang. Berkata Ibnu Abbas ra., “Aku telah memberi minum kepada Nabi SAW dari zamzam lalu beliau meminumnya sedang beliau dalam keadaan berdiri.” HR Bukhari & Muslim.
Berbanyak meminum zamzam karena iman merupakan salah satu bentuk tabarruk yang dibolehkan. Maka minumlah dengan kelurusan maksud. Janganlah engkau mencela orang-orang yang berbanyak meminum zamzam karena mengharap barakah dari Allah. Bukankah ia adalah air yang penuh barakah? “Sesungguhnya tanda antara kita dengan orang-orang munafik adalah bahwasanya mereka tidak memperbanyak minum air zamzam.” HR. Ibnu Majah.
Jangan lupa, perhatikan adab dalam meminum zamzam sebagaimana pula kita perhatikan adab berdo'a. Semoga yang ringkas ini brmanfaat. Dan tidaklah kita bertabarruk kecuali dengan landasan nash yang jelas dan berpijak pada aqidah yang lurus. Semoga.
Inilah sebaik-baik air di muka bumi. Penghilang dahaga bagi tenggorokan yang kering & makanan bagi yang lapar. Telah bersabda Nabi SAW., “خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْدِ اْلأَرْضِى مَاءُ زَمْزَمَ” yang artinya “Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah air zamzam.” HR. Ath-Thabrani.
Teringat aku pada Abu Dzar ra. Ia mndatangi Masjidil Haram & tinggal di sana selama 30 hari, siang & malam, karena ingin masuk Islam. Bertanyalah Nabi SAW kepadanya, “Siapakah yang telah memberimu makan?” Begitu Imam Muslim meriwayatkan dalam hadis shahihnya. Maka Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku tidak mempunyai makanan kecuali air zamzam, lalu aku menjadi gemuk hingga berlemak, perutku berlipat-lipat, aku tidak mendapatkan tanda-tanda kelaparan di atas dadaku. Maka berkatalah Nabi SAW, “Sesungguhnya ia (air zamzam) dibarakahi, (pun) ia merupakan makanan berselera.
Berlama-lama di dua masjid yang penuh barakah, seraya berpuas-puas mereguk zamzam dengan penuh keyakinan, betapa bugar badan ini terasa. Kepayahan karena sa'i yang terlupa niatnya di putaran kelima, pulihnya lebih cepat terasa dengan berbanyak minum zamzam tanpa ragu.
Sama-sama meminum zamzam, amat berbeda antara yg meniatinya untuk memuliakan sunnah sehingga bernilai ibadah dengan sekedar mengobati haus. Sama-sama air, sangat berbeda antara mereka yang meminumnya karena desakan iman dengan yang mereguknya karena kehausan semata. Berkata Nabi saw., "زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ" yang artinya, "Zamzam menurut apa yang dimaksudkan peminumnya" HR. Ibnu Majah. Maka tiap kali engkau meminumnya, perhatikanlah adakah doanya telah engkau panjatkan sepenuh pinta? Bukan sekedar engkau baca.
Tiap berkesempatan ziarah ke Baitullah, berbanyaklah minum zamzam karena mencintai sunnah. Sesudah thawaf maupun di tengah berbagai kesibukan. Tidak mengapa jika engkau harus minum dengan berdiri, misalnya di tengah sa'i, bersebab sulitnya duduk dengan baik dan tenang. Berkata Ibnu Abbas ra., “Aku telah memberi minum kepada Nabi SAW dari zamzam lalu beliau meminumnya sedang beliau dalam keadaan berdiri.” HR Bukhari & Muslim.
Berbanyak meminum zamzam karena iman merupakan salah satu bentuk tabarruk yang dibolehkan. Maka minumlah dengan kelurusan maksud. Janganlah engkau mencela orang-orang yang berbanyak meminum zamzam karena mengharap barakah dari Allah. Bukankah ia adalah air yang penuh barakah? “Sesungguhnya tanda antara kita dengan orang-orang munafik adalah bahwasanya mereka tidak memperbanyak minum air zamzam.” HR. Ibnu Majah.
Jangan lupa, perhatikan adab dalam meminum zamzam sebagaimana pula kita perhatikan adab berdo'a. Semoga yang ringkas ini brmanfaat. Dan tidaklah kita bertabarruk kecuali dengan landasan nash yang jelas dan berpijak pada aqidah yang lurus. Semoga.
Subscribe to:
Posts (Atom)