Dikutip dari kultwit @kupinang
Apa yang salah pada Nabi Nuh ‘alaihissalam? Ia seorang nabi sekaligus utusan Allah ‘Azza wa Jalla. Imannya jangan ditanya, sudah tentu sangat terjaga. Tidak mungkin ada nabi yang imannya meragukan. Hidupnya selalu dalam petunjuk karena Allah Ta’ala sendiri yang membimbingnya. Akhlaknya? Pasti mulia.
Bagaimana mungkin seseorang menjadi nabi dan menebar dakwah kemana-mana jika ia tidak memiliki akhlak yang luar biasa baiknya? Seorang nabi sudah jelas amat kuat penjagaannya dari hal-hal yang meragukan (syubhat). Apalagi dari yang haram. Tetapi apakah semua kemuliaan itu menjadikan anaknya berada dalam barisan orang-orang yang beriman? Tidak. Justru sebaliknya, putra nabi Nuh menjadi pendurhaka. Hingga detik-detik terakhir hidupnya, ia masih diseru oleh ayahnya (nabi Nuh ‘alaihissalam) untuk masuk dalam barisan orang beriman. Tetapi ia menolak.
Marilah kita kenang percakapan Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan putranya sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an: “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yg jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami & janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!"
Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang".
Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yg ditenggelamkan.” QS. 11: 42-43.
Apa yang bisa kita renungkan dari ayat tersebut? Banyak hal. Salah satunya adalah pelajaran berharga betapa kita tidak kuasa untuk menggenggam jiwa anak-anak kita sendiri. Betapa pun amat besar keinginan kita untuk menjadikan anak-anak kita termasuk golongan orang beriman, tetapi kita tidak punya kekuatan untuk menggerakkan jiwa mereka. Kita hanya bisa mempengaruhi mereka, mendorong mereka dan menyeru mereka kepada kebaikan. Kita hanya dapat bermunajat kepada Allah Ta’ala yang jiwa mereka dalam genggaman-Nya.
Dari ayat ini kita juga belajar tentang tulusnya cinta seorang ayah kepada anak. Betapa pun anaknya telah melakukan kedurhakaan yg nyata, seorang ayah tetap masih memiliki tabungan harapan yang sangat besar agar anaknya kembali kepada jalan takwa. Betapa pun tampaknya sudah hampir tak mungkin, seorang ayah masih akan berusaha memanfaatkan detik-detik terakhir kesempatan untuk mengingatkan, menasehati dan menyelamatkan anaknya. Meskipun telah jelas kekufuran melekat kuat pada anaknya, masih ada harapan yang besar agar ia kembali ke jalan Allah. Masih ada do’a-do’a yang terucap untuk memohon pertolongan-Nya.
Ada yang perlu kita renungkan. Ada yang perlu kita telusuri untuk menemukan jawaban. InsyaAllah kita lanjutkan perbincangan pada bagian kedua seraya mengharap taufik, hidayah dan inayah Allah Ta’ala.
###################
Apa yang salah pada Nabi Luth ‘alaihissalam? Ia seorang nabi. Setiap langkahnya memperoleh bimbingan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Tutur katanya penuh dengan hikmah. Tidaklah berucap kecuali yang bermanfaat. Tidak pula bertindak kecuali kebaikan. Tentang imannya jangan ditanya. Seorang nabi tentu saja paling kuat imannya, paling baik ibadahnya & paling ketat dlm menjaga diri. Andaikata seribu orang paling shalih di zaman kita ini menghabiskan umurnya untuk berdo’a dan beribadah, niscaya tak ada yang sanggup mengalahkan keimanan dan kekhusyukan nabi Luth. Lalu apa sebabnya iman tercerabut dari rumah utusan Allah ‘alaihimas salaam ini? Istri yg tidak memiliki kendali iman dalam dirinya.
Allah Ta’ala jadikan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimas salaam sebagai contoh bahwa iman tak bisa ditegakkan, anak-anak tak bisa diharapkan, kebaikan tak bisa hadir di rumah kita jika istri rapuh imannya dan lemah pendiriannya. Segigih apa pun kita mendidik anak, awalnya harus menyiapkan istri kita untuk mampu menjadi ibu yang belaian tangannya dipenuhi pngharapan terhadap pahala dari Allah Ta’ala; yang tutur katanya dipenuhi keinginan untuk menjadikan anak-anak mencintai dien; yang do’anya menembus kegelapan malam demi mengharap pertolongan Allah Ta’ala agar hati anak-anaknya diterangi oleh iman yg kuat.
Karenanya, kunci pertama melahirkan anak-anak shalih adalah menyiapkan calon ibu bagi anak-anak kita. Kunci untuk mencetak generasi yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah dengan mencintai istri kita sepenuh hati. Sebab dialah yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Bukan sekedar sebagai ibu kandung yang melahirkan dan sesudah itu orang lain yang mengurus anak-anaknya.
Sesungguhnya, setiap anak kita memerlukan tiga ibu. Setiap bapak harus menjamin bahwa anak-anaknya memiliki tiga ibu, yakni ibu kandung, ibu susu yg beri makan bayinya dengan air susunya sendiri (bukan susu sapi) & ibu asuh yang menjadi madrasah pertama bagi anak kita. Seyogyanya tiga fungsi ibu ini berada dalam satu pribadi, yakni istri yang melahirkan anak-anak kita. Tetapi sekiranya tidak bisa, masih ada jalan yang Allah Ta’ala berikan, yakni mengangkat ibu susuan dengan segala kehormatannya. Adapun pengasuhan, ada berbagai kewajiban yang harus kita tunaikan.
‘Alaa kulli haal, mari kita renungkan kembali bahwa berpayah-payah dalam berdakwah tidak cukup untuk mengantarkan anak-anak kita agar memiliki iman yang kuat dan ‘aqidah yang lurus. Khusyuknya do’a kita tidak cukup untuk menjadikan anak kita ahli ‘ibadah.
Penuhnya luka di sekujur badan karena memperjuangkan agama Allah ‘Azza wa Jalla, yakni al-Islam ini, tidak cukup untuk melahirkan generasi mujahid yang siap mengorbankan hidup dan hartanya untuk menolong agama Allah. Begitu pula banyaknya ilmu yang kita dapat melalui usaha sungguh-sungguh, tidak cukup untuk membawa anak kita dekat dengan agama. Apalagi jika bekal kita sekedar power point. Bukan ilmu yang kejar dengan penuh kesungguhan.
###################
N.B : Untuk perenungan para suami dan ayah.
Wednesday, August 8, 2012
Monday, August 6, 2012
"Mewaspadai Sikap terhadap Amal dan Pahala" oleh Moh. Fauzil Adhim (@kupinang)
Selama angan dan pendapatmu masih dalam benak, maka engkaulah yang memeganginya. Tapi sekali engkau lepaskan kalimatmu, maka ia dapat berlarian kemana saja di luar kendalimu dan terus-menerus mempengaruhi manusia hingga beratus tahun sesudah kematianmu. Maka perhatikanlah ucapanmu, adakah ia menegakkan kebenaran atau justru merendahkannya. Sebab tiap-tiap kata ada tanggung-jawabnya. Sungguh, ada ucapan yang terlepas ringan, tapi besar akibatnya. Kita tak menganggapnya sebagai kemungkaran, tapi ia menghanguskan kebaikan kita.
Ingatlah sabda Nabi saw., "مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ" “Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yg ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” HR. Bukhari.
Maka atas setiap bertambahnya followernya, janganlah engkau menepuk dada karena boleh jadi ia akan memberatkan hisabmu di Yaumil-Qiyamah. Amat jauh kita dari ilmu. Amat jauh pula rentang waktu kehidupan kita dengan generasi yang Allah Ta'ala ridhai mereka.
Generasi shahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in senantiasa merasa mengkhawatiri imannya, khawatir pula kalau tak ada amal yang diterima. Maka mereka tak berani bersombong di hadapan Allah Ta'ala dg mengandalkan amal-amalnya. Mereka amat berhati-hati agar amalnya tak rusak.
Betapa amat berbedanya dengan kita yang hidup sekarang ini. Amat malu rasanya ketika ada yang bertanya, bukankah kita bisa meminta sebagian pahala amal kita di dunia, dan sebagiannya untuk akhirat. Astaghfirullah, seakan amal mereka pasti diterima. Seakan amal mereka sudah terlalu banyak. Seakan Allah Ta'ala seperti sebagian birokrat kita: tak mau memberi kecuali jika kita sudah memberi. Astaghfirullah.... Alangkah buruk persangkaan kita kpd Allah 'Azza wa Jalla. Dan alangkah sombongnya kita sehingga mereka diri terlalu mulia. Kita merasa berhak mndapatkan apa yg kita minta krn merasa telah beramal. Bukan berharap dengan sungguh-sungguh karena yakin Allah Maha Pemurah.
Betapa amat berbedanya kita dengan 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu. Ia tak jadi menikmati hidangan berbuka puasa nafilah karena terkenang Mush'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu. Amat besar rasa khawatirnya kalau tak ada bagiannya di akhirat.
Sementara hari ini banyak kaum muslimin yang merasa amalnya telah berlebihan sehingga meminta pahala sebagian di dunia. Seakan Allah tak lagi melimpahinya rezeki. Dan sungguh, persangkaan yang buruk kepada Allah Ta'ala semacam ini menyebar karena kata-kata yang keluar tanpa menghitung akibatnya. Renungi sejenak sabda Nabi saw., ...إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِ “Sesungguhnya seorang yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka أَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ "yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” HR. Bukhari & Muslim.
Thursday, August 2, 2012
Mahar
Dikutip dari KulTwit akun @kupinang dan @salimafillah yang ditanya mengenai mahar Rasulullah. Berikut kutipannya:
Tapi bagaimana ust. (mengenai) mahar Rasulullah kepada Khadijah? bukankah nilainya sangat besar?
Ada beberapa hal yang perlu kita pertanyakan. Pertama, adakah riwayat yang memenuhi standar untuk dijadikan pegangan? Bagaimana kedududkan riwayat tersebut? Shahih?
Kedua, mungkinkah Rasulullah saw. termasuk orang yg bertentangan antara kata dan perbuatan? Sungguh, Rasulullah saw. ma'shum. Ma'shum berarti beliau terjaga dari berbuat maksiat, tak terkecuali bermaksiat karena mengingkari ucapannya sendiri.
Ketiga, seandainya (dan pengandaian itu tak dapat menjadi pegangan hukum) riwayat yang menyebut mahar yang beliau berikan luar biasa besar, ada dua pertanyaan lagi yang perlu kita ajukan. Pertama, itu mahar Muhammad saw. atau Rasulullah saw.? Sebelum bi'tsah (pengangkatan beliau sebagai nabi), maka ucapan dan tindakan beliau bukan merupakan acuan hukum. Kedua, bagaimana mereka mengkonversikan mahar tersebut sehingga menemukan angka milyaran rupiah? Ini harus adil dan benar.
Contoh sederhana, upah menggembala kambing pada masa Muhammad saw. beliau adalah beberapa qirath emas. Standar upah itu sebagaimana kita jumpai pada HR Bukhari tatkala Rasulullah saw. bersabda setiap nabi pernah menggembala kambing. Artinya, beberapa qirath emas merupakan standar upah menggembala kambing DI MASA ITU. Di masa sekarang?!? Lain ceritanya. Mana yang lebih mahal, Fortuner atau tanah 1 hektar? Sangat tergantung tempatnya. Begitu pun nilai sapi per ekor.
Jadi, kita perlu berhati-hati dalam membuat konversi. Apalagi jika mengabaikan riwayat, lalu bersibuk dg nilai konversi yang kita persangkakan menurut "nilai" di sini dengan mengabaikan nilai di sana pada waktu itu.
Mengabaikan riwayat dan menyibukkan diri pada nilai konversi yang kita persangkakan, dapat menjatuhkan kita pada kategori dusta. Dan di antara dusta yang amat buruk adalah berdusta atas nama nabi. Na'udzubillahi min dzaalik. Jazaakumullah atas pertanyaannya. Semoga Allah Ta'ala muliakan Antum bersebab keinginan untuk mengenal Nabi saw. dengan benar. Semoga pula Allah Ta'ala masukkan kita semua ke dalam barisan orang-orang yang mengikuti Nabi saw. dengan benar.
Sesungguhnya Ibnu 'Abbas ra. pernah ditanya, "Dengan apakah engkau mendapatkan ilmu?" Beliau menjawab, "Dengan lisan yang banyak bertanya, hati yg selalu berpikir & badan yang tak kenal lelah."
(sementara dalam riwayat lain)
Ibn Hisyam meriwayatkan Sirah-nya dari Ibn Ishaq; Khadijah menghibahkan 100 unta kepada Abu Thalib menjelang pernikahannya dengan Muhammad. Abi Thalib yang memahami bahwa Khadijah adalah wanita bangsawan berkedudukan tinggi yang selaiknya dimuliakan, menjadikan 100 unta itu sebagai hadiah bagi pernikahan Muhammad & Khadijah. Jadi 100 unta itu bukan mahar; melainkan hadiah Abu Thalib untuk pernikahan Muhammad demi penghormatan pada Khadijah; pun itu berasal dari hibahnya Khadijah. WaLlahu A'lam. Semoga Allah membimbing kita meneladani Nabi SAW dengan fahaman yang lurus & diridhai. Takutnya banyak yg lupa bahwa saat menikah dg Khadijah, Muhammad blm jadi Nabi. Jadi tidk harus ditiru :)
Takutnya banyak yg fokus pada mahar Nabi, tapi lupa akan shalat Nabi dan zuhudnya, dan terjebak worldview materialisme. Sungguh kejam jika siroh Nabi dijadikan justifikasi tuk berlari kencang menuju sujud pada materi. Mengapa fokus pada masa pra wahyu dan mengabaikan masa turunnya wahyu?
Tapi bagaimana ust. (mengenai) mahar Rasulullah kepada Khadijah? bukankah nilainya sangat besar?
Ada beberapa hal yang perlu kita pertanyakan. Pertama, adakah riwayat yang memenuhi standar untuk dijadikan pegangan? Bagaimana kedududkan riwayat tersebut? Shahih?
Kedua, mungkinkah Rasulullah saw. termasuk orang yg bertentangan antara kata dan perbuatan? Sungguh, Rasulullah saw. ma'shum. Ma'shum berarti beliau terjaga dari berbuat maksiat, tak terkecuali bermaksiat karena mengingkari ucapannya sendiri.
Ketiga, seandainya (dan pengandaian itu tak dapat menjadi pegangan hukum) riwayat yang menyebut mahar yang beliau berikan luar biasa besar, ada dua pertanyaan lagi yang perlu kita ajukan. Pertama, itu mahar Muhammad saw. atau Rasulullah saw.? Sebelum bi'tsah (pengangkatan beliau sebagai nabi), maka ucapan dan tindakan beliau bukan merupakan acuan hukum. Kedua, bagaimana mereka mengkonversikan mahar tersebut sehingga menemukan angka milyaran rupiah? Ini harus adil dan benar.
Contoh sederhana, upah menggembala kambing pada masa Muhammad saw. beliau adalah beberapa qirath emas. Standar upah itu sebagaimana kita jumpai pada HR Bukhari tatkala Rasulullah saw. bersabda setiap nabi pernah menggembala kambing. Artinya, beberapa qirath emas merupakan standar upah menggembala kambing DI MASA ITU. Di masa sekarang?!? Lain ceritanya. Mana yang lebih mahal, Fortuner atau tanah 1 hektar? Sangat tergantung tempatnya. Begitu pun nilai sapi per ekor.
Jadi, kita perlu berhati-hati dalam membuat konversi. Apalagi jika mengabaikan riwayat, lalu bersibuk dg nilai konversi yang kita persangkakan menurut "nilai" di sini dengan mengabaikan nilai di sana pada waktu itu.
Mengabaikan riwayat dan menyibukkan diri pada nilai konversi yang kita persangkakan, dapat menjatuhkan kita pada kategori dusta. Dan di antara dusta yang amat buruk adalah berdusta atas nama nabi. Na'udzubillahi min dzaalik. Jazaakumullah atas pertanyaannya. Semoga Allah Ta'ala muliakan Antum bersebab keinginan untuk mengenal Nabi saw. dengan benar. Semoga pula Allah Ta'ala masukkan kita semua ke dalam barisan orang-orang yang mengikuti Nabi saw. dengan benar.
Sesungguhnya Ibnu 'Abbas ra. pernah ditanya, "Dengan apakah engkau mendapatkan ilmu?" Beliau menjawab, "Dengan lisan yang banyak bertanya, hati yg selalu berpikir & badan yang tak kenal lelah."
(sementara dalam riwayat lain)
Ibn Hisyam meriwayatkan Sirah-nya dari Ibn Ishaq; Khadijah menghibahkan 100 unta kepada Abu Thalib menjelang pernikahannya dengan Muhammad. Abi Thalib yang memahami bahwa Khadijah adalah wanita bangsawan berkedudukan tinggi yang selaiknya dimuliakan, menjadikan 100 unta itu sebagai hadiah bagi pernikahan Muhammad & Khadijah. Jadi 100 unta itu bukan mahar; melainkan hadiah Abu Thalib untuk pernikahan Muhammad demi penghormatan pada Khadijah; pun itu berasal dari hibahnya Khadijah. WaLlahu A'lam. Semoga Allah membimbing kita meneladani Nabi SAW dengan fahaman yang lurus & diridhai. Takutnya banyak yg lupa bahwa saat menikah dg Khadijah, Muhammad blm jadi Nabi. Jadi tidk harus ditiru :)
Takutnya banyak yg fokus pada mahar Nabi, tapi lupa akan shalat Nabi dan zuhudnya, dan terjebak worldview materialisme. Sungguh kejam jika siroh Nabi dijadikan justifikasi tuk berlari kencang menuju sujud pada materi. Mengapa fokus pada masa pra wahyu dan mengabaikan masa turunnya wahyu?
Sunday, April 8, 2012
The Journey
8 Maret 18.55
selepas makan malam di HokBen, aku naik ke lantai atas. Peron tunggu. Selama makan tadi, di depanku duduk sepasang kekasih. Mesra sekali tampaknya. Terlihat dari betapa mesranya bahasa tubuh mereka selama bercengkrama. Menunggu kereta ditemani Shimokawa Mikuni, Super Junior dan Al Mathrud sampai 19.30.
12 Maret 10.40
Setelah berangkat dari rumah jam 8 menuju Bungurasih lantas sambung ke Osowilangun menuju Drajat. Ada yang unik, bus mikro yang kunaiki ini ga punya kernet untuk mengutip ongkos dari para penumpang. Semua penumpang membayar sendiri ongkos mereka ke supir. Kejujuran masih banyak disini.
PS: menulis di bus yang sedang berjalan itu sulit, percayalah!
12.40
Sampai juga di tempat ini. Nggak banyak berubah dari terakhir kali datang di tempat ini. Entah itu sesuatu yang baik atau tidak karena kondisi kumuhnya tetap ada.
18.30
Sudah berusaha membaca cepat tapi masih belum juga cepat. Sudah dapat 3 Juz dari 30 dan masih ada 27 lagi. Kira-kira akan selesai kapan ya?
Ah, setidaknya ada ketenangan disini:
1) Tadarus yang sudah lama nggak dilakukan. Sudah mencoba beberapa kali di Jakarta dan selalu nggak finish. Kali ini harus.
2) Tempat ini memang agak susah untuk dijangkau, terutama bila malam. Tidak ada angkutan sama sekali bila sudah lewat dari jam 9 malam.
15 Maret 19.25
Aktivitas hanya berhenti pada saat adzan saja. Hanya sedikit lebih baik dari Jakarta yang bahkan tidak berhenti sama sekali saat adzan. Selesai adzan lanjut lagi tahlilan. Belum lagi petugas sholat dan masjidnya yang sepertinya nggak terkoordinir. Pantas masjidnya nggak kelihatan terurus. Banyak sarang laba-laba dan pantas juga jama'ah sholatnya setelah adzan sedikit sekali.
Tidak ada penghentian kegiatan saat masuk waktu sholat. Semua kegiatan harus berhenti saat masuk waktu sholat berjama'ah. Lanjut tadarus, sudah sampai juz 27 tinggal sedikit lagi kelar.
16 Maret 07.00
Akhirnya selesai! Off to Surabaya lantas bersiap lanjut lagi perjalanan ke Jember. Jam 19.00
17 Maret 01.33
Akhirnya sampai juga di Jember. Membawa Freed seperti orang yang belajar lagi. Full matic bahkan
hingga pintu tengah. Dan lupa kalau ground-clearance Freed pendek, di Probolinggo hampir tersangkut lubang jalan saat menyalip truk.
19.18
Dari perjalan selama seminggu itu apa yang didapat untuk hati dan pikiran? Kenapa masih terasa ada yang kosong di hati?
Kyai pesantren itu bilang sesuatu itu dilakukan karena punya tujuan khusus. Apa yang dicari? Apa yang diminta?
Setelah ini: Ampel.
20 Maret 19.41
Sampai pada perhentian berikut: Tuban.
Sebenarnya sebelum perhentian ini ada sebuah perjalanan lain. Sepulang dari Jember. Tidak ada hubungan dengan tujuan perjalanan ini, tapi ada pelajaran berharga yang diperoleh. Pada saat perjalanan pulang dari Jember perjalanan kembali disempatkan untuk mampir di suatu tempat: Tongas, Probolinggo.
18 Maret sekira pukul 17.00
Mampir di tempat sebuah keluarga yang baru saja mendapat musibah banjir bandang. Rumah keluarga Bapak Abdul Halim dan ibu Tanzilah. sebuah keluarga dengan kultur turunan madura dan keluarga yang sangat tradisional, polos dan sederhana. Tidak ada raut menderita ketika kami sampai walau seminggu sebelumnya mereka dilanda banjir bandang yang menghanyutkan kamar mandi dan dapur rumah mereka.
Rumah mereka dekat dengan sungai dengan kedalaman sekira 7 meter. Rumah mereka sebenarnya sudah ditinggikan sekira 1 meter. Dan air bah di dalam rumah mereka setinggi sekira 150cm. Butuh waktu 3 hari untuk mengeluarkan semua lumpur dan lebih dari seminggu untuk membersihkan rumah.
Mereka menjamu seolah-olah kami ini adalah pejabat penting. Hanya ada tertawa. Padahal mereka baru saja terkena musibah. Ini baru satu cerita yang kudengar dan kulihat langsung.
Kesederhanaan dan ketulusan, itu saja yang kami rasakan.
Cerita lain yang kudengar tentang keluarga ini yang membuatku hampir tidak percaya adalah ketika suatu hari mendekati hari raya Idul Qurban terjadi musibah lain. Dua ekor sapi dari jenis limousine yang telah 2 tahun mereka pelihara mati di hari yang sama. Sapi yang di Jakarta 1 ekornya bisa mencapai harga 40 juta.
Bukan keluhan yang keluar. Memang sempat membuat Ibu Tanzilah pingsan. Tapi menantunya mengambil langkah yang tak terpikirkan sama sekali: menyembelih seekor ayam dengan maksud untuk melaksanakan syukuran. Sang mertua pun bertanya apa maksudnya dan mendapat jawaban: "Rezeki dan musibah itu datangnya semua dari Allah. Kalau kebahagiaan patut disyukuri, lantas kenapa kejadian ini tidak? Allah Maha Pemberi Rezeki."
Sungguh harus banyak istighfar.
Dan sekira pukul 20.00 kami melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya. Kunjungan singkat yang sarat makna. Semoga Allah memelihara apa yang aku dapat dalam hati dan pikiran.
22 Maret 16.55
Hujan deras disertai angin kencang. Masih merasa ada yang kurang dari perjalanan ini. Walaupun sudah banyak jarak yang ditempuh. Meet with the other pilgrimate make a new window of perspective. "Cari uang ga akan ada habisnya. Beda dengan makan yang harus berhenti ketika kenyang. Uang tidak. Akan selalu kurang dan kurang. Saat kita ada diatas mungkin semua tampak indah. Tapi apakah sama ketika kita ada dibawah?" he said. His name was Ribudiono.
Do we have the same wisdom?
24 Maret 20.40
Lebih ramai makam Sunan Ampel daripada makam pahlawan. What we want to become? Keduanya berkontribusi kepada masyarakat. Namun punya hasil kelanjutan yang berbeda. Secara keduniawian, mungkin pahlawan mempunyai "kepastian" kedudukan mereka secara kenegaraan. Namun secara spiritualitas kemasyarakatan, sunan lebih mempunyai hasil yang lebih nyata hingga sekarang.
Setidaknya untuk kalangan masyarakat tradisional. Pahlawan nasional mungkin mereka yang mendo'akan juga banyak, tapi apakah sebanyak sunan? Mana yang dicari? Keberlanjutan akhirat?
Ada pemandangan menarik disini yang kulihat. Ini malam minggu, kan? Dan aku menemukan sesuatu yang baru. A new sight. Apa yang ada di pikiran pacar yang gelisah menunggu kekasih baca tahlil dan ratib? Mungkin "Ga asik nih" atau "Ngapain sih gw ada disini sama blekok satu ini? Ini kan malem minggu?"
Well, anything could possibly happen. Tapi masih merupakan pemandangan yang menarik. Kalo pacar kompak baca tahlil dan ratib? That's great! Tapi yang manapun tetap punya persamaan: mojok.
Doakan Orang lain dulu, insyaAllah doamu akan dipercepat. Itu kata Arifin Ilham. Dan dalam salah satu obrolan dengan sesama peziarah ada yang mengatakan "Sampean yo dungo'no aku ben dungo ne sampean makbul."
Pemandangan unik lainnya adalah datangnya 3 orang laki-laki dengan tampang metal rambut gondrong jaket rocker yang duduk khusyu tawaddu bertadarus dan berdzikir serius hingga kutinggalkan mereka. Yeah!
26 Maret 16.26
Last day. Surabaya, Jl Arjuna 15-17. Pool bus Kramat Djati. Dapat kursi baris kedua. Let's the home journey begin.
The End
selepas makan malam di HokBen, aku naik ke lantai atas. Peron tunggu. Selama makan tadi, di depanku duduk sepasang kekasih. Mesra sekali tampaknya. Terlihat dari betapa mesranya bahasa tubuh mereka selama bercengkrama. Menunggu kereta ditemani Shimokawa Mikuni, Super Junior dan Al Mathrud sampai 19.30.
12 Maret 10.40
Setelah berangkat dari rumah jam 8 menuju Bungurasih lantas sambung ke Osowilangun menuju Drajat. Ada yang unik, bus mikro yang kunaiki ini ga punya kernet untuk mengutip ongkos dari para penumpang. Semua penumpang membayar sendiri ongkos mereka ke supir. Kejujuran masih banyak disini.
PS: menulis di bus yang sedang berjalan itu sulit, percayalah!
12.40
Sampai juga di tempat ini. Nggak banyak berubah dari terakhir kali datang di tempat ini. Entah itu sesuatu yang baik atau tidak karena kondisi kumuhnya tetap ada.
18.30
Sudah berusaha membaca cepat tapi masih belum juga cepat. Sudah dapat 3 Juz dari 30 dan masih ada 27 lagi. Kira-kira akan selesai kapan ya?
Ah, setidaknya ada ketenangan disini:
1) Tadarus yang sudah lama nggak dilakukan. Sudah mencoba beberapa kali di Jakarta dan selalu nggak finish. Kali ini harus.
2) Tempat ini memang agak susah untuk dijangkau, terutama bila malam. Tidak ada angkutan sama sekali bila sudah lewat dari jam 9 malam.
15 Maret 19.25
Aktivitas hanya berhenti pada saat adzan saja. Hanya sedikit lebih baik dari Jakarta yang bahkan tidak berhenti sama sekali saat adzan. Selesai adzan lanjut lagi tahlilan. Belum lagi petugas sholat dan masjidnya yang sepertinya nggak terkoordinir. Pantas masjidnya nggak kelihatan terurus. Banyak sarang laba-laba dan pantas juga jama'ah sholatnya setelah adzan sedikit sekali.
Tidak ada penghentian kegiatan saat masuk waktu sholat. Semua kegiatan harus berhenti saat masuk waktu sholat berjama'ah. Lanjut tadarus, sudah sampai juz 27 tinggal sedikit lagi kelar.
16 Maret 07.00
Akhirnya selesai! Off to Surabaya lantas bersiap lanjut lagi perjalanan ke Jember. Jam 19.00
17 Maret 01.33
Akhirnya sampai juga di Jember. Membawa Freed seperti orang yang belajar lagi. Full matic bahkan
hingga pintu tengah. Dan lupa kalau ground-clearance Freed pendek, di Probolinggo hampir tersangkut lubang jalan saat menyalip truk.
19.18
Dari perjalan selama seminggu itu apa yang didapat untuk hati dan pikiran? Kenapa masih terasa ada yang kosong di hati?
Kyai pesantren itu bilang sesuatu itu dilakukan karena punya tujuan khusus. Apa yang dicari? Apa yang diminta?
Setelah ini: Ampel.
20 Maret 19.41
Sampai pada perhentian berikut: Tuban.
Sebenarnya sebelum perhentian ini ada sebuah perjalanan lain. Sepulang dari Jember. Tidak ada hubungan dengan tujuan perjalanan ini, tapi ada pelajaran berharga yang diperoleh. Pada saat perjalanan pulang dari Jember perjalanan kembali disempatkan untuk mampir di suatu tempat: Tongas, Probolinggo.
18 Maret sekira pukul 17.00
Mampir di tempat sebuah keluarga yang baru saja mendapat musibah banjir bandang. Rumah keluarga Bapak Abdul Halim dan ibu Tanzilah. sebuah keluarga dengan kultur turunan madura dan keluarga yang sangat tradisional, polos dan sederhana. Tidak ada raut menderita ketika kami sampai walau seminggu sebelumnya mereka dilanda banjir bandang yang menghanyutkan kamar mandi dan dapur rumah mereka.
Rumah mereka dekat dengan sungai dengan kedalaman sekira 7 meter. Rumah mereka sebenarnya sudah ditinggikan sekira 1 meter. Dan air bah di dalam rumah mereka setinggi sekira 150cm. Butuh waktu 3 hari untuk mengeluarkan semua lumpur dan lebih dari seminggu untuk membersihkan rumah.
Mereka menjamu seolah-olah kami ini adalah pejabat penting. Hanya ada tertawa. Padahal mereka baru saja terkena musibah. Ini baru satu cerita yang kudengar dan kulihat langsung.
Kesederhanaan dan ketulusan, itu saja yang kami rasakan.
Cerita lain yang kudengar tentang keluarga ini yang membuatku hampir tidak percaya adalah ketika suatu hari mendekati hari raya Idul Qurban terjadi musibah lain. Dua ekor sapi dari jenis limousine yang telah 2 tahun mereka pelihara mati di hari yang sama. Sapi yang di Jakarta 1 ekornya bisa mencapai harga 40 juta.
Bukan keluhan yang keluar. Memang sempat membuat Ibu Tanzilah pingsan. Tapi menantunya mengambil langkah yang tak terpikirkan sama sekali: menyembelih seekor ayam dengan maksud untuk melaksanakan syukuran. Sang mertua pun bertanya apa maksudnya dan mendapat jawaban: "Rezeki dan musibah itu datangnya semua dari Allah. Kalau kebahagiaan patut disyukuri, lantas kenapa kejadian ini tidak? Allah Maha Pemberi Rezeki."
Sungguh harus banyak istighfar.
Dan sekira pukul 20.00 kami melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya. Kunjungan singkat yang sarat makna. Semoga Allah memelihara apa yang aku dapat dalam hati dan pikiran.
22 Maret 16.55
Hujan deras disertai angin kencang. Masih merasa ada yang kurang dari perjalanan ini. Walaupun sudah banyak jarak yang ditempuh. Meet with the other pilgrimate make a new window of perspective. "Cari uang ga akan ada habisnya. Beda dengan makan yang harus berhenti ketika kenyang. Uang tidak. Akan selalu kurang dan kurang. Saat kita ada diatas mungkin semua tampak indah. Tapi apakah sama ketika kita ada dibawah?" he said. His name was Ribudiono.
Do we have the same wisdom?
24 Maret 20.40
Lebih ramai makam Sunan Ampel daripada makam pahlawan. What we want to become? Keduanya berkontribusi kepada masyarakat. Namun punya hasil kelanjutan yang berbeda. Secara keduniawian, mungkin pahlawan mempunyai "kepastian" kedudukan mereka secara kenegaraan. Namun secara spiritualitas kemasyarakatan, sunan lebih mempunyai hasil yang lebih nyata hingga sekarang.
Setidaknya untuk kalangan masyarakat tradisional. Pahlawan nasional mungkin mereka yang mendo'akan juga banyak, tapi apakah sebanyak sunan? Mana yang dicari? Keberlanjutan akhirat?
Ada pemandangan menarik disini yang kulihat. Ini malam minggu, kan? Dan aku menemukan sesuatu yang baru. A new sight. Apa yang ada di pikiran pacar yang gelisah menunggu kekasih baca tahlil dan ratib? Mungkin "Ga asik nih" atau "Ngapain sih gw ada disini sama blekok satu ini? Ini kan malem minggu?"
Well, anything could possibly happen. Tapi masih merupakan pemandangan yang menarik. Kalo pacar kompak baca tahlil dan ratib? That's great! Tapi yang manapun tetap punya persamaan: mojok.
Doakan Orang lain dulu, insyaAllah doamu akan dipercepat. Itu kata Arifin Ilham. Dan dalam salah satu obrolan dengan sesama peziarah ada yang mengatakan "Sampean yo dungo'no aku ben dungo ne sampean makbul."
Pemandangan unik lainnya adalah datangnya 3 orang laki-laki dengan tampang metal rambut gondrong jaket rocker yang duduk khusyu tawaddu bertadarus dan berdzikir serius hingga kutinggalkan mereka. Yeah!
26 Maret 16.26
Last day. Surabaya, Jl Arjuna 15-17. Pool bus Kramat Djati. Dapat kursi baris kedua. Let's the home journey begin.
The End
Saturday, March 3, 2012
Kultwit Sudjiwo Tedjo Tentang Anak
Disini saya akan menyalin seutuhnya apa yang dituliskan oleh Dalang Sudjiwo Tedjo mengenai anak:
1. Pak SBY, saya akan kultwit tentang #anak, yg saya tujukan kepada Bapak,kepada #Jancukers, dan terutama kepada saya sendiri
2. Yg membuat Prabu Duryudana kehilangan wibawa adalah perilaku #anak nya sendiri, Lesmana Mandrakumara
3. Penonton wayang sudah tahu, Lesmana Mandrakumara #anak Raja Duryudana itu penampilannya kayak org bengong, manja, tapi berkuasa
4. Tak harus #anak yg berpenampilan bengong spt Lesmana Mandrakumara yg bisa merongrong kewibawaan Ayah.Contohnya Samba,anak Kresna
6. Saking dimanjanya oleh Kresna, Samba juga dibiarkan "mengganggu" istri Kakaknya, Dewi Hagnyanawati #anak
7. Tapi di ujung hayatnya, Kresna mendapati rakyatnya punah karena kelakuan #anak nya sendiri, Raden Samba
8. Kembali ke Prabu Duryudana, mungkin ia bisa tega terhadap #anak nya..Tapi istrinya, Banuwati, sayang banget terhadap anak itu
9. Banuwati bisa pingsan, bakan sakit, jika diperkirakan sebuah kasus akan melanda #anak nya, Lesmana Mandrakumara
10. Maka setiap ingat perlakuan khusus dan pemanjaan Duryudana dan Kresna terhadap #anak nya, saya selalu teringat Nabi Nuh dan Ibrahim
11. Kiyai2 saya dulu sering cerita, demi tegaknya hukum Nuh membiarkan #anak kesayangannya tenggelam di luar perahu
12. Demi panggilan Tuhan (berarti demi tegaknya hukum juga sekaitan), Ibrahim tega (akan) menyembelih #anak nya sendiri
Di nomer 13 rangkaian twit #anak yg saya tulis dgn merinding n berkaca2 ini saya akhiri.Salam hormat.Terima kasih atas perhatian semuanya
1. Pak SBY, saya akan kultwit tentang #anak, yg saya tujukan kepada Bapak,kepada #Jancukers, dan terutama kepada saya sendiri
2. Yg membuat Prabu Duryudana kehilangan wibawa adalah perilaku #anak nya sendiri, Lesmana Mandrakumara
3. Penonton wayang sudah tahu, Lesmana Mandrakumara #anak Raja Duryudana itu penampilannya kayak org bengong, manja, tapi berkuasa
4. Tak harus #anak yg berpenampilan bengong spt Lesmana Mandrakumara yg bisa merongrong kewibawaan Ayah.Contohnya Samba,anak Kresna
6. Saking dimanjanya oleh Kresna, Samba juga dibiarkan "mengganggu" istri Kakaknya, Dewi Hagnyanawati #anak
7. Tapi di ujung hayatnya, Kresna mendapati rakyatnya punah karena kelakuan #anak nya sendiri, Raden Samba
8. Kembali ke Prabu Duryudana, mungkin ia bisa tega terhadap #anak nya..Tapi istrinya, Banuwati, sayang banget terhadap anak itu
9. Banuwati bisa pingsan, bakan sakit, jika diperkirakan sebuah kasus akan melanda #anak nya, Lesmana Mandrakumara
10. Maka setiap ingat perlakuan khusus dan pemanjaan Duryudana dan Kresna terhadap #anak nya, saya selalu teringat Nabi Nuh dan Ibrahim
11. Kiyai2 saya dulu sering cerita, demi tegaknya hukum Nuh membiarkan #anak kesayangannya tenggelam di luar perahu
12. Demi panggilan Tuhan (berarti demi tegaknya hukum juga sekaitan), Ibrahim tega (akan) menyembelih #anak nya sendiri
Di nomer 13 rangkaian twit #anak yg saya tulis dgn merinding n berkaca2 ini saya akhiri.Salam hormat.Terima kasih atas perhatian semuanya
Tuesday, February 28, 2012
catatan perjalanan : museum bahari
hari ini secara ga sengaja mampir ke museum bahari karna anter nyokap belanja.
menyedihkan
itu kesan pertama yang didapat pada saat pertama kali masuk. museum yang terleltak persis di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa ini semakin merana. bukan cuma karna usia yang tua - dibangun tahun 1800an kalo ga salah sebagai gudang rempah VOC - tapi juga karna terlalu sering terendam banjir rob. turunnya muka tanah, terutama untuk wilayah jakarta utara, juga karna naiknya muka laut.
sempat mengamati salah satu tiang yang dibiarkan terlihat dasarnya, ternyata lantai museum telah ditinggikan setidaknya 0,5 meter dari aslinya. dan itu pun masih tetap terendam rob karna lantai dan pelataran museum ternyata lebih rendah dari lingkungan sekitarnya. bahkan dari jalan Lodan raya museum lebih rendah kurang lebih 1 meter.
mengamati bangunan gudang lainnya yang berada di luar kawasan museum, kondisinya tidak lebih baik. melihat dari lantai teratas melalui jendela, ada 3 bangunan -sekira- seusia museum diluar pagar yang tinggal dikelilingi air, yang saya percaya itu air laut.
jadi teringat sebuah kondisi yang dipertanyakan dalam artikel yang pernah saya baca. Indonesia adalah bangsa yang besar, yang sayangnya, belum bisa merawat sejarahnya. bisakah kita menemukan bangunan kejayaan masa lalu yang masih berdiri tegak tanpa terkooptasi kepadatan? yang tersisa dan masih terawat hingga saat ini hanyalah Keraton Kesultanan Yogyakarta. adakah yang lebih tua dari itu dan masih utuh?
menyedihkan
itu kesan pertama yang didapat pada saat pertama kali masuk. museum yang terleltak persis di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa ini semakin merana. bukan cuma karna usia yang tua - dibangun tahun 1800an kalo ga salah sebagai gudang rempah VOC - tapi juga karna terlalu sering terendam banjir rob. turunnya muka tanah, terutama untuk wilayah jakarta utara, juga karna naiknya muka laut.
sempat mengamati salah satu tiang yang dibiarkan terlihat dasarnya, ternyata lantai museum telah ditinggikan setidaknya 0,5 meter dari aslinya. dan itu pun masih tetap terendam rob karna lantai dan pelataran museum ternyata lebih rendah dari lingkungan sekitarnya. bahkan dari jalan Lodan raya museum lebih rendah kurang lebih 1 meter.
mengamati bangunan gudang lainnya yang berada di luar kawasan museum, kondisinya tidak lebih baik. melihat dari lantai teratas melalui jendela, ada 3 bangunan -sekira- seusia museum diluar pagar yang tinggal dikelilingi air, yang saya percaya itu air laut.
jadi teringat sebuah kondisi yang dipertanyakan dalam artikel yang pernah saya baca. Indonesia adalah bangsa yang besar, yang sayangnya, belum bisa merawat sejarahnya. bisakah kita menemukan bangunan kejayaan masa lalu yang masih berdiri tegak tanpa terkooptasi kepadatan? yang tersisa dan masih terawat hingga saat ini hanyalah Keraton Kesultanan Yogyakarta. adakah yang lebih tua dari itu dan masih utuh?
Monday, August 15, 2011
racauan racauan
berpikir dan berpikir tanpa pelaksanaan sama juga nihil.
melihat dan merasakan lantas membandingkan EYD yang terakhir dengan sebelumnya: terasa aneh. ada banyak kata serapan yang kemudian menjadi aneh karena perubahan penyerapan. kebijakan penghilangan tanda petik pada kata serapan, terutama yang asalnya dari bahasa arab menjadi terasa berubah makna walaupun menurut penjelasan dari dewan bahasa tidak ada perubahan bunyi. tapi, yang namanya masyarakat awam, penyebutan mereka ya sesuai penulisan. yang paling terasa: jumat dan tajil. jumat asalnya, jum'at; ini karena menandakan hari dimana laki-laki muslim diwajibkan untuk sholat bersama-sama di masjid. berasal dari kata jama'ah. secara fakta dan umum orang akan tetap menyebutkan jumat bukan jum'at. lantas tajil; asalnya dari kata ta'jil yang artinya hidangan pembuka puasa. akibat dari kebijakan ini, maka kata ini menjadi tajil dan dibaca tajil, bukan ta'jil.
bukan mau bersikap rasis, tetapi menilik siapa-siapa yang berada dalam dewan bahasa sekarang ini sebagian besar merupakan non-muslim yang mana (mungkin) kurang mengerti pelafalan bahasa. terutama awam, bahkan yang muslim sekalipun, tidak tahu bahwa sedikit saja pelafalan bunyi berbeda menjadikan arti yang juga berbeda. seperti halnya dalam Bahasa Indonesia sendiri, dimana antara apel yang bermakna buah berbeda arti sangat jauh dengan apel yang berarti upacara. bahkan dalam bahasa mandarin, perbedaan penekanan bunyi, membuat arti yang bisa berakibat fatal (ini kata kolega saya dulu yang asli orang mandarin). *meh, sok tahu-nya nongol deh*
sambung lagi ntar edisi berikutnya!
melihat dan merasakan lantas membandingkan EYD yang terakhir dengan sebelumnya: terasa aneh. ada banyak kata serapan yang kemudian menjadi aneh karena perubahan penyerapan. kebijakan penghilangan tanda petik pada kata serapan, terutama yang asalnya dari bahasa arab menjadi terasa berubah makna walaupun menurut penjelasan dari dewan bahasa tidak ada perubahan bunyi. tapi, yang namanya masyarakat awam, penyebutan mereka ya sesuai penulisan. yang paling terasa: jumat dan tajil. jumat asalnya, jum'at; ini karena menandakan hari dimana laki-laki muslim diwajibkan untuk sholat bersama-sama di masjid. berasal dari kata jama'ah. secara fakta dan umum orang akan tetap menyebutkan jumat bukan jum'at. lantas tajil; asalnya dari kata ta'jil yang artinya hidangan pembuka puasa. akibat dari kebijakan ini, maka kata ini menjadi tajil dan dibaca tajil, bukan ta'jil.
bukan mau bersikap rasis, tetapi menilik siapa-siapa yang berada dalam dewan bahasa sekarang ini sebagian besar merupakan non-muslim yang mana (mungkin) kurang mengerti pelafalan bahasa. terutama awam, bahkan yang muslim sekalipun, tidak tahu bahwa sedikit saja pelafalan bunyi berbeda menjadikan arti yang juga berbeda. seperti halnya dalam Bahasa Indonesia sendiri, dimana antara apel yang bermakna buah berbeda arti sangat jauh dengan apel yang berarti upacara. bahkan dalam bahasa mandarin, perbedaan penekanan bunyi, membuat arti yang bisa berakibat fatal (ini kata kolega saya dulu yang asli orang mandarin). *meh, sok tahu-nya nongol deh*
sambung lagi ntar edisi berikutnya!
Subscribe to:
Posts (Atom)