Sunday, August 12, 2012

Membangun Karakter bagi Anak-anak Kita

Mengutip kultwit kajian dari Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) mengenai membangun karakter anak, berikut kutipannya, semoga bermanfaat bagi Anda, saya, dan semua pembaca.

Jika karakter berbeda dengan perilaku, berbeda pula dengan kebiasaan dan bahkan tata-krama maupun temperamen, lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membangun karakter anak-anak kita? Langkah apa yang dapat kita tempuh? Apa yang perlu kita jalani untuk melakukan pndidikan karakter jika pmbiasaan tidak mempengaruhi karakter anak kita, di rumah maupun sekolah?

Apa perbedaan antara karakter dan kebiasaan? Karakter itu serangkaian kualitas pribadi yang membedakannya dengan orang lain. Ia menuntut adanya penghayatan nilai, proses mengindentifikasikan diri dengan nilai-nilai yang diyakini sehingga ia senantiasa berusaha agar bersesuaian dengan nilai yang diyakini dan pada akhirnya terjadi karakterisasi diri. Artinya, karakter merupakan proses berkelanjutn. Karakter cenderung menetap & sulit diubah, tapi bukan berarti sekali terbentuk tak mungkin berubah. Dari karakter itulah -baik atau buruk- lahir berbagai perilaku. Tapi perilaku itu sendiri tidak dapat serta merta kita katakan sebagai karakter. Nah, perilaku yang berulang setiap hari dapat membentuk kebiasaan, meskipun sebagian hanya menjadi perilaku berulang (repeated behavior), yakni manakala perulangan perilaku tersebut terjadi semata karena takut terhadap ancaman. Tidak muncul perilaku tersebut jika ancamannya hilang.

Ini perlu kita perhatikan agar kita tidak cepat-cepat merasa puas tatkala melihat perilaku anak-anak kita. Jangan sampai kita mengira anak-anak telah memiliki kebiasaan yang baik, padahal cuma perilaku berulang semata. Tidak lebih. Ada pelajaran di sini. Karakter itu tidak terlepas dari keyakinan dan penghayatan seseorang terhadap nilai-nilai yang dipeganginya. Adapun perilaku itu cerminannya, tapi perilaku sendiri bukan gambaran yang memastikan karakter, kecuali jika ada serangkaian perilaku lain yang searah. Sederhananya begini. Orang baik akan mudah tersenyum, tetapi murah senyum belum tentu orang baik. Apalagi jika sekedar tersenyum. Bukankah para penipu berhasil mengelabuhi orang lain justru karena senyumnya yang memukau? Bukan karena raut muka yang menakutkan. Lalu darimana kita memulainya?

Izinkan saya menengok apa yang ditulis oleh para ulama’ kita. Mengapa? Karena dalam perbincangan tentang karakter per se, saya sangat kesulitan menemukan sosok yang dapat menjadi model panutan. Padahal ketika kita berbincang tentang budaya karakter, role model (sosok panutan) merupakan salah satu pilar penting. Apakah kita akan menjadikan Lawrence Kohlberg sebagai sosok panutan? Padahal kita tahu, Bapak Pendidikan Karakter ini justru matinya mengenaskan. Ia mati bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri karena krisis karakter. Ini mirip dengan kematian Sigmund Freud. Meski “bukan” bunuh diri, tapi Bapak Kesehatan Mental ini mati dengan euthanasia (suntik mati) atas permintaan sendiri akibat depresi yg ia alami.

Lalu istilah apa yang bersesuaian dengan karakter? Sepanjang saya pahami, istilah terdekat dengan karakter adalah akhlaq ( أخلاق ), jamak dari khuluq (خلق ). Khuluq adalah bentuk, sifat dan nilai-nilai yang berada pada wilayah batin. Ini menarik untuk kita cermati, sebab ketika kita memaksudkannya sebagai aspek lahiriyah, ia adalah khalq. Begitu Ibnu Manzhur menuturkan. Ia menunjukkan bahwa khuluq -terpuji maupun tercela- akan tercermin dalam khalq yang berupa perilaku dan sifat-sifat lahiriyah. Ini berarti pula bahwa yang harus kita perhatikan bukan hanya perilaku yang tampak, tapi apa-apa yang darinya tercermin dalam bentuk perilaku. Menurut Imam Qurthubi, akhlak adalah adab atau tata krama yang dipegang teguh oleh seseorang sehingga adab atau tata krama itu seakan menjadi bagian dari penciptaan dirinya.

Dalam peristilahan sekarang, adab meliputi manner & etiquettes.  Ia bukan skdar serangkaian perilaku. Di dalamnya juga terkandung sikap. Ini berarti proses pembentukan adab (ta’dib) memerlukan beberapa unsur, yakni menumbuhkan sikap batin yang baik, melakukan serangkaian pembiasaan terkait, menanamkan ilmu sehingga perilaku yang muncul sebagai kebiasaan bukan hanya bersifat fisik dan mekanik, menumbuhkan motivasi serta menunjukkan fadhilah dari adab tersebut.

Dalam Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Burhanuddin Az-Zurjani, adab merupakan pilar utama menuntut ilmu. Agar seseorang dapat menuntut ilmu dengan baik, hal pertama yang harus dimiliki oleh murid sekaligus ditumbuhkan oleh guru adalah adab. Proses pembentukan adab (ta’dib) merupakan tahap penting menyiapkan murid menuntut ilmu sekaligus menumbuhkan akhlak mulia dalam diri mereka.

Adab merupakan pilarnya & keyakinan pada dien merupakan fondasi yang sangat penting. Keyakinan itu bersifat afektif. Bukan kognitif. Jika keyakinan telah tumbuh, maka pemahaman secara kognitif akan menguatkannya. Sebaliknya tanpa menyadari dan meyakini, pemahaman yang mendalam pun tidak mempengaruhi sikap, apalagi sampai ke perilaku. Nah, yang terjadi sekarang, begitu masuk sekolah anak-anak langsung belajar. Tak ada penyiapan mental. Tak ada proses membentuk adab pada diri mereka sehingga tak ada kesiapan belajar, pun tak ada bekal awal untuk membentuk akhlak dalam diri mereka. Begitu masuk sekolah, serta merta mereka harus belajar untuk tujuan akademik sebelum sikap dan motivasi belajar mereka dibangun. Padahal sekolah seharusnya menyiapkan mereka terlebih dulu untuk memiliki sikap dan motivasi belajar yang baik. Ada proses perubahan terencana; secara mental mereka punya motivasi akademik yang baik, sedangkan dari tata krama & etiket mereka punya kesiapan belajar.

Menarik untuk kita renungkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tetapi apakah yang dilakukan di masa awal risalah dakwahnya? Bukan akhlak yang lebih dulu dibangun, tapi aqidah! Apa artinya? Akhlak merupakan cerminan keyakinan yang telah melekat kuat dalam jiwa. Bukan karena bagusnya pemahaman, tapi karena kuatnya penghayatan. Ia menyandarkan diri pada nilai-nilai tersebut & berusaha secara sengaja bertindak & menjalani kehidupan sehari-hari sesuai apa yang ia imani. Boleh jadi seseorang adakalanya bertindak yang tidak sesuai dengan keyakinannya, tapi ia melakukannya bukan dengan ringan hati.

Ada yang perlu kita renungkan tentang pendidikan anak-anak kita. Ada yang harus kita kaji kembali apakah sekolah-sekolah kita sudah melaksanakan proses ta’dib secara sadar, sengaja dan terencana. Jika ta’dib pun tidak, nyaris tak ada yang bisa kita harapkan. Dan ini merupakan tanggung-jawab seluruh unsur sekolah, terlebih guru yang setiap hari bertemu anak-anak. Jika adab hanya menjadi tanggung-jawab guru yang mengampu pelajaran agama & budi pekerti, maka ketahuilah bahwa di sekolah tersebut tak ada pendidikan. Ia hanya lembaga kursus yang bernama sekolah. Dan ini bukan pendidikan yang sebenarnya (the real education). Semoga catatan sederhana ini ada manfaatnya. Mohon nasehat & do'anya. Mohon koreksi atas yang salah.

ZAMZAM

Mengutip kultwit kajian dari Moh. Fauzil Adhim (@kupinang) mengenai keutamaan air zamzam, berikut kutipannya, semoga bermanfaat bagi Anda, saya, dan semua pembaca.

Inilah sebaik-baik air di muka bumi. Penghilang dahaga bagi tenggorokan yang kering & makanan bagi yang lapar. Telah bersabda Nabi SAW., “خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْدِ اْلأَرْضِى مَاءُ زَمْزَمَ” yang artinya “Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah air zamzam.” HR. Ath-Thabrani.

Teringat aku pada Abu Dzar ra. Ia mndatangi Masjidil Haram & tinggal di sana selama 30 hari, siang & malam, karena ingin masuk Islam. Bertanyalah Nabi SAW kepadanya, “Siapakah yang telah memberimu makan?” Begitu Imam Muslim meriwayatkan dalam hadis shahihnya. Maka Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku tidak mempunyai makanan kecuali air zamzam, lalu aku menjadi gemuk hingga berlemak, perutku berlipat-lipat, aku tidak mendapatkan tanda-tanda kelaparan di atas dadaku. Maka berkatalah Nabi SAW, “Sesungguhnya ia (air zamzam) dibarakahi, (pun) ia merupakan makanan berselera.

Berlama-lama di dua masjid yang penuh barakah, seraya berpuas-puas mereguk zamzam dengan penuh keyakinan, betapa bugar badan ini terasa. Kepayahan karena sa'i yang terlupa niatnya di putaran kelima, pulihnya lebih cepat terasa dengan berbanyak minum zamzam tanpa ragu.

Sama-sama meminum zamzam, amat berbeda antara yg meniatinya untuk memuliakan sunnah sehingga bernilai ibadah dengan sekedar mengobati haus. Sama-sama air, sangat berbeda antara mereka yang meminumnya karena desakan iman dengan yang mereguknya karena kehausan semata. Berkata Nabi saw., "زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ" yang artinya, "Zamzam menurut apa yang dimaksudkan peminumnya" HR. Ibnu Majah. Maka tiap kali engkau meminumnya, perhatikanlah adakah doanya telah engkau panjatkan sepenuh pinta? Bukan sekedar engkau baca.

Tiap berkesempatan ziarah ke Baitullah, berbanyaklah minum zamzam karena mencintai sunnah. Sesudah thawaf maupun di tengah berbagai kesibukan. Tidak mengapa jika engkau harus minum dengan berdiri, misalnya di tengah sa'i, bersebab sulitnya duduk dengan baik dan tenang. Berkata Ibnu Abbas ra., “Aku telah memberi minum kepada Nabi SAW dari zamzam lalu beliau meminumnya sedang beliau dalam keadaan berdiri.” HR Bukhari & Muslim.

Berbanyak meminum zamzam karena iman merupakan salah satu bentuk tabarruk yang dibolehkan. Maka minumlah dengan kelurusan maksud. Janganlah engkau mencela orang-orang yang berbanyak meminum zamzam karena mengharap barakah dari Allah. Bukankah ia adalah air yang penuh barakah? “Sesungguhnya tanda antara kita dengan orang-orang munafik adalah bahwasanya mereka tidak memperbanyak minum air zamzam.” HR. Ibnu Majah.

Jangan lupa, perhatikan adab dalam meminum zamzam sebagaimana pula kita perhatikan adab berdo'a. Semoga yang ringkas ini brmanfaat. Dan tidaklah kita bertabarruk kecuali dengan landasan nash yang jelas dan berpijak pada aqidah yang lurus. Semoga.

Friday, August 10, 2012

Demi, Kata

@felixsiaw

lisan yang terjaga adalah tanda dari iman yang berharga | tak menghitam seperti jelaga, tak terkotori rasa curiga

hak saudara atasmu adalah selamat, baik dengan lisan atau berbuat | bila semua berdasarkan rahmat, insyaAllah akan selamat

syaitan menyusup berbagai rupa, selalu buat kita lupa | mungkin lisan dianggap ringan tiada mengapa, tapi Allah menghisab tiada alpa

berbuatlah baik, atau berlisanlah menarik | karena surga tercipta berbilik-bilik, semoga salah satunya buat kita laik

apa yang tersimpan dalam dada, tak mampu dijangkau oleh mata | karenanya lisan menjadi penanda, wajar orang menilai lewat kata

belajar baik dalam lisan, adalah sebagian dari iman | begitu indah diturunkan bahasa Al-Qur'an, tak bisakah sedikit mengambil pelajaran?

bila kami salah berbuat, berilah kami nasihat | bila kami tersesat, sudi bagi kami jadi pengingat

lisan yang baik mengena hati, tentulah belum pasti | tapi ia sudah jadi niat diri, dan jadi amal tersendiri di hari nanti

Thursday, August 9, 2012

Doa untuk Anak

Allahummaj'al aulaadana kulluhum shaalihan wa thaa'atan..
Artinya: ya اَللّهُ jadikanlah anak2 ku orang yg sholeh ...
wa ummuruhum thowiilan: panjangkanlah umurnya.
war zuqhum waasi'an: luaskan /lapangkan rezkinya.
wa 'uquuluhum zakiyyan : cerdaskan akalnya
wa quluubuhum nuuran : dan terangilah kalbunya.
wa 'uluumuhum katsiiran naafi'an : karuniakan/berikanlah 'ilmu yg banyak dan bermanfa'at.
wa jasaaduhum shihhatan wa 'aafiyatan: sehatkanlah jasmaninya.
Birahmatika yaa arhamar raahimiin: dengan rahmat Mu yang Pengasih lagi Penyayang.

Wednesday, August 8, 2012

Menikahlah

Kultwit siang @kupinang, hari ini tentang menyegerakan nikah.

Maka, apakah yang menghalangimu untuk melangkah menuju pernikahan wahai para lajang?

Jika ridha Allah Ta’ala yang engkau cari & keselamatan akhirat yang engkau harap, tak ada keutamaan menunda-nunda pernikahan tanpa sebab syar'i. Sebab jika keinginan terhadap lawan jenis sudah sedemikian kuat, maka menyegerakan menikah merupakan bagian dari upaya menyelamatkan iman.

Ataukah engkau merasa aman, padahal boleh jadi hari-hari yang engkau lalui adalah catatan maksiat kepada-Nya.

Jika rasa aman yg memenuhi dadamu, padahal keadaanmu amat dekat dg maksiat, maka ingatlah sejenak sebuah hadis qudsi riwayat Al-Bazzar: “Allah Ta’ala berfirman, “Demi keperkasaan & kemuliaan-Ku, Aku tidak akan satukan 2 rasa aman & 2 rasa takut pada diri seorang hamba-ku; jika dia merasa aman dari-Ku saat di dunia, maka Aku akan menjadikannya takut pada hari Aku mengumpulkan hamba-hamba-Ku, dan jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan menjadikannya merasa aman pada hari Aku mengumpulkan hamba-hamba-Ku.” HR. Al-Bazzar. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Hadis Shahih, hadis ini tergolong hasan.

Ataukah engkau menunda-nunda pernikahan karena takut maharmu tak setinggi yang menjadi pembicaraan orang? Padahal Nabi saw. tak ajarkan!

NUH

Dikutip dari kultwit @kupinang

Apa yang salah pada Nabi Nuh ‘alaihissalam? Ia seorang nabi sekaligus utusan Allah ‘Azza wa Jalla. Imannya jangan ditanya, sudah tentu sangat terjaga. Tidak mungkin ada nabi yang imannya meragukan. Hidupnya selalu dalam petunjuk karena Allah Ta’ala sendiri yang membimbingnya. Akhlaknya? Pasti mulia.

Bagaimana mungkin seseorang menjadi nabi dan menebar dakwah kemana-mana jika ia tidak memiliki akhlak yang luar biasa baiknya? Seorang nabi sudah jelas amat kuat penjagaannya dari hal-hal yang meragukan (syubhat). Apalagi dari yang haram. Tetapi apakah semua kemuliaan itu menjadikan anaknya berada dalam barisan orang-orang yang beriman? Tidak. Justru sebaliknya, putra nabi Nuh menjadi pendurhaka. Hingga detik-detik terakhir hidupnya, ia masih diseru oleh ayahnya (nabi Nuh ‘alaihissalam) untuk masuk dalam barisan orang beriman. Tetapi ia menolak.

Marilah kita kenang percakapan Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan putranya sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an: “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yg jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami & janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!"

Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang".

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yg ditenggelamkan.” QS. 11: 42-43.

Apa yang bisa kita renungkan dari ayat tersebut? Banyak hal. Salah satunya adalah pelajaran berharga betapa kita tidak kuasa untuk menggenggam jiwa anak-anak kita sendiri. Betapa pun amat besar keinginan kita untuk menjadikan anak-anak kita termasuk golongan orang beriman, tetapi kita tidak punya kekuatan untuk menggerakkan jiwa mereka. Kita hanya bisa mempengaruhi mereka, mendorong mereka dan menyeru mereka kepada kebaikan. Kita hanya dapat bermunajat kepada Allah Ta’ala yang jiwa mereka dalam genggaman-Nya.

Dari ayat ini kita juga belajar tentang tulusnya cinta seorang ayah kepada anak. Betapa pun anaknya telah melakukan kedurhakaan yg nyata, seorang ayah tetap masih memiliki tabungan harapan yang sangat besar agar anaknya kembali kepada jalan takwa. Betapa pun tampaknya sudah hampir tak mungkin, seorang ayah masih akan berusaha memanfaatkan detik-detik terakhir kesempatan untuk mengingatkan, menasehati dan menyelamatkan anaknya. Meskipun telah jelas kekufuran melekat kuat pada anaknya, masih ada harapan yang besar agar ia kembali ke jalan Allah. Masih ada do’a-do’a yang terucap untuk memohon pertolongan-Nya.
Ada yang perlu kita renungkan. Ada yang perlu kita telusuri untuk menemukan jawaban. InsyaAllah kita lanjutkan perbincangan pada bagian kedua seraya mengharap taufik, hidayah dan inayah Allah Ta’ala.

###################

Apa yang salah pada Nabi Luth ‘alaihissalam? Ia seorang nabi. Setiap langkahnya memperoleh bimbingan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Tutur katanya penuh dengan hikmah. Tidaklah berucap kecuali yang bermanfaat. Tidak pula bertindak kecuali kebaikan. Tentang imannya jangan ditanya. Seorang nabi tentu saja paling kuat imannya, paling baik ibadahnya & paling ketat dlm menjaga diri. Andaikata seribu orang paling shalih di zaman kita ini menghabiskan umurnya untuk berdo’a dan beribadah, niscaya tak ada yang sanggup mengalahkan keimanan dan kekhusyukan nabi Luth. Lalu apa sebabnya iman tercerabut dari rumah utusan Allah ‘alaihimas salaam ini? Istri yg tidak memiliki kendali iman dalam dirinya.

Allah Ta’ala jadikan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimas salaam sebagai contoh bahwa iman tak bisa ditegakkan, anak-anak tak bisa diharapkan, kebaikan tak bisa hadir di rumah kita jika istri rapuh imannya dan lemah pendiriannya. Segigih apa pun kita mendidik anak, awalnya harus menyiapkan istri kita untuk mampu menjadi ibu yang belaian tangannya dipenuhi pngharapan terhadap pahala dari Allah Ta’ala; yang tutur katanya dipenuhi keinginan untuk menjadikan anak-anak mencintai dien; yang do’anya menembus kegelapan malam demi mengharap pertolongan Allah Ta’ala agar hati anak-anaknya diterangi oleh iman yg kuat.

Karenanya, kunci pertama melahirkan anak-anak shalih adalah menyiapkan calon ibu bagi anak-anak kita. Kunci untuk mencetak generasi yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah dengan mencintai istri kita sepenuh hati. Sebab dialah yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Bukan sekedar sebagai ibu kandung yang melahirkan dan sesudah itu orang lain yang mengurus anak-anaknya.

Sesungguhnya, setiap anak kita memerlukan tiga ibu. Setiap bapak harus menjamin bahwa anak-anaknya memiliki tiga ibu, yakni ibu kandung, ibu susu yg beri makan bayinya dengan air susunya sendiri (bukan susu sapi) & ibu asuh yang menjadi madrasah pertama bagi anak kita. Seyogyanya tiga fungsi ibu ini berada dalam satu pribadi, yakni istri yang melahirkan anak-anak kita. Tetapi sekiranya tidak bisa, masih ada jalan yang Allah Ta’ala berikan, yakni mengangkat ibu susuan dengan segala kehormatannya. Adapun pengasuhan, ada berbagai kewajiban yang harus kita tunaikan.

‘Alaa kulli haal, mari kita renungkan kembali bahwa berpayah-payah dalam berdakwah tidak cukup untuk mengantarkan anak-anak kita agar memiliki iman yang kuat dan ‘aqidah yang lurus. Khusyuknya do’a kita tidak cukup untuk menjadikan anak kita ahli ‘ibadah.

Penuhnya luka di sekujur badan karena memperjuangkan agama Allah ‘Azza wa Jalla, yakni al-Islam ini, tidak cukup untuk melahirkan generasi mujahid yang siap mengorbankan hidup dan hartanya untuk menolong agama Allah. Begitu pula banyaknya ilmu yang kita dapat melalui usaha sungguh-sungguh, tidak cukup untuk membawa anak kita dekat dengan agama. Apalagi jika bekal kita sekedar power point. Bukan ilmu yang kejar dengan penuh kesungguhan.

###################

N.B : Untuk perenungan para suami dan ayah.

Monday, August 6, 2012

"Mewaspadai Sikap terhadap Amal dan Pahala" oleh Moh. Fauzil Adhim (@kupinang)


Selama angan dan pendapatmu masih dalam benak, maka engkaulah yang memeganginya. Tapi sekali engkau lepaskan kalimatmu, maka ia dapat berlarian kemana saja di luar kendalimu dan terus-menerus mempengaruhi manusia hingga beratus tahun sesudah kematianmu. Maka perhatikanlah ucapanmu, adakah ia menegakkan kebenaran atau justru merendahkannya. Sebab tiap-tiap kata ada tanggung-jawabnya. Sungguh, ada ucapan yang terlepas ringan, tapi besar akibatnya. Kita tak menganggapnya sebagai kemungkaran, tapi ia menghanguskan kebaikan kita.

Ingatlah sabda Nabi saw., "مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ"  “Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yg ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” HR. Bukhari.

Maka atas setiap bertambahnya followernya, janganlah engkau menepuk dada karena boleh jadi ia akan memberatkan hisabmu di Yaumil-Qiyamah. Amat jauh kita dari ilmu. Amat jauh pula rentang waktu kehidupan kita dengan generasi yang Allah Ta'ala ridhai mereka.

Generasi shahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in senantiasa merasa mengkhawatiri imannya, khawatir pula kalau tak ada amal yang diterima. Maka mereka tak berani bersombong di hadapan Allah Ta'ala dg mengandalkan amal-amalnya. Mereka amat berhati-hati agar amalnya tak rusak.

Betapa amat berbedanya dengan kita yang hidup sekarang ini. Amat malu rasanya ketika ada yang bertanya, bukankah kita bisa meminta sebagian pahala amal kita di dunia, dan sebagiannya untuk akhirat. Astaghfirullah, seakan amal mereka pasti diterima. Seakan amal mereka sudah terlalu banyak. Seakan Allah Ta'ala seperti sebagian birokrat kita: tak mau memberi kecuali jika kita sudah memberi. Astaghfirullah.... Alangkah buruk persangkaan kita kpd Allah 'Azza wa Jalla. Dan alangkah sombongnya kita sehingga mereka diri terlalu mulia. Kita merasa berhak mndapatkan apa yg kita minta krn merasa telah beramal. Bukan berharap dengan sungguh-sungguh karena yakin Allah Maha Pemurah.

Betapa amat berbedanya kita dengan 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu. Ia tak jadi menikmati hidangan berbuka puasa nafilah karena terkenang Mush'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu. Amat besar rasa khawatirnya kalau tak ada bagiannya di akhirat.

Sementara hari ini banyak kaum muslimin yang merasa amalnya telah berlebihan sehingga meminta pahala sebagian di dunia. Seakan Allah tak lagi melimpahinya rezeki. Dan sungguh, persangkaan yang buruk kepada Allah Ta'ala semacam ini menyebar karena kata-kata yang keluar tanpa menghitung akibatnya. Renungi sejenak sabda Nabi saw., ...إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِ “Sesungguhnya seorang yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka أَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ "yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” HR. Bukhari & Muslim.